Chapter 317 - Rencana Ibu-Ibu (2/2)
”Karan, mama mau ngenalin seseorang sama kamu.” Ibu Karan memanggil Karan cepat sehingga Karan bangkit dari duduknya saat ia menyeruput habis minumannya.
Ketika karan berbalik badan, betapa kagetnya dia saat melihat kalau orang yang di bawa oleh ibunya itu adalah Akiko sehingga minuman yang belum sempat di telannya dengan baik tersebut menyembur keluar.
Melihat Karan yang terlihat kaget dan ingin menyemburkan sesuatu dari mulutnya, Akiko dengan cepat bediri dihadapan ibu Karan untuk melindungi ibu Karan dari semburan tersebut.
”Tante nggak apa-apa? Nggak basah kan?” tanya Akiko cepat saat semburan syahdu Karan telah habis.
”Loh, kan kamu yang kena semburannya. Rambut dan belakang kamu jadi basah semua tuh.” Ibu Karan terlihat panik atas perlakuan Karan kepada Akiko.
”Ah.. Maafkan aku, aku tidak sengaja.” Karan dengan cepat membuka Jasnya untuk diberikan kepada Akiko. Aku menolak dengan sopan sambil tersenyum pahit yang membuat Karan bingung karenanya.
Nenek Alisya dan ibu Adith tertawa pelan menyaksikan ke konyolan Karan. Mereka sengaja duduk manis dan diam untuk terus melihat apa yang akan dilakukan Karan selanjutnya kepada Akiko.
”Aku baik-baik saja, maaf tante aku ke tolilet dulu untuk membersihkan diri.” Akiko memberi hormat cepat dan berlalu pergi dari sana tanpa menoleh sedikitpun.
”Sejak kapan mama dan Akiko berada dibelakangku?” tanya Karan merasa curiga dengan Akiko yang melarikan diri darinya tersebut.
”Cukup lama, sejak Kau menyukai Alisya dan tidak menyukai Akiko.” ucap ibunya dengan santai dan jujur.
Karan memijit kepalanya dengan kuat paham kenapa ia melihat setitik bening mengalir jatuh dari pipinya saat Akiko berlari pergi. Meski apa yang dikatakannya benar, Karan hanya tak ingin melihat seorang wanita menangis karena dirinya.
”Ma, aku nyusul Akiko dulu yah.” ucap Karan dengan cepat berlalu pergi dari sana mengejar Akiko.
Ibu Karan langsung duduk menaik turunkan keningnya kepada nenek Alisya dan Ibu Adith yang sudah senyum-senyum ketika Karan pergi mengejar Akiko.
”Agak kejam sih memang, tapi tahap keberhasilan dari Rencana ini cukup tinggi.” Ibu Adith merasa kasian kepada Akiko atas rencana mereka tapi ia menganggap cara itu bisa membuat mereka jadi mengetahui isi hati satu sama lain.
”Berapa persen?” tanya Ibu Karan dengan penuh antusias.
”30 persen melihat dari rasa bersalah Karan.” ucap ibu Adith dengan penuh keyakinan.
”Rasa bersalah seseorang kadang bisa menimbulkan cinta. Meski awalnya cukup sulit, tapi mereka akan saling memberika kekuatan satu sama lainnya.” terang nenek Alisya memandang Karan yang sudah menghilang dari ruangan tersebut.
”Ya kau benar, untuk saat ini kita hanya bisa membantu mereka sebatas ini saja. Sampai disini biar mereka yang mengurus dan mennyelesaikannya sendiri.” tambah Ibu Adith mengambil minumannya.
”Aku harap Karan bisa membuka diri. Aku tidak tahan melihatnya selalu sibuk dengan pekerjaannya tanpa memikirkan diri sendiri.” ucap Ibu Karan dengan desahan yang sangat kuat memikirkan Karan.