Chapter 281 - Tamparan Bibir (1/2)
”Kenapa kau selalu ceroboh? tidak bisakah kau menjaga dirimu sendiri?” Karin mengomel kesal dengan Ryu yang selalu saja mendapatkan luka pada tubuhnya.
”Ahhh... ssshhh” Ryu meringis pelan saat Karin memberikan salep pada tangannya.
”Anggap saja itu hukuman buatmu, apa kau serius merasakan sakit? Jika iya maka seharusnya kamu tidak akan dengan mudahnya terluka.” ucap Karin berdiri dari hadapan Ryu untuk mengambil sesuatu.
”Maafkan aku,” tak tahu kenapa Ryu hanya ingin meminta maaf kepada Karin yang selalu repot merawat dirinya tiap kali mengalami luka-luka.
”Kenapa perban itu berada di atas sana?” Karin melihat perban baru yang sempat ia beli berada di atas sana. Setelah di ingat, itu adalah pekerjaan Beni karena kesal saat Karin selalu saja membeli barang-barang pengobatan dimanapun dia berada meski itu pada saat mereka sedang liburan.
”Biar aku yang mengambilnya.” ucap Ryu berdiri dari tempat duduknya.
”Duduklah, aku masih bisa mengambilnya menggunakan kursi.” seru Karin masih kesal kepada Ryu.
”Dasar Beni, aku membelinya hanya untuk berjaga-jaga jika terjadi hal seperti ini. Sepertinya aku harus memberikan dia suntikan gila.” Ryu yang mendengar Karin sedang bergumam karena kesal akhirnya merinding dan meringkuk di tempat duduknya berusaha untuk tidak mengusik Karin lagi.
Karin akhirnya menarik kursi kayu kemudian naik mengambil perban tersebut, namun karena masih sedikit jauh dan ia tak mampu meraihnya, Karin akhirnya mencoba melompat dan mendarat dengan mulus namun karena bunyi ledakkan kembang api membuat ia kehilangan keseimbangan.
Ryu yang melihat Karin melompat sebelumnya sudah datang mendekati Karin sehingga tepat saat Karin kehilangan keseimbangan, ia dengan cepat ingin menangkap Karin. Karin yang berusaha berpegangan pada sesuatu tak berhasil sehingga ia jatuh menimpa tubuh Ryu dengan sangat keras.
”Haaa.. Maafkan aku, kau baik... baik” Karin yang berusaha bangkit dari tubuh Ryu, tiba-tiba harus jatuh tertunduk lagi dengan bibir yang menempel kuat di pipi Ryu. Ryu bahkan sampai merasa sedang di tampar menggunakan bibir Karin.
Karin terbelalak akan apa yang sedang ia lakukan pada Ryu, langit yang meledak-ledakkan kembang api menghasilkan cahaya warna-warni di wajah mereka yang seolah sedang mendukung apa yang sedang dilakukan oleh keduanya.
”Pufttt” Ryu berusaha menahan tawanya karena tamparan bibir Karin. Karin langsung terbangun dan panik serta malu dalam waktu yang bersamaan.
”Aku tidak keberatan jika mendapat hukuman seperti tadi.” Ryu menggoda Karin yang sudah ingin melarikan diri dari sana karena malu. Saat ia sudah cukup jauh, ia kembali lagi menarik tangan Ryu dan mendudukkannya.
Karin tidak bisa pergi dari sana sebelum selesai membalut tangan kanan Ryu yang melepuh karena terbakar. Ryu terus menatap Karin dengan tersenyum senyum mengingat kejadian yang sebelumnya terjadi kepada mereka. Ryu tak bisa menyembunyikan senyumnya dihadapan Karin yang terus fokus membalut dan menjadi diam.
”Ikat sendiri!” ketus Karin meninggalkan Ryu yang masih terus tersenyum-senyum karena apa yang baru saja ia lakukan kepada Ryu.
Karin langsung berlari menjauh dari Ryu karena sudah tak sanggup lagi berada disana lebih lama. Rasa malu menjalar ke seluruh tubuhnya yang membuat wajahnya menjadi semakin memerah. Ia bahkan sampai menampar dirinya sendiri sembari berlari untuk bisa mendapatkan fokusnya kembali.
”Kau demam? kenapa pipimu merah sekali?” Emi langsung memeriksa dahi Karin untuk memastikan kondisinya.