Chapter 3 Pertemuan Pertama (1/2)

Dania duduk sambil merapikan rambut

dan pakaiannya. Ia mengerutkan pipinya berulang-ulang, melatihnya untuk

tersenyum. Apapun yang terjadi yang ia lakukan adalah cukup tersenyum.

Tersenyum , sambil melangkah ke lubang neraka yang dasarnya tidak ia ketahui.

Pintu terbuka, sekertaris yang tadi menjemputnya muncul. Disusul dengan sosok

laki-laki.

Perawakan laki-laki itu sungguh sempurna. Daniah berdiri dari duduk, jemarinya. Laki-laki itu memiliki aura yang kuat. Ini kali pertamanya bertemu dengan calon laki-laki yang akan

menjadi suaminya. Ntah karena apa, dia sudah merasa sekujur tubuhnya gemetar.

Bahkan langkah kaki laki-laki itu memasuki ruangan sudah mengintimidasinya.

“ Silahkan Tuan.”

Sekertaris itu menarik kursi, dan

laki-laki itu duduk dengan sikap yang sangat angkuh. Sekertaris  Han meletakan

amplop besar berwarna coklat di atas meja. Daniah menatap benda itu.

Apa itu surat perjanjian pra nikah.

Dia bergumam sendiri. Dia sudah menyiapkan hatinya untuk kemungkinan terburuk

yang bisa terjadi pada pernikahannya. Ini hanya pernikahan untung dan rugi.

Ayahnya telah menjualnya untuk melunasi semua hutang perusahaan. Dia tahu bahwa

dia tidak punya harga diri lagi di hadapan calon suaminya.

“ Bacalah, itu peraturan yang harus

kamu taati saat menjadi istri ku.” Dia melemparkan map besar itu di hadapan

Daniah dengan tangan kirinya.

Perlahan Daniah meraih amplop.

Sejujurnya walaupun dia terlihat tenang namun dadanya berdetak lebih kencang.

Ia menghembuskan nafas pelan agar fikirannya tetap bisa fokus.

Apa ini!

Pihak pertama : Saga Rahardian Wijaya

Pihak Kedua : Daniah Andini

Peraturan yang berlaku selama

pernikahan adalah pihak pertama adalah aturan yang harus dipatuhi oleh pihak

kedua.

Daniah mencoba mencerna tulisan yang ada di depannya. satu kalimat panjang itu sudah mewakili semuanya. bahwa ia bukan apa-apa, ia hanya harus patuh tanpa bicara.

Apa maksudnya ini, apa ini artinya dia lah aturan hidup yang harus aku patuhi

selama pernikahan berlangsung. Kata-katanya adalah titah. Begitu? Apa dia pikir

dia itu kaisar.

Seluruh bulu kudu Daniah merinding.

Karena menyadari laki-laki di hadapannya memang bisa melakukan apa pun yang ia

mau.

“ Maaf, boleh saya bertanya maksud dari aturan ini?”

Saga menatap wanita yang akan

menjadi istrinya ini tajam. “ Artinya patuhi semua apa yang aku katakan.”

Setelah mengucapkan kalimat pendek itu, bibirnya menyeringai.

“ Apa bisa Tuan menjabarkan apa saja itu, agar saya tidak melakukan kesalahaan kedepannya.” Daniah menjawab dengan tersenyum, dia menahan hatinya yang bergejolak dengan berwajah ceria. Sekilas

Daniah bisa melihat Saga terkejut dengan kata-katanya. Bibirnya terlihat

tersenyum samar dengan sinis.

“ Keluarkan hp mu!” Daniah menuruti kata-kata Saga. “ Catatlah. Peraturan pertama

jangan pernah mencampuri urusan pribadi ku. Apa pun itu, termasuk hubungan ku

dengan wanita lain.”