Chapter 131 - 131. Petikan Guzheng Pria Tampan (1/2)

Setelah acara sungkeman berlalu Pengantin beranjak dari pelaminan untuk berganti pakaian. Pakaian yang di pakai Ludius setelah ini adalah pakaian adat jawa yang dulunya di pakai oleh Raja Kerajaan Mataram. Yaitu kain dodot atau kain batik berwarna hitam corak batik coklat yang hanya menutupi bagian bawah dada tubuhnya di padu dengan selendang hijau tua bercorak coklat untuk memperindah penampilan. Di lengkapi dengan aksesoris di bagian lengan, telinga dan kalung serta mahkota yang terbuat dari lapisan emas membuat Ludius seperti kembali ke zaman Kerajaan Mataram. Di sisi samping mahkota terdapat rangkaian bunga melati sebagai penanda bahwa dia adalah pengantin pria. Dan keris yang sudah terdapat rangkaian bunga melati di selipkan di punggungnya.

Sedangkan Silvia memakai Kain dodot yang memiliki corak sama namun Silvia memakai rompi beludru panjang untuk menutupi tubuhnya. Hanya sedikit yang berubah dari Silvia namun hasil akhir terlihat begitu berbeda apalagi jika disandingkan dengan tubuh bidang Ludius.

”Tuan Lu.. Tubuhmu begitu terlihat. Apakah Kamu tidak merasa risih? ”. Tanya Silvia.

Jujur Silvia yang melihat tubuh bidang Ludius memakai pakaian layaknya raja pada masa Kerajaan membuat Ludius terlihat lebih gagah dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap dan memiliki dada yang bidang. Siapapun yang melihat pasti berfikiran yang sama.

”Sayang, kamu mempertanyakan ini, apakah karena takut akan banyak wanita yang terpikat karena ketampananku?. Boleh dikatakan pakaian ini cukup unik, disamping hanya memakai kain untuk menutupi bawah dada. Namun aksesoris yang di gunakan juga terkesan klasik. Apakah ini pakaian pada masa Kerajaanmu dulu? ” Tanya Ludius menebak.

”Walau tubuhmu terlihat begitu indah, tapi kamu terlalu dini untuk percaya diri. Siapa juga yang takut dengan wanita-wanita yang terpesona denganmu?”. Silvia berbicara dengan merajuk dan memalingkan wajahnya karena tidak ingin mengakui bahwa Ludius memang terlihat lebih gagah.

”Sayang.. Lebih baik kita keluar dan menyambut tamu yang datang. Berhentilah memasang wajah jelekmu itu Permaisuriku”.

Tiba-tiba Ludius menarik Silvia dengan memberi ciuman nakalnya membuat Silvia tidak bisa berkutik sedikitpun dan menerima ciuman nakal suaminya.

”Apakah kamu sudah bisa tersenyum sayang? ”. Tanya Ludius.

”Tuan Mesum!! Apanya yang tersenyum?. Apa kamu ingin membuat bibirku bengkak seperti marmallow merah? Yang benar saja”. Wajah Silvia memerah, dia memalingkan wajahnya menyembunyikan perasaan malu yang begitu mendebarkan.

”Eh... Masih merajuk? Apa gigitan manisku belum memuaskanmu?”.

”Tuan Lu, berhenti bercanda. Kita lebih baik kembali ke Acara karena tamu undangan pasti sudah menunggu”.

Silvia menggandeng lengan Ludius dan keluar dari ruang ganti menuju ke tempat Acara. Ditengah langkahnya, Silvia tanpa sengaja melihat Zain datang menggunakan kemeja hitam dan duduk di antara para tamu yang hadir.

Ludius dan Silvia duduk di pelaminan dan menyapa setiap tamu undangan yang mendekat. Kesabaran seorang Ludius di uji. Mengapa tidak…?, pria yang tidak pernah melakukan hal merepotkan bahkan harus melakukan hal sepele seperti duduk bak raja dan terus memberikan senyuman di kala ada orang yang memberinya selamat.

Seorang pria paruh baya berjas rapih. Sepertinya bukan orang sembarangan menghampiri Ludius.

”Tuan Lu.. Saya Pak Herman dari Perusahaan GM Grup. Senang melihat Tuan Lu menjadi bagian dari Al Farezi Grup. Saya sudah mendengar banyak hal mengenai Tuan Lu yang memiliki Perusahaan Besar Tangshi Grup. Kedepannya semoga kita bisa menjalin kerjasama dalam bidang bisnis ”.

”Tentu Tuan Herman, saya menantikan itu”. Jawab Ludius dengan tenang.

Ludius sadar, pernikahan antara dua Keluarga besar yang memegang peran penting dalam Perusahaan akan menyita banyak perhatian dari para Pengusaha yang ingin memiliki kerjasama dengan Ludius. Mereka mulai mendekat demi memiliki sebuah kontrak kerjasama dengan perusahaan besar seperti Tangshi Grup.