Chapter 205 - 205. Tidak akan Melepaskanmu bag 3 (2/2)

”Aku harus secepatnya ke laboratorium untuk mengecek peninggalan Kakek Zhao .” Ludius membasuh wajahnya kebelakang rambutnya, menikmati setiap air yang membasahi tubuhnya. ”Belum lagi dokumen penting Rossman Nero, apakah Longshang sudah menyelidiki Kota Jingxian tersebut?. Ada banyak hal yang masih belum aku ketahui, lebih mengkhawatirkan jika Black Emperor memiliki hubungan dengan Dark Phantom. Ini pasti akan menjadi hal yang merepotkan”.

Ludius menengadahkan wajahnya menerima derasnya sower yang mengguyur tubuhnya, seolah sesaat itu menenangkan dirinya. ”Apa aku mampu menghadapi kedua Organisasi besar sekaligus? ”. Gumam Ludius.

Beberapa waktu telah berlalu, Ludius yang masih setengah basah keluar dari kamar mandi dengan berbalut kimononya. Ia melangkah kesofa untuk mengambil kemeja serta celana yang ia pakai.

Sesekali Ludius melihat ke arah istrinya yang masih menyembunyikan diri di balik selimut tebal tersenyum. ”Istriku ini memang sangat pemalu.. ”.

Tidak berselang lama setelah Ludius memakai kemeja dan celananya, ia yang sedang menghadap ke meja cermin memakai kembali jam tangan kesayangannya. Dan tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk

TOK TOK TOK

”Tuan Lu.. Makan siang yang anda pesan telah sampai, bolehkah saya masuk?”. Panggil seseorang di luar pintu.

Ludius tidak lantas menyahut, ia melihat Silvia terlebih dahulu dan memastikan istrinya tidak membuka selimut, ”Sayang ada orang yang akan masuk, kamu tetaplah disitu ”.

”Masuklah.. ”. Serunya,

Tidak lama setelah mendengar sahutan Ludius pintu terbuka, seorang pelayan pria membawa meja dorong berisi beberapa makanan yang mungkin Longshang pesankan untuknya.

”Tuan, maaf mengganggu waktu anda. Saya membawa pesanan makan siang anda dari Sekretaris anda Tuan Longshang”. Sapa Pelayan restoran, ia mendorong meja menuju meja sofa yang berada di sudut ruangan. Di tengah langkahnya ia melihat wajah Silvia yang tengah tertidur pulas dengan selimut menutupi bagian dada dan menyisakan lehernya yang jenjang.

Si pelayan meneruskan langkahnya dan di depan meja ia mulai memindah satu persatu makanan yang ada di meja dorong. Karena si pelayan tertarik dengan Silvia yang tengah tertidur, ia dengan sengaja mengubah posisinya agar bisa melihat Silvia sambil menaruh satu persatu piring berisi makanan pesanan Ludius. Matanya yang memandang intens Silvia membuat fikirannya menjelajah jauh masuk kedalam selimut Silvia, memikirkan bagaimana tubuh dibalik selimut tebal yang menutupi tubuh Silvia.

Ludius yang sedang mengecek ponsel menyadari ada yang salah dengan pelayan itu langsung naik pitam. ”Keluar!! ”. Perintah Ludius tanpa memberikan penjelasan.

”Tap.. Tapi Tuan.. ”. Kata pelayan dengan gagap melihat sorot mata mematikan Ludius.

”Apa kau tidak dengar !! aku memintamu KELUAR!!”. Gertak Ludius mengulang perkataannya, ia menatap tajam pelayan yang tidak mengindahkan peringatan darinya.

Si pelayan berdiri terpaku dengan seluruh badan gemetar dan gugup. Ia tidak menyangka Ludius akan memergoki kenakalan matanya meskipun Ludius tidak terlihat memperhatikannya. ”Tuan janganlah terpancing emosi. Baik Tuanku, saya akan keluar”. Jawabnya, ia beranjak dan mundur dengan wajah menunduk tanpa berani melihat sorot mata Ludius lalu pergi berlalu dari depan Silvia.