Chapter 365 - 365. "Duibuqi" bag 2 (1/2)
Sudut mata Silvia tiba-tiba basah, sepertinya alam bawah sadar Silvia mendengar apa yang Ludius ucapkan. Tangannya mulai merespon dengan menggerakkan jarinya, kelopak matanya yang basah perlahan terbuka dengan sudut wajah melihat ke arah Ludius yang masih tertunduk.
”Suamiku, mengapa kamu terlihat putus asa seperti ini? Ada apa denganmu, mana ambisi dari Ludius Lu yang Silvia kenal?.” Silvia berkata dengan suara lirih dan serak.
Ludius langsung mengangkat wajahnya begitu mendengar suara wanita yang sangat ia cintai. Dengan senyum merekah ia langsung mengecup kening Silvia kembali. ”Sayang, akhirnya kamu sadar juga. Bagaimana, bagian mana yang sakit, Sayang?.” Tanya Ludius serius sambil melihat ke bagian perut dan mengelusnya perlahan.
”Apakah perutmu masih sering sakit, Sayang? Bagaimana dengan resep obat yang di berikan oleh Linzy padamu? Kamu masih rutin meminumnya, bukan?.” Tanya Ludius selidik, ia tahu istrinya sangat tidak suka dengan berbagai obat atau vitamin yang di berikan.
Silvia hanya nyengir, melebarkan senyumnya tanpa bersuara. Tertebak sudah kalau Silvia tidak meminum rutin obat tersebut jika Ludius tidak mengawasinya ketika meminum obat dan vitaminnya. ”Kamu lupa meminumnya, atau sengaja tidak meminumnya Sayang?.” Tegur Ludius,
Ludius mensentil kening Silvia. ” Dasar istri keras kepala.” Ujar Ludius.
”Augh.. sakit suamiku.” Keluh Silvia dengan mengusap-usap keningnya sambil mensungutkan bibirnya yang ranum.
”Habisnya kamu keras kepala, makanya kalau suami bilang minum obatnya, ya di minum. Apa perlu aku cium terlebih dahulu baru kamu meminum vitaminya, Sayang?.” Ludius mulai meledek istrinya yang sedang ngambek padanya.
Spechless...
Sesaat Silvia hanya bisa mengalihkan pandangannya malu mendengar perkataan suaminya yang secara terang-terangan meledeknya dngan kata ciuman. 'Dasar tidak tahu malu! Bisa-bisanya membuat alasan memberi hukuman dengan ciuman.' Batin Silvia, tapi bagaimanapun, sudut hatinya berbunga-bunga, setidaknya suaminya masih bersikap seperti biasanya.
”Salah sendiri kamu pergi nggak bilang-bilang, kamu anggap aku apa?, jahat..!.” Silvia langsung berbalik membelakangi Ludius.
Diam-diam Silvia masih memegang perutnya dan bersikap seolah baik-baik saja. Rasa sakitnya justru semakin bertambah, perutnya bagai disayat-sayat ketika rasa itu menyerang. 'Mengapa rasa sakit ini semakin hari semakin sering saja? Apakah ini efek dari kejadian waktu itu? Aku harus diam, aku tidak ingin membuat Ludius merasa khawatir.' Batin Silvia.
”Maafkan aku Sayang, aku janji lain kali kalau pergi pasti akan memberi tahumu terlebih dahulu.” Ludius membelai surai rambut Silvia dengan tangan kiri menyelusup masuk untuk mengusap perut Silvia, tapi sepertinya di lihat dari tangan istrinya yang terus memegangi perutnya, sepertinya Silvia sedang menahan rasa sakit yang belakangan ini sering muncul.
”Sayang, katakan. Apa kamu sedang menahan sakit saat ini?.” Ludius mengusap kening Silvia yang basah penuh dengan peluh keringat yang mengucur deras.
”Ugh..” rintih Silvia, rupanya sakit itu tidak bisa ia sembunyikan dari suaminya. Ini terlalu menyakitkan bagi Silvia. Meski begitu, ia tidak bisa menyerah begitu saja terhadap janin yang ada dalam kandungannya.
Mendengar Silvia merintih kesakitan, Ludius langsung membalikkan posisi tidur Silvia menjadi terlentang. ”Sayang, jika sakit mengapa kamu diam saja?.” Ludius mengusap kembali perut Silvia.
”Aku baik-baik saja Ludius, ini hanya sakit yang biasa aku rasakan. Sebentar lagi sakitnya juga hilang.” Silvia tersenyum tipis di depan suaminya, memberitahu bahwa keadaannya baik-baik saja.
”Sayang, jangan menganggap remeh sakitmu. Maafkan aku..”