Chapter 184 - Memahami Wanita PMS (2/2)

”Kamu bilang hanya??? kau tidak tau bagaimana sulitnya jadi perempuan kau bilang hanya???” Adora meradang akibat kalimat Gani yang dirasa tidak menghormati mereka sebagai perempuan.

”Wanita memang terkenal dengan suasana hati yang lebih sensitif ketika haid. Bad mood, mudah tersinggung, gampang marah, sampai tiba-tiba sedih dan ingin menangis tanpa sebab yang jelas. Sebagian besar wanita setidaknya mengalami satu gejala premenstrual syndrome (PMS) secara rutin.” Terang Zein memukul pundak Gani pelan untuk membuatnya paham tentang situasi wanita.

Mereka berbicara sembari berjalan menjauhi area kantor kepala sekolah agar bisa berbicara dengan nyaman. Melihat tanda dari Zein untuk mengikutinya membuat mereka dengan patuh mengikuti sedang Adith dan Riyan tersenyum melihat Zein yang telah berubah cukup drastis dari sebelumnya yang begitu cuek dan dingin terhadap orang lain.

”Ada beberapa alasan yang membuat perempuan itu gampang marah dan emosian contohnya seperti Perubahan Hormon.

Pada saat haid, proses ovulasi mengakibatkan turunnya hormon estrogen yang memiliki peran penting dalam proses reproduksi wanita. Di sisi lain, hormon progesteron menjadi sangat naik sehingga menyebabkan suasana hati yang tidak menentu.” Ucap Zein sembari terus menarik Gani dari cengkraman Aurelia.

”Yang kedua Kurang Istirahat. Dampak lain turunnya hormon esterogen adalah bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dan membuat susah tidur.” tambah Yogi mendekat kearah Gani dan Zein.

”Yang ketiga, Hormon serotin yang turun. Rendahnya hormon serotin di otak mengakibatkan kita menjadi merasakan rasa depresi, mudah marah, dan tingginya keinginan untuk mengonsumsi karbohidrat.” lanjut Riyan disisi sebelah kanan Zein.

”Dan berikutnya adalah Daya tahan tubuh mereka. Ketika sedang haid, tubuh wanita tidak kuat untuk menahan rasa sakit yang mereka rasakan karena daya tahan tubuh menurun. Perjuangan melawan rasa sakit ini juga bisa menyebabkan adanya kecenderungan menjadi lebih sensitif saat haid, misalnya gampang marah.” tambah Ryu dengan sangat sopan.

”Maka dari itu kita sebagai laki-laki harus memahami sikap mereka yang seperti itu karena mereka terlahir special.” Jelas Rinto lagi. Beni yang terdiam akhirnya manggut-manggut memahami hal tersebut sedangkan Adith hanya bisa tertawa kecil dengan tingkah mereka.

”Tak kusangka mereka bisa tahu sebanyak itu mengenai perempuan!” ucap Alisya kagum melihat opini mereka terhadap perempuan.

”Hanya sebagian dari mereka yang benar-benar tau apa artinya belajar!” Karin melihat Beni dan Gani yang tampak sedang mendapatkan pembimbingan kilat.

”Hei... Ayolah, kalian belum menjawab pertanyaan kami!” teriak Aurelia kesal.

”Jangan khawatir, kita tidak akan mendapat hukuman apapun!” ucap Alisya lembut menenangkan mereka.

”Kita malah mendapatkan tugas lain dari kepala sekolah sehingga kami sudah merencanakan sesuatu untuk membahas itu nantinya!” tambah Karin lagi dengan tersenyum simpul.

”Loh kok?? kenapa bisa ada apa?” Adora yang tak paham terus mencoba bertanya.

”Sebentar sore kita akan berkumpul ditempatku, aku akan berikan alamatnya setelah sepulang sekolah dan aku akan menjelaskan lebih lanjut mengenai apa yang akan kita lakukan disana. Untuk saat ini, kalian tak diizinkan untuk pulang sendirian atau hanya berdua saja. Kalian harus pulang secara berkelompok untuk mencegah hal-hal yang tak terduga terjadi” tegas Adith mengingatkan mereka.

Dari tatapan mereka, bisa Adora lihat kalau hal yang lebih serius saat ini sedang terjadi pada mereka yang membuat Adith sangat berhati-hati.