Chapter 546 - Makhluk-makhluk Aneh (2/2)

Bara biru kecil itu hanya seukuran kepalan tangan, tetapi ketika bersentuhan dengan hiu, seluruh badan hiu terbakar dalam bara api.

Bara api biru mengamuk di dalam air. Hiu perak raksasa merintih kesakitan, tetapi tetap tidak melarikan diri. Tubuhnya bergerak namun hanya karena menahan rasa sakit. Kondisi yang terlalu mengerikan untuk dilihat.

Sesaat kemudian, hiu perak raksasa menjadi arang. Di sini, di dalam laut, seekor hiu telah terbakar hampir menjadi abu. Bara api biru itu kemudian padam, sedangkan debu korbannya jatuh ke dasar laut menyatu dengan pasir.

Han Sen, setelah menyaksikan ini semua, merasa ketakutan. Dia tidak dapat menahan diri untuk berpikir, ”Makhluk super. Ini pasti sesuatu di atas makhluk super di Tempat Suci Para Dewa Tahap Kedua.”

Walaupun dia belum menyaksikan kekuatan nyata kuda laut, namun dia bisa menebak dari mana asalnya bara api biru itu.

Sementara Han Sen berdiri tanpa ekspresi dalam ketakutan, kuda laut menoleh ke arah jendela tempat dia menatap keluar. Tiba-tiba, tubuh Han Sen terasa kedinginan. Udara dingin menyerang jantungnya dan terus menyebar.

Yang dilakukan oleh kuda laut itu hanyalah menatap. Setelah itu, dia membalikkan ekornya dan pergi. Tidak lama kemudian, dia benar-benar menghilang dalam kegelapan laut dalam.

Ketika kuda laut itu pergi, Han Sen jatuh ke lantai seperti roboh karena kelelahan. Bajunya basah karena keringat.

”Sangat menakutkan. Berapa kuat mahluk super itu? Cara dia menatap dan cara dia bertindak cukup menakutkan,” suara Han Sen bergetar saat berbicara.

Bara api yang dimuntahkan kuda laut itu telah membuat Han Sen ketakutan. Memikirkan bagaimana seekor makhluk dapat memiliki bara api yang dapat menghanguskan seekor makhluk berdarah sakral raksasa menjadi debu, sementara menyelam di dasar laut, adalah hal yang menakutkan.

Melihat arah kuda laut itu pergi adalah Tempat Penampungan Dasar Laut, Han Sen merasa ngeri. ”Apakah Tempat Penampungan Dasar Laut yang bertempat di atas Tempat Penampungan Arwah Kerajaan?”

Sementara Han Sen masih diliputi rasa ketakutan, dia melihat bara api biru muncul dari kejauhan. Mahkluk malang mana yang telah menjadi mangsa kuda laut itu kali ini?

Han Sen menggertakkan giginya dan memerintah Putri Duyung untuk mengarahkan Istana Kristal untuk berlayar perlahan ke arah perginya kuda laut. Dia tidak berani terlalu cepat mengejarnya, dia terus menerus menatap bara api biru di kejauhan.

Han Sen merasa ini tidak adil dan ingin melihat apakah kuda laut adalah makhluk dari Tempat Penampungan Dasar Laut. Untuk mempelajari lebih dalam, dia sekarang harus membuntutinya.

Tidak lama kemudian, Han Sen merasa kecewa. Mereka tiba di sebuah wilayah yang tidak jauh dari Tempat Penampungan Dasar Laut, dan dia menyadari bahwa kuda laut itu memang menuju tempat ini. Di jalur ombak yang ditinggalkannya, sisa-sisa hangus dari berbagai makhluk laut telah menjadi asap di dasar laut. Mengapa dia melakukan ini?

Sekarang, dari kejauhan, Tempat Penampungan Dasar Laut sudah terlihat. Han Sen meminta Putri Duyung untuk berbalik dan pergi. Jika kuda laut biru memang datang dari sana, maka Han Sen tidak akan mengunjungi tempat ini selama bertahun-tahun.

Istana Kristal sedang dalam perjalanan pulang ketika Han Sen memperhatikan bahwa dasar laut menyala. Air di sekitar Istana Kristal sekarang menjadi berwarna biru, dan seterang pagi hari.

Wajah Han Sen berubah, seolah-olah dia telah terpikirkan sesuatu. Dia melihat balik ke arah Tempat Penampungan Dasar Laut dan melihatnya tertelan bara api biru. Tampak seperti api penyucian, di mana seberkas cahaya biru yang aneh membakar dengan ganas.