Chapter 326 - Menyerahkan diri (2/2)

”Terimakasih atas pujiannya bu, aku sangat tersanjung atas pujian ibu itu. Hahahaha” ia tertawa geli mendengar ucapan ibu Emi padanya.

”Aku terima tawaranmu, tapi bebaskan adikku.” Tegas Emi setelah terdiam beberapa saat. Tak ada pilihan lain lagi yang bisa ia lakukan sebelum adiknya sampai pada bos mereka.

”Tidak! Emi, kau tak perlu melakukan hal itu. Ibu bisa mencari uang untuk membebaskan adikmu.” Bentak ibunya tak ingin Emi menerima tawaran mereka.

”Tapi bu, dimana lagi ibu akan mencari uang? Kita tak bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu satu jam.” Jawab Emi beralih melihat ke arah ibunya.

”Bukankah kau bilang kau memiliki teman-teman yang baik hati? Kenapa kau tak melakukan pinjaman saja kepada mereka? Oh iya, ada teman mu yang waktu itu kan?” ibu Emi mengingat Alisya yang pernah menyelamatkan mereka juga saat dalam keadaan kritis. Suara ibu Emi sangat besar dan lantang membuat tetangga mereka keluar karenanya.

”Sussttt… ibu ingin semua orang melihat apa yang terjadi?” ucap Emi menenangkan ibunya.

Meski tetangga mereka melihat Emi dan ibunya dalam kesulitan, namun begitu melihat wajah Mus mereka langsung kembali masuk karena tak ingin terlibat dalam urusan mereka.

”Mereka memang teman-teman terbaikku bu, tapi aku tak bisa terus-terusan bergantung pada mereka. Selain itu kita juga sudah banyak mendapatkan bantuan darinya. Kali ini biar Emi selesaikan sendiri.” Terang Emi sudah membulatkan tekadnya.

”Apa yang bisa dilakukan oleh anak SMA seperti kamu? Tinggal sebulan lagi kamu akan melaksanakan ujian, bagaimana bisa kamu melepas semua itu?” ibu Emi berusaha membujuk emi agar tak mengikuti tawaran kotor dari Mus.

”Aku tau bu, tapi meski begitu kita tak bisa membayar SPP itu kan? Sama saja aku tak mengikuti ujian itu lagi. Lagi pula saat ini yang lebih penting adalah menyelamatkan Hanin terlebih dahulu.” Ucap Emi mengingatkan akan keselamatan adiknya yang saat ini berada di tanganya.

”Tapi nak…” ibu Emi masih belum menerima keputusan Emi namun Emi sudah membulatkan tekadnya.

”Aku akan ikut bersama kalian, sekarang kau harus melepaskan adikku terlebih dahulu!” Emi langsung berbalik badan menatap Mus dengan tajam.

”Tentu saja sayang.” Ucapnya dengan tersenyum licik.

”Bawa anak itu ke Gedung tertinggal, biar aku yang akan mengurus apa yang harus dikatakan pada Bos!” ucap Mus sembari menatap Emi sudah tak sabar lagi.

”Bang, bagaimana dengan utang mereka?” tanya seorang yang berada di belakang Mus.

”Kita bisa memikirkan itu nanti ketika dia sudah melaksanakan tugasnya dengan baik!” tatap Mus kepada Emi sembari mengusap lembut pipinya.

”Bukankah aku menyuruh kalian untuk melepasnya? Kenapa kau malah membawanya ke tempat lain?” tanya Emi tak setuju dengan cara mereka.

”Tentu saja kami akan melepaskannya, kenapa kau tak langsung menjemputnya saja untuk memastikan keadaanya?” Mus terlihat sedang memainkan tipu muslihatnya yang membuat Emi tak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang di katakan Mus.

”Tidak,, tidak Emi. Jangan, lepaskan anakku!!!” bentak ibu Emi berusaha menlepaskan anaknya yang sudah dibawa masuk kedalam mobil.

”Ibu jangan khawatir, aku akan membawa pulang Hani secepatnya. Ibu masuklah kedalam rumah.” Teriak Emi dari dalam mobil.