Chapter 51 - 51. (2/2)

Ludius yang sadar telah di permainkan Silvia langsung mencium pipinya. Dia tersenyum senang melihat wajah Silvia yang marah.

”Kya.. Curang! Siapa yang mengizinkanmu mencium pipiku? Kamu harus ganti rugi!” kata Silvia dengan nada merajuk.

Silvia memalingkan wajahnya kembali dengan tatapan cemberut.

”Sayang, anggap saja ciuman itu sebagai hadiah karena telah berhasil mempermainkanku. Untuk ganti ruginya, apa kamu mau layanan spesial dari calon suamimu?”

Lagi-lagi Ludius berkata hal yang membuat Silvia salah fokus, dia berfikir yang tidak-tidak membuat suhu tubuhnya menjadi semakin memanas.

”Aku tidak butuh layanan spesialmu. Itu menjijikan” jawab Silvia ketus.

”He.. Apa yang sedang kamu fikirkanSayang? Aku kan hanya memberi pelayanan spesial calon suami, Bukan pelayanan spesial sebagai Gigolo. Sejak kapan calon istriku suka berfikiran seperti itu?”

”Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Sejak kapan kamu memberi racun didalam otakku hingga akuberfikiran kotor seperti itu!”

Ludius menempelkan tangannya di kening Silvia. Dan waktu sudah menunjukkan jam 10 malam.

”Sayang, ini sudah terlalu malam. Istirahatlah! Jika kamu masih belum puas dengan menatap wajahku, aku akan duduk disini menemanimu”. Ludius mencium kening Silvia.

Malam ini berakhir dengan canda tawa untuk menghilangkan sejenak mimpi buruk yang Silvia alami. Perlahan Silvia tertidur dengan tenang.

Sesaat setelah Silvia tertidur, Julian datang dengan wajah menahan amarah yang luar biasa. Dia menarik Ludius keluar tanpa bersuara karena melihat Silvia tengah tertidur pulas. Julian menarik Ludius kedepan ruangan Silvia dan mencengkram kerahnya.

”Tuan Lu, aku selalu diam karena menghargai keinginan Silvia dan Bibi. Tapi belum genap satu malam adikku tinggal bersamamu. Dia sudah kamu antar ke Rumah Sakit. Apa kamu tahu ini apa artinya? Berarti kamu memang tidak pantas menjaga Silvia!” kata Julian dengan amarah dan melepas kerah yang dia cengkram.

”Aku tahu ini kesalahanku karena tidak mengawasinya dengan baik. Tapi bukan berarti kamu lebih baik dari pada aku dalam hal menjaganya. Calon kakak ipar, semakin keras kamu menjauhkanku dari Silvia, itu berarti semakin besar kamu melukai hatinya. Ini adalah pilihanmu Kakak ipar, kutitipkan Silvia 1 malam padamu”.

Ludius memepuk pundak Julian, dia berjalan keluar tanpa ekspresi.

....

Pagi-pagi sekali Silvia terbangun, Silvia mengedarkan pandangannya mencari sosok Ludius, tapi tidak mendapati Ludius di tempatnya. Dia justru melihat Julian yang tengah duduk disampingnya

(Kenapa kamu pergi Tuan Lu. Tidakkah kamu telah membuatku kecewa. Apa jangan-jangan ini karena Kak Julian?). Hatinya berdebat.

”Silvia, apa kamu sudah bangun? Kakak tadi malam datang untuk menemuimu di rumah Tuan Lu. Tapi pelayan berkata kamu berada di rumah sakit. Silvia, kenapa kamu selalu membuatku khawatir?”. Julian beranjak dan membelai kepala Silvia.

”Maafkan aku Kak. Tapi ada hal yang ingin aku tanyakan. Apa Ludius pergi karena Kakak? Apa kalian bertengkar lagi?” Tanya Silvia cemas.

”Kakak hanya tidak suka dia merawatmu Silvia. Baru 1malam kamu berada disana dan kamu sudah berada di Rumah Sakit. Kakak jadi berfikir sepertinya kamu memang seharusnya tidak tinggal bersamanya”.

Silvia sedikit kecewa dengan perkataan Kakaknya. Dia merasa kalau Kakaknya benar-benar membenci Ludius.

”Kakak salah faham. Ini semua salahku karena tidak hati-hati. Padahal Ludius sudah memperingatkanku untuk memanggil pelayan jika ingin melakukan sesuatu. Seharusnya Kakak bertanya dahulu sebelum menuduh seseorang. Aku kecewa pada Kakak!”