Chapter 2 Awal mula (1/2)

Hanya pernikahan ini yang bisa

menyelamatkan hidup keluarga. Berkorbanlah sedikit saja, kami sudah membesarkan mu

sampai dengan dewasa seperti ini, bagaimana kau tidak tahu caranya membalas

budi. Tuan muda Saga berjanji akan menyelamatkan perusahaan dan keluarga ini.

Berjanjilah pada ayah mu, kau akan melakukannya.

Tubuh Daniah bergetar, ia tentunduk

dalam. Menatap lututnya sendiri, mencengkram jemarinya yang terkepal. Ia merasa

marah, namun perasaan itu pun tidak bisa ia keluarkan.

Balas budi, bukankah aku anak kandung mu.

Bukankah kewajiban mu memberi ku makan dan tempat tinggal, kenapa aku harus

membalas budi untuk kewajiban yang memang harus kau lakukan. Aku membenci mu

dengan seluruh kehidupan ku.

Pernikahan akan dilaksanakan pada

tangal 10. Terhitung dari sekarang hanya sepuluh hari lagi. Daniah

bahkan tidak mengatakan apa pun, ia tidak mengelengkan kepala atau pun tidak

menganggukan kepala. Toh gerakan kepalanya tidak akan merubah apa pun.

“ Terimakasih.”

Huh! Bahkan kata yang sangat ingin

didengarnya itu tak pernah mereka lontarkan. Mereka menganggap pengorbananya

adalah sebuah keharusan. Bukanlah sesuatu yang layak mendapatkan ucapan

terimakasih. Dia anak pertama keluarga ini. Jadi tanggung jawabnya untuk

berkorban. Sudah kewajibannya karena dia diberi tempat tinggal, makanan dan

pakaian. Balas budi.

- - -

Daniah masih mematung di depan

kaca, menatap bayangan menyedihkan dari wajahnya sendiri. “ Permisi nona,

utusan dari keluarga Tuan Saga datang ingin menjemput anda.”

Bibi pengurus rumah sudah berdiri di belakangnya. Tanpa terdengar langkah kaki mendekatnya.

“ Kenapa?” Daniah bertanya tanpa

memalingkan wajah, masih menatap bayangan menyedihkan di kaca. Inilah wajah manusia yang bahkan tidak punya kekuatan untuk hanya mengelengkan kepala penolakan.

“ Saya tidak tahu nona, silahkan turun. Tuan besar dan nyonya sudah menunggu ada.”

Daniah menapaki anak tangga.

Di ruang tamu dia melihat seseorang duduk. Ayah dan ibu tirinya sedang bicara

dengan berlebihan. Menjilat apa yang bisa mereka jilat. Tanpa rasa malu. Daniah

menghentikan langkahnya saat pria itu berdiri karena melihatnya datang.

“ Saya akan membawa nona Daniah sekarang.” Ucapnya.

“ Baik sekertaris Han. Daniah ,