Chapter 32 Kemelut Riko dan Siska (2/2)
”Minggir Andi, aku hanya ingin bertemu dan bicara langsung dengan Riko. Kami sudah beberapa hari tidak bertemu, aku ingin menjelaskan semuanya!”
Siska berhasil menerobos masuk.
Riko pun memandangnya dan menghela nafas. ” Biarkan saja Andi. Kamu boleh pergi!”
”Riko ada apa dengan tanganmu?
apa yang terjadi?
bagaimana bisa terluka seperti ini?”
Pandangan Siska tertuju pada tangan Riko, dia mendekatinya dan meraih tangan yang terluka dan dibungkus kain perban
”Aku tidak papa. Apa yang ingin kamu bicarakan?”
Riko menarik tangannya dan berkata dengan dingin
”Riko kumohon jangan seperti ini. Aku tahu aku salah, tapi aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu”
”Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu Riko. Kita saling mencintai dan kita bisa lupakan itu semua dan mulai semua dari awal”
Siska berkata dengan derai air mata yang terdengar memilukan sambil memegang tangan Riko
”Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang”
”Tapi yang pasti sekarang aku butuh ketenangan. Lebih baik kita tidak bertemu dulu sekarang ini”
Riko melepaskan tangan Siska dan memalingkan wajah menatap keluar jendela.
”Baiklah aku tidak akan mengganggumu sekarang ini. Aku akan berhenti menjadi aktris dan akan fokus diperusahaan. Agar nanti kita bisa bekerja bersama”
”Kumohon Riko pikirkan lagi semuanya. Semua yang telah kita lewati bersama selama ini. Jangan menyerah dengan hubungan kita, Jika itu terjadi, Gina akan tertawa melihat kehancuran hubungan kita”
Siska dengan berat hati meninggalkan Riko.
”Gina aku tidak akan membiarkanmu bahagia. Kamu telah menghancurkanku. Dan kamu juga akan hancur ditanganku”
Siska mengepalkan tangannya menahan kemarahanya pada Gina..
Dan Riko, mendengar Siska menyebut nama Gina, pikirannya seketika melayang mengingat masa lalunya bersama Gina
Ada perasaan hangat yang ia rasakan. ” Gina, kenapa dulu aku tidak menyadari kebaikanmu, perhatian dan sikap pengertian yang kamu berikan. Yang kurasakan dulu hanya keraguan terhadapmu. dan sekarang setelah semuanya terjadi, aku sungguh merasa bersalah padamu. Maafkan aku Gina” Riko memejamkan mata dan bersandar dikursi