Chapter 184 - 184. Penjaga Arogan, Memancing Amarah Ludius (2/2)

”Untuk apa kau memberikanku senjata api ini?”. Pertanyaan polos yang Julian ajukan sebenarnya cukup logis, tapi..

”Pertarungan dalam dunia mafia tidaklah semudah itu. Aku memang naif dalam hal wanita, tapi tidak untuk sebuah pertarungan. Dulu mungkin aku akan menghabisi lawan yang menghalangi langkahku, tapi demi Silvia aku masih bisa menahan peluru ini untuk tidak membunuh mereka”. Kata Ludius dingin.

Julian yang melihat tatapan serta aura dingin membunuh Ludius membuatnya semakin sadar bahwa Ludius memiliki dunianya sendiri. Dunia dimana Silvia tidak akan bisa menjangkaunya sampai kapanpun.

Selagi masih ada lawan dan musuh yang mengelilingi Ludius, besar kemungkinan untuknya menikmati kehidupan damai bersama Silvia akan sangat sulit. Namun impian mereka untuk hidup bersama dengan damai sangatlah besar hingga suatu saat pasti akan ada masanya dimana tidak ada yang harus terluka atau melukai.

Julian menerima pistol dari Ludius meski ia bingung apakah ia mampu melepas pelatuk pada orang yang ada didepannya.

Ludius dan Julian keluar dari mobil bersama. Mereka berjalan hingga sampai di sebuah Villa yang terdapat begitu banyak penjaga.

”Berhenti..!”. Tegur beberapa penjaga Villa melihat Ludius dan Julian berjalan masuk begitu saja.

Ludius masih tidak mengindahkan teguran penjaga Villa. Ia berjalan dengan santai memasuki Villa dengan mata terus mengamati keadaan sekitar.

”Sudah kukatakan berhenti! Apa kau ingin menyerahkan nyawamu pada Boss kami?”.

Ludius menghentikan langkahnya, ia berbalik arah melihat kebelakang. ”Kalau begitu, katakan pada Bossmu kembalikan wanita yang ada di tangannya sekarang juga!”. Gertak Ludius ia masih menyimpan pistol tersebut sebelum mengeluarkannya.

”Oh.. Jadi kau pria yang disebut kekasih oleh teman kami yang membawa wanita itu, tidak buruk..!”. Ujar penjaga

Julian yang ada disamping Ludius menepuk kasar bahu Ludius hingga membuatnya meringis perih. ”Kau beruntung sekali Ludius..! Aku yang mengejar Nona Shu tapi kau yang mendapat pujian bahkan dari musuh. Sepertinya keberuntungan cintamu boleh juga”. Julian berbicara dengan senyum paksanya, tidak enak juga mendengar orang lain yang mendapat pujian!!

”Leluconmu boleh juga. Kau menyidirku seperti ini jangan bilang kau cemburu!”. Sindir Ludius balik.

Hanya selisih beberapa menit dari Julian dan Ludius masuk ke depan Villa, dari dalam sudah keluar sekitar 10 orang musuh dengan senjata laras panjang di tangan mereka. Dengan sigapnya mereka mengelilingi Ludius dan Julian serta mengarahkan senjata kearah mereka.

”Kalian mengeluarkan semua anggota bersenjata lengkap tidakkah ini terlalu berlebihan?”. Tanya Ludius santai dengan nada tinggi. Tangan kanannya ia masukkan kedalam saku memegang pistol sembari bersiap-siap menembak jika keadaan semakin genting.

”Hahaha… Kau pasti takutkan melihat kami semua memegang senjata, tapi sudah terlambat untuk kalian lari dan meminta pengampunan!!”.

Penjaga Villa yang berbicara angkuh didepan Ludius sepertinya belum mengetahui siapa Ludius sebenarnya. Ia menertawakan keadaan Ludius yang terlihat sudah dikepung oleh anak buah bossnya berfikir Ludius akan tunduk layaknya budak tak bertuan. Tapi.. Permainan baru saja akan di mulai!!