Chapter 268 - Masuklah (2/2)

****

”Halo?” Alisya yang baru saja berganti pakaian dengan baju tidur setelah selesai mandi tiba-tiba mendapat telpon dari Adith. Melihat alat peredamnya yang berkedip-kedip dengan cepat Alisya mengambilnya dan memasangnya ke telinganya.

”Turunlah.. Aku ada di depan rumahmu!” ajak Adith kepada Alisya yang sedang berada di lantai 2 kamarnya. Alisya dengan cepat membuka tirai kamarnya untuk melihat Adith.

”hhhhh??? Bagaimana bisa dia berada disini di jam segini?”ucapnya kaget. Alisya yang baru pulang dari rumah Adith yang sudah agak larut itu melirik jam tangannya dengan kaget. Saat itu sudah menunjukkan pukul 11.30 malam.

”Masuklah…” Adith membukakan pintu mobil kepada Alisya. ”Sebentar…” tambahnya lagi dengan cepat membukakan baju Jasnya untuk dipasangkan kepada Alisya yang masih memakai baju tidur karena turun dengan terburu-buru.

”Kau mau membawaku kemana?” Alisya bertanya dengan tubuh yang sudah didorong masuk kedalam mobil. Adith yang tidak mendengarkannya hanya membawanya masuk kedalam mobil dengan melindungi kepala Alisya agar tidak terbentur pintu mobil.

Dia dengan cepat beralih ke kursi kemudi untuk menjalankan mobilnya membelah jalan raya yang masih tampak ramai meski sudah agak larut tersebut. Adith sengaja menurunkan jendelanya sedikit agar Alisya tidak begitu merasakan mabuk kendaraan karena ia tidak bisa membuka kap mobilnya lebar-lebar pada malam hari yang sudah mulai tampak berkabut dan dingin tersebut.

Alisya mengeluarkan kepalanya untuk bisa merasakan angina segar malam itu dan agar ia tidak terlalu merasakan mabuk kendaraan. Harum tubuh Alisya yang baru saja selesai mandi membuat Adith cukup terganggu konsentrasinya.

”Kenapa kau mandi di jam segini?” dia yang sedari tadi terdiam sambil terus mengemudikan mobil akhirnya tak tahan untuk bertanya. Dia sengaja berbicara untuk mengusir pikirannya yang mulai tak terkendali.

”Ah… itu, karena aku baru saja pulang dari rumah ibumu.” Terang Alisya yang kembali memasukkan kepalanya kedalam mobil.

”Hmmm… Mama pasti sangat senang saat kau datang mengunjugninya.” Adith tersenyum mengingat bagaimana reaksi heboh ibunya saat Alisya datang mengunjunginya.

”Iya, dia jadi tidak merasa bosan karena aku juga menajak Ryu dan Akiko kesana. Tapi,,, kita mau kemana Dith?” tanya Alisya masih takt ahu arah jalan yang sedang di tuju oleh Adith.

”Ke suatu tempat, kamu akan tahu jika kita sudah berada disana.” Terang Adith sembari mempercepat laju kendaraanya.

15 menit kemudian, mereka akhirnya tiba disuatu taman yang situasinya terlihat remang-remang. Alisya langsung keluar menghambur dengan kepala yang sudah mulai oleh dan mual.

”Jika kau mengendarai mobil lebih lama lagi, aku akan menumpahkan semua isi perutku disini.” Alisya melenguh pelan saat semua isi perutnya sudah semakin tak terkendali karena perasaan mabuknya.

”Kemarilah, biar aku membuatmu nyaman.” Adith langsung menariknya dengan lembut membawanya ke suatu tempat yang tak jauh dari dinding pagar yang mampak tidak begitu tinggi. Semakin mendekat Alisya semakin bisa melihat cahaya yang cukup terang dari balik dinding pagar tersebut.

”Hahhhh??? Ini dimana? Aku tak tahu kalau Jakarta bisa memiliki tempat seindah ini.” Alisya langsung beralri kecil menghampiri dinding pagar yang tingginya hanya mencapai bagian perutnya.

Dari balik dinding itu, Alisya bisa melihat pemandangan langit malam Jakarta yang dihiasi oleh banyak lampu-lampu jalanan serta perumahan yang cukup indah, berkeliap-kelip dan bersinar terang. Alisya yang sangat menyukai cahaya dari lampu-lampu itu menatap takjub dengan mulut yang menganga sambil melompat-lompat dengan penuh kegirangan.