Chapter 281 - 281. Love you..! tetaplah berada di sisiku (1/2)

”Ibu Mertua.. hampir saja aku akan berkata kasar karena ku pikir ini dari Perusahaan..” gumam Ludius.

[”Iya Ibu Mertua, ada apa gerangan menelfon kami?”], tanya Ludius dengan hati-hati. Bagi Ludius tidak ada hal yang lebih menakutkan selain amarah Silvia dan ibu mertua.

[”Kau menantu tak berbakti! Sudah lama tak memberi kabar, apa kalian melupakan masih ada orang tua kalian di Indonesia?”]. terdengar suara amarah Ibu Yuliana di ujung telefon.

[”Ibu.. Maafkan kami yang jarang memberi kabar. Putri ibu dalam keadaan baik-baik saja untuk saat ini...”]. ucapan Ludius terhenti, ia tak tahu bagaimana harus mengatakan hal menyakitkan ini pada Ibu mertuanya.

[”Nak, Putri Ibu baik-baik saja untuk saat ini? Maksudnya apa Nak Ludius?”].

Terdengar Ibu Yuliana meminta ketegasan jawaban menantunya yang mengatakan hal menggantung. Ludius sendiri lantas tidak langsung menjawab ketegasan Ibu Mertuanya itu. Keraguan untuk mengatakan yang sebenarnya serta takut akan kesalahpahaman yang Ibu Yuliana tangkap nanti dengan yang ia katakan membuat Ludius akhirnya memilih untuk tidak mengatakannya sementara waktu.

[”Silvia baik-baik saja, dia hanya sedikit lemah Bu. Kebetulan kami akan menghadiri acara pernikahan rekan bisnis dan sekalian berlibur ke Pulau Jeju. Sebenarnya saya tidak ingin membawa serta Silvia karena memang kondisinya yang sedang kurang baik. Tapi dia ngotot untuk ikut. Maafkan saya tidak bisa menjaga Silvia sebaik mungkin”].

[”Ibu mengerti Nak, syukurlah kalau kalian sedang menikmati waktu kalian. Ibu menelfon karena akhir-akhir ini perasaan Ibu tidak enak dengan kondisi kalian dan terus kefikiran”].

[”Kalau begitu, apakah Ibu bisa datang ke China dan menemani Silvia selagi saya pergi untuk urusan bisnis ke Kerajaan Hardland?”]. tanya Ludius agak ragu dan malu. Pasalnya dia sudah banyak merepotkan Ibu mertuanya di saat-saat genting.

[”Boleh Nak, kebetulan Ibu sudah kangen banget dengan Putri Ibu..”].

[”Baik Bu, Mungkin 3 hari lagi ajudan saya akan menjemput Ibu. Lebih cepat lebih baik. Saya ingin memberi kejutan pada Silvia, dia pasti senang dengan kedatangan Ibu.”]

[”Baik, jaga diri kalian baik-baik. Ibu tidak ingin menggangu jadi Ibu tutup dahulu telefonnya”].

Tut... Tut... Tut...

Ludius yang sedari tadi menahan nafas mendapat telefon dari Ibu mertua, akhirnya bisa menghela nafas lega. ”Huft... syukurlah Ibu mertua tidak menanyakan lebih jauh tentang kondisi Silvia..”. gumam Ludius. Karena pembicaraannya dengan Ibu mertua membuat Ludius kehilangan fokus dan semua pekerjaanya buyar..

Laptop dan dokumen yang sedari tadi terbengkalai karena mendapat telefon dari Ibu Mertua mulai Ludius perhatikan kembali sembari menunggu waktu undangan tiba. Beberapa dokumen yang di kirimkan melalui email tidak begitu penting dan hanya ia baca sekilas.

Setelah selesai dengan beberapa file dan dokumen yang di bebankan kepadanya, Ludius menutup laptop dan menyandarkan kepalanya yang sedikit berat di sofa empuk dan mencoba memejamkan mata barang sebentar. Tapi sangat di sayangkan.. di saat ia hampir memejamkan mata, terdengar suara celetukan istrinya yang sepertinya baru saja terbangun.

”Sayang.. kita ada dimana?”. Suara lembut Silvia apalagi saat memanggil Ludius dengan kata Sayang membuatnya langsung menghampiri istrinya.