Chapter 325 - Ingin Makan Panas dan Minum Dingin (2/2)

”Kenapa dia terburu-buru seperti itu?” padahal aku bisa mengantarkannya pulang.” Gani terus menatap Emi hingga ia menghilang dari sana.

”Melihatmu menatapnya seperti itu, aku yakin kau juga merasakan hal yang sama denganku” ucap Alisya melihat Karin yang menatap curiga kepada Emi.

”Jadi benar? Kamu juga merasakan ada hal yang aneh dengan sikap Emi?” tanya Karin kepada Alisya tak menyangka kalau apa yang ia pikirkan adalah suatu kebenaran.

”Aku juga belum tahu pasti, tapi sepertinya ia sedang menyembunyikan sesuatu dari kita.” Alisya menatap Karin dengan tatapan takjub. Mungkin karena paparan energi nano atau karena hal lainnya namun sepertinya insting Karin jadi meningkat tajam karenanya.

”Apa yang harus kita lakukan?” tanya Karin meminta saran dari Alisya.

”Aku rasa kalian sudah tau apa yang harus kita lakukan.” Ucap Adith yang sudah berdiri tepat di samping mereka berdua.

”Kenapa? Apa yang kalian tunggu lagi?” tambah Zein yang datang bersama dengan Ryu dan Riyan.

”Nona..” panggil Ryu dengan senyuman yang mendukung setiap pilihan Alisya.

”Ada apa? Kenapa kalian terlihat begitu semangat?” tanya Beni yang bingung melihat reaksi mereka semua.

”Sepertinya aka nada sesuatu yang terjadi lagi saat ini.” Seru Aurelia menepuk jidatnya pelan.

”Entah kenapa aku selalu suka terlibat dalam setiap rencana mereka.” Terang Rinto merasa antusias dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Adith dan yang lainnya.

”Mas! Mie Ayam 3, Bakso 3, Nasi Goreng 4, Es jeruk 9 dan teh panasnya 3 terus ayam lalapannya 3 tambah soto ayamnya juga 3 yah pak.” Ucap Gani memesan semua menu itu tanpa menanyakannya terlebih dahulu kepada teman-temannya yang lain.

”Dan akan ada satu orang bodoh seperti dirinya yang sangat perduli terhadap isi perutnya saat ini.” Tatap Aurelia kepada Gani yang sudah duduk dengan nyaman memesan semua makanan pada pelayan warung makan.

”Apa yang kalian lakukan disana? Kalian bukannya ingin makan?” Panggil Gani dengan ekspresi polosnya.

Alisya dan Karin hanya bisa tertawa melihat Gani yang terlihat sekali sedang kepalaran dan berusaha menelan liurnya memikirkan makanan yang sudah ia pesan.

”Maaf mas, sepertinya kami tidak jadi makan. Mendadak ada yang harus kami lakukan.” Gina langsung meminta maaf kepada mas yang sedang mencatat menu makanan yang sudah di pesan oleh Gani.

”Loh kenapa? Aku sudah sangat lapar. Apa lagi yang akan kita lakukan?” tanya Gani dengan tatapan memelas ke arah kakaknya.

”Sudahlah, Ayo ikut. Kita harus mengejar Emi sebelum terlambat.” Gina langsung menarik Gani dari tempat duduknya.

”Tapi aku mau makan kak!” seru Gani sekali lagi dengan perutnya yang berbunyi dengan keras.

”Diamlah!” Gina langsung menutup mulut Gani yang terus meracau ingin makan.

”Maaf mas, kami akan datang lain kali yah!” seru Alisya menunduk meminta maaf kepada Mas pelayan warung tersebut.

”Iya dek tidak apa-apa.!” Ucap sang pelayan dengan senyuman yang ramah.

Mereka memutuskan untuk mengikuti Emi untuk memastikan apa yang sedang terjadi padanya meski perut mereka sudah cukup lapar.