Chapter 269 - Jurus Pengendalian (2/2)
”Apa semua ini terinspirasi dari Arka?” Alisya tersenyum mengingat bagaimana Arka yang masih SMA sudah bertunangan dengan Yumna dan berencana untuk menikah setelah lulus nanti.
”aaahh.. umm, bisa dibilang seperti itu. Tapi di atas semua itu, karena aku ingin memilikimu dengan cara yang halal. Jadi, apakah kamu mau menikah denganku?” tanya Adith sekali lagi setelah menghela nafas dengan kuat.
Alisya yang terdiam cukup lama membuat Adith menjadi gundah dan tak berani menatap Alisya. Ia membalikkan badannya mendekati pinggir pagar melayangkan jauh pandangannya ke langit malam kota Jakarta.
”Maaf Adith... tapi Aku,,,” suara Alisya yang penuh akan keraguan semakin membuat Adith menjadi gusar dan takut.
Adith paham bahwa Alisya mungkin tak ingin masa mudanya di ambil begitu saja. Memang terlalu cepat bagi mereka untuk menikah dan itu mungkin akan membuat Alisya merasa masa depannya akan terhalangi karena pernikahannya dengan Adith.
”Aku tau, sulit bagimu untuk mengambil keputusan ini. Kau bisa tak menjawab ku sekarang, aku akan menunggu jawabanmu sampai kapanpun kamu siap.” Adith membalikkan tubuhnya menghadap Alisya dengan tersenyum manis. Ia mencoba untuk terlihat tegar dihadapan Alisya namun Alisya bisa mendengar kesedihan dari detakkan jantung Adith.
”Tapi aku juga merasakan hal yang sama denganmu, rasanya setiap kali bersamamu aku terus saja kehilangan logikaku. Kau membuatku ingin terus menangkap mu dan memerangkap mu kedalam pelukan ku. Aku...” Adith langsung menarik tangan Alisya dan memegang kepalanya di bagian belakang ingin mencium bibirnya namun dengan cepat dihalangi oleh Alisya.
”Kau harus mengendalikan dirimu dulu sampai kita benar-benar halal. Jika tidak akan sia-sia saja semua pengendalian yang sudah kau tanamkan selama ini. Setidaknya dengan begitu kita bisa saling menjaga satu sama lainnya.” ucap Alisya lembut kepada Adith dengan menjauhkan wajahnya.
”huuhhh,, kau akan mendapatkan hukuman mu nantinya karena kau sudah membuatku seperti ini. Tapi baiklah, aku akan berjanji padamu sampai saatnya nanti.” Adith tersenyum nakal saat mengatakan hal tersebut dihadapan Alisya.
Alisya kembali memukul dada Adith dengan sangat kuat membuat Adith harus meringis karena sakit karena pukulan Alisya yang mendarat cukup kuat di dadanya. Alisya hanya membuang muka dengan cuek karena kesal Adith selalu saja menggodanya.
Alisya langsung berjalan pergi meninggalkan Adith disana dan melihat bangkuk taman yang cukup panjang tak jauh dari sana. Ia terdiam sebentar namun kemudian kembali kepada Adith dan menarik tangannya dengan lembut. Adith tertawa pelan melihat tingkah Alisya seperti itu.
”Baring lah dulu sebentar disini, aku akan menjagamu saat kau sedang tertidur. Setidaknya kau butuh istirahat setelah semua pekerjaan yang sudah kau lakukan. Aku akan melihat lihat pemandangan malam dulu.” Alisya yang ingin pergi langsung di tarik oleh Adith.
Adith membuat Alisya terduduk di kursi pada bagian ujung lalu dengan cepat Adith berbaring diatas pangkuannya memeluk pinggang Alisya dengan erat dan menenggelamkan kepalanya di perut Alisya.
”Adith, kau kan sudah berjanji untuk...” Alisya berontak dan protes langsung dihentikan oleh Adith dengan lembut.
”Setidaknya untuk malam ini biarkan aku melakukan ini saja padamu. Aku takkan bisa tertidur jika kau tak berada disisi ku.” ucap Adith dengan suara lembutnya
Mendengar itu, Alisya pasrah dan membiarkan Adith untuk bisa terlelap dengan nyaman selama satu jam. Alisya membelai lembut rambut Adith yang lebat dan halus sembari memperhatikan wajah Adith lekat-lekat.
Alisya tak bisa berhenti mengagumi setiap inci dari wajah Adith yang selalu membuatnya terpesona setiap saat.
”Apa tahi lalat ini dari awal sudah ada disini? Kenapa aku tak pernah menyadarinya?” Alisya mengelus lembut tahi lalat Adith yang berada di dekat matanya.
”Jika kau memandangku seperti itu terus, kau malah akan meruntuhkan pertahanan ku dengan mudah.” jelas Adith tersadar dari tidurnya karena sentuhan tangan Alisya yang semakin membeku karena udara ditempat itu semakin dingin.
”Ka... kau sudah bangun?” Alisya seketika menjadi gugup dan salah tingkah bingung juga tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Adith langsung terbangun dan melihat jam tangannya dengan sedikit menggosok matanya yang masih ia rasakan kantuk yang cukup berat.
”Sudah jam 2 malam, sepertinya aku tertidur cukup lama. Berdirilah, aku harus mengantar pulang anak orang. Jika terlalu lama aku membawamu, mereka akan mencari ku dan membunuhku. Aku takkan bisa melawan geng Yakuza dan pasukan khusus ayahmu!” Adith segera menarik tangan Alisya pergi dari sana.