Chapter 122 Kesedihan Yudha (III) (2/2)
” Mereka adalah orang tuaku. Hari ini adalah tepat 20 tahun kepegian mereka ” Yudha berjongkok dan meletakkan buket bunga di masing - masing makam ibu dan ayahnya. Kesedihan nampak sekali diwajahnya yang tampan dan sedikit pucat
” Ayah, ibu. Aku datang bersama menantumu dan dia sedang mengandung cucu kalian. Aku ingin kalian mengenalnya. Maaf, karena aku baru mengajaknya kemari menemui kalian ”
” Maaf ayah, ibu. Jika bukan karena aku, kalian pasti masih berada disini bersama kami. Melihat menantu kalian yang cantik dan baik hati dan cucu kalian nanti. Aku sungguh - sungguh minta maaf ayah, ibu ” Air mata pun menetes di wajah tampan Yudha. Suaranya terdengar pilu, hatinya seakan terluka begitu dalam.
Gina teringat dengan cerita neneknya semalam. Dia pun tak kuasa menahan tangis mendengar perkataan sang suami yang begitu getir.
Gina memegang pundak Yudha, seakan memberikan dukungan dan kekuatan pada sang suami.
” Ayah, ibu. Apakah kalian bahagia melihatku sudah menikah? Sekarang aku tidak sendiri. Aku memiliki istri yang selalu menemaniku. Kakek selalu berkata padaku untuk melupakan kejadian itu. Tapi itu begitu sulit, senyum terakhir kalian selalu teringat di kepalaku. Tapi kalian tidak perlu khawatir dan cemas lagi tentang ku. Aku sudah menemukan pendamping ku dan aku akan berusaha membahagiakan istri juga anakku ”
” Kalian tenanglah disana. Aku akan kemari lagi nanti. Sekali lagi maafkan aku ayah, ibu. Aku tidak bisa melindungi kalian ”
Yudha pun berdiri dan hendak beranjak pergi dari sana bersama Gina. Langkahnya begitu berat, seakan enggan untuk meninggalkan makam ibu dan ayahnya.
” Ayo sayang kita pulang! ”
Gina berusaha menyadarkan Yudha dari kesedihannya dan mengingatkannya bahwa masih ada Gina yang akan menemaninya
” Kakek atau nenek pasti sudah memberi tahu mu tentang orang tua ku? ”
Gina menganggukkan kepala dan berkata ” Iya ”
” Nenek sudah menceritakan semuanya padaku semalam ” Gina menghentikan langkahnya dan membalikkan badan Yudha agar berhadapan dengannya
” Dengarkan aku! Itu bukan salahmu. Itu adalah sebuah kecelakaan dan jadi bagian masa lalumu. Dan kamu sekarang tidak sendiri, ada aku yang akan selalu berada di sisimu. Jika sesuatu terasa begitu berat bagimu, maka kamu bisa membaginya denganku. Katakan padaku, agar aku bisa tahu apa yang kamu rasakan. Jangan memikulnya sendiri. Kamu bisa berbagi kesedihan mu kepadaku! ”
Mata Yudha berkaca - kaca, akhirnya Yudha sedikit membungkuk, menyandarkan kepalanya di bahu Gina dan menangis di pelukannya.
Gina pun membalas pelukan sang suami, mengusap punggungnya untuk menenangkan hati suaminya