Chapter 28 - 28. Sebuah Tamparan (1/2)
Ludius membawa Silvia masuk ke dalam kampus untuk menjauhkannya dari kerumunan para mahasiswi. Langkah Ludius terhenti disebuah koridor kampus, ia menarik tubuh Silvia kedalam dekapannya hingga tidak ada jarak diantara mereka.
Mata hitam legam Ludius yang menatap Silvia seakan menarik Silvia untuk tidak memperhatikan yang lain. ”Gadis kecil, baru seperti ini saja kamu sudah takut. Lalu bagaimana kamu menghadapi Xiang Zhu dan keluarganya nanti?”. Bisik Ludius.
”Itu beda lagi ceritanya, Lagian siapa yang takut?. Bukannya kamu yah, yang tiba-tiba menarik ku masuk kedalam?”. Jawab Silvia, ia mengalihkan pandangannya dari sorot mata Ludius yang tajam.
Keadaan yang canggung dengan Silvia yang masih dalam dekapan Ludius membuat Lithian yang tidak sengaja lewat di depan mereka tersentak kaget.
”Ludius lepaskan aku!”. Bisik Silvia
”Tuan Lu, sedang apa Tuan sepagi ini berada di koridor kampus bersama Silvia?” Tanya Lithian.
Melihat kedatangan Lithian membuat Silvia memaksa Ludius untuk melepas pelukannya. ”Tuan Lu, lepaskan! Apa kau ingin semua orang melihat keadaan kita?”. Bisik Silvia dengan sedikit paksaan.
”Diam kamu gadis kecil, ikuti saja permainan ini jika kamu masih membutuhkan informasi tentang Keluarga Ayahmu”. Balas Ludius.
Ludius tersenyum licik, ia memaksa Silvia untuk bermain 1 babak dengannya didepan Lithian.
”Apa kau tidak melihatnya Tuan Muda Lithian, Aku sedang mengantar calon istriku untuk pergi ke kampus. Iya kan sayang”. jawab Ludius semangat sambil menatap Silvia manja.
Li Thian tersentak kaget ”Tuan Lu jangan bercanda, sejak kapan Tuan menjadikan Silvia sebagai calon istri?”. Lithian menepis perkataan Ludius. Ia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Sesaat Lithian kembali teringat dengan taruhannya di Cafe tempo hari.
”Sepertinya Longshang lupa mengirim undangan padamu Tuan Muda Li, Tapi akan ku pastikan setelah ini dia tidak lupa untuk mengirimnya kepadamu”.
Silvia yang menyadari arah pembicaraan mereka mulai khawatir akan terjadi perang dingin diantara mereka ”Ludius sudah..!! bukankah kamu akan pergi ke kantor?”. Tegur Silvia, ia melepas paksa pelukan Ludius yang begitu erat hingga membuatnya hampir kehilangan nafas.
'Ayolah Ludius, cepat pergi dari sini. Suasana ini benar-benar tidak enak untuk dilihat'. Batin Silvia kesal.
Seakan mengerti dengan apa yang di fikirkan Silvia, Ludius tersenyum manis mengiyakan keinginan Silvia. ”Aku memang akan pergi ke kantor, Ingat lah untuk memberitahuku kalau kamu sudah selesai kuliah. Aku akan menjemputmu untuk makan bersama”. Kecupan melesat di kening Silvia tepat didepan Mata Li Thian.
Lithian yang melihat hanya bisa diam terpaku, tangannya mengepal giginya menggertak geram. Saat itu juga ingin sekali Lithian menghajar keparat seperti Ludius namun ia tidak bisa melakukannya.
”Nikmati waktumu Tuan Lu!!”. Lithian yang tidak ingin emosinya semakin memburuk akhirnya pergi meninggalkan mereka.
Plaak!!
Selayang tamparan mendarat di wajah Ludius, Silvia merasa dirinya tidak di hargai oleh Ludius yang semena-mena mencium keningnya didepan oranglain.
”Lain kali lebih hargailah wanita, tidak semua wanita ingin hidup mengemis cintamu. Ingatlah tamparan ini Tuan Lu! Aku permisi!”.
Ludius tersenyum seringai dengan sikap yang Silvia berikan, ia mencekal tangan Silvia dan memaksa Silvia untuk menatap sorot matanya yang tajam.
”Lihat aku baik-baik Silvia! Aku adalah Ludius Lu, bagiku wanita tidak lebih dari sekedar pakaian. Tapi aku tidak melakukannya padamu. Aku selalu menghargai semua prinsipmu. Aku fikir dengan membiarkanmu bebas akan membuatmu menyadari hal ini, tapi kau justru menamparku?”. Kata Ludius dengan setengah kecewa.
”Ya! Aku memang menamparmu dan aku tidak menyesalinya. Kau pria dengan status tinggi namun tidak pernah menghargai wanita! Dan tamparan ini mewakili wanita yang pernah kau permainkan!”.
Ludius melepas tangan Silvia, ia melihat Silvia sendu. ”Jadi sejauh itu kau memandangku Silvia?”. Tanya Ludius lirih.
Silvia terhenyak, tangan yang ia gunakan untuk menampar Ludius gemetar melihat gurat kekecewaan di wajah Ludius, msmbuatnya berfikir bahwa yang dilakukannya kali ini salah.
”Bukan seperti itu Ludius, ak.. Aku tidak….”.
”Kau melakukannya Silvia, kau menunjukkan ketidak percayaannmu padaku. Aku selalu menahan diri untukmu karena kupikir kau mampu mengerti tentangku. Aku selalu mencoba untuk membuatmu nyaman disisiku, tapi kau justru menamparku. Sudahlah! Ingatlah disaat hari pertunagan tiba!”. Ludius pergi begitu saja dengan kekecewaannya terhadap Silvia.
Silvia sadar, ia memang tidak pernah melihat Ludius melakukan hal-hal yang melecehkan terhadapnya. Ia justru merasa Ludius selalu menjaga dan menolongnya disaat ia dalam masalah. ”Jadi selama ini Ludius benar-benar mencoba untuk menjaga perasaanku?”. Gumamnya.
Perasaan Silvia tiba-tiba berubah tak menentu, dentuman jantungnya membuatnya merasa sesak karena kesalahan yang ia lakukan. ”Maafkan aku Ludius, aku masih tidak menyadari dengan semua yang kamu lakukan dan justru membuatmu kecewa”.
***
Dikelas, Ling Ling sudah menunggu kedatangan Silvia. Ia merasa heran dengan sikap dingin berpadu dengan semu merah yang tergambar jelas di wajah sahabatnya.
Silvia yang masih mengingat akan hal yang terjadi di koridor langsung duduk tanpa berbicara.