Chapter 476 - 476. Akhirnya aku kembali, Sayang (1/2)
”Ludius, apa itu kamu?”. Tanya Silvia dengan bibir bergetar saat mengucapkannya. Perasaan rindu yang tertahan lama membuat Silvia berdiri dan diam terpaku melihat wajah pria yang tidak asing baginya.
”Sayang aku kembali..” jawab Ludius singkat. Perlahan ia menghampiri istrinya yang masih terdiam tanpa bergeming,
”Jahat! Mengapa kamu tidak memberi kabar suamiku? Apa kmau tahu, betapa khawatirnya aku selama 2 hari ini? aku hanya takut kejadian 3 tahun silam terulang lagi hiks..” Silvia sudah tidak bisa memendam perasaan harunya, tanpa sadar bulir air mata jatuh dari kedua pelupuk matanya.
Dengan sigap Ludius memberi pelukan hangat, ia bahkan tidak melonggarkan sedikitpun dekapan tangannya. ”Maafkan aku sayang, maafkan aku karena telah membuatmu menunggu lama”. Ujar Ludius.
”Mengapa kau tega menyiksaku seperti ini suamiku? Aku benar – benar takut kejadian di masa lalu terulang kembali. Aku takut kamu melupakanku dan meninggalkanku”. Air mata Silvia mengalir membasahi pipinya.
Ludius yang melihat itu melepas pelukannya, perlahan ia mengusap air mata Sillvia dengan kedua ujung jemarinya. ”Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk ke dua kalinya. Aku janji itu, Sayang”.
”Jangan pernah tinggalkan aku lagi, suamiku. Aku tidak bisa membayangkan jika itu benar terjadi”. Silvia membalas sentuhan Ludius dengan memegang ke dua tangan Ludius. mengecupnya dengan sepenuh hati. ”Selamat datang kembali, suamiku” sambut Silvia dengan senyuman.
”Sudah, jangan sedih lagi istriku, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu”. Kata Ludius dengan senyum menyimpan rahasia, ia dengan kasih sayangnya membawa Silvia kembali dan mendudukkannya di ranjang.
”Apalagi yang kamu sembunyikan suamiku? Jangan buat penasaran dong..” keluh Silvia.
”Hmm.. tunggu sebentar Sayang” Ludius menarik tas selempang yang di pakainya. Ia mengambil sebuah barang dari dalam tas tersebut dan memberikannya pada Silvia.”Terimalah hadiah dariku, istriku. Apa kamu suka?”.
Wajah Silvia berbinar, ia tidak bisa mengungkapkan dengan kata – kata perasaan haru dan bahagianya saat ini mendapatkan sebuah kado kecil dan manis dari suaminya. ”Uhm, aku suka suamiku.. terima kasih”. Balas Silvia lirih.
Kecupan hangat dari Ludius melesat di kening Silvia ketika melihat rona merah istri tercintanya. Silvia yang telah lama tidak mendapat kecupan dari Ludius, sontak saja membuat respon kaget. Dari relung hati paling dalam, perasaannya berbunga – bunga, hatinya bagai di siram serbuk bunga yang membuat bunga itu mekar seketika.
'Ada apa dengan perasaanku ini? mengapa dadaku begitu berdebar tak karuan dan aku bahkan tidak bisa mengontrol perasaanku. Jangan bilang aku jatuh cinta lagi untuk ke sekian kalinya pada pria yang sama?' batin Silvia saling menyahut dari satu hati ke sisi lain hatinya.
Silvia yang tidak bisa mengontrol isi hatinya langsung menyerang Ludius balik dengan mencium pipi kanan Ludius. ”Anggap itu sebagai hukuman karena telah pergi dan tidak memberi kabar 2 hari terakhir!”. Ujar Silvia ketus. Ia malu setengah mati karena melakukan itu tanpa rasa malu.
Segera Silvia menyembunyikan wajahnya dari suaminya, ia tidak ingin di lihat oleh Ludius. 'Ini terlalu memaluka..!' Teriak Silvia dalam hati.
”Sayang.. mengapa kau mengalihkan pandanganmu? Bukankah tadi kamu berinisiatif untuk menciumku?”, goda Ludius.
”Tidak! Tadi itu hanya kesalahan. Bukankah sudah ku bilang itu hukuman untukmu karena pergi tanpa memberitahu!”. Kata Silvia beralasan.
Tapi mau beralasan apapun di depan Ludius, nyatanya alasan yang di buat Silvia adalah alasan konyol yang tidak mungkin bisa di percaya. ”Jadi beneran nih, kamu melakukan ini bukan karena ingin mencium atau merindukan suamimu?”, tanya Ludius dengan nada meledek.
Silvia mengalihkan pandangannya ke arah samping, pura - pura mengacuhkan Ludius, padahal sebenarnya dia itu sangat rindu pada suaminya itu. Hanya saja Silvia bingung bagaimana harus memulainya. Apalagi Ludius adalah tipe pria yang usil dan jahil seanterio jagat raya.
Mana ada suami bermuka tebal dengan kepercyaan tinggi melebihi tingginya langit seperti Ludius? Cuma Ludius yang mampu melakukan itu.