Chapter 265 - Cerita Egi (2/2)
”Baiklah, kalau begitu kami akan ke kantin terlebih dahulu.” Terang Adora keluar dari ruang UKS diikuti oleh Aurelia dan yang lainnya.
Setelah beberapa saat, Alisya mengatur tempat duduknya dengan lebih nyaman untuk berada cukup dekat dengan posisi Egi.
”Jadi, apakah kamu bisa menceritakan tentang apa yang terjadi tadi pagi?” Alisya sudah menopang kedua tangannya menunggu penjelasan dari Egi yang sudah berjanji kepada Alisya.
”Ummm… itu,,, pertama Namanya adalah Citra Paputungan. Dia berasal dari kelas Elite IIS 1 dan juga dia adalah bos dimana ayaku bekerja. Keluargaku sudah berhutang budi yang cukup banyak terhadap keluarganya.” Terang Egi memulai penjelasannya dengan menjelaskan siapa sebenarnya Citra yang sudah berbuat cukup kejam kepadanya.
”Apa ini ada hubungannya dengan luka yang sedang kau alami saat ini?” tanya Karin yang masih belum paham akan apa yang sedang dibahas oleh Alisya dan Egi. Egi mengangguk pelan kepada Karin dengan senyuman yang terlihat putus asa.
”Apa yang membuatnya berbuat seperti ini padamu!” tatapan mata Alisya yang sarat akan kemarahan atas tidakan Citra kepada Egi bisa dirasakan oleh Egi dengan begitu tulus.
”Dia memang anak yang sudah terbiasa dimajakan oleh keluarganya sehingga tempramennya lama kelamaan semakin menjadi jadi, meski awalnya dia tidak separah ini tapi entah kenapa sekarang malah dia semakin kasar dan kejam. Dia menganggapku seperti seorang pelayan atas alasan orangtuaku yang berutang budi kepada orang tuanya.” Jawab Egi kembali menjelaskan apa yang sedang di hadapinya.
”Sudah seberapa sering dia berbuat seperti ini?” tanya Karin yang merasa khawatir dengan kondisi mental Egi akibat perundungan yang dia alami.
”Terkadang sehari ia bisa memanggilku sebanyak 5 – 10 kali.” Egi menunduk putus asa setiap mengingat kelelahan yang harus dia hadapi setiap kali ia harus terburu-buru untuk mengikuti perintah Citra.
”Apa saja yang ia lakukan setiap kali kau terlambat selain apa yang baru saja dia lakukan tadi?” Alisya mulai mengepalkan tangannya mencoba untuk meredam amarahnya.
”Untuk menginjak tanganku dengan kuat memang baru tadi ia lakukan, namun selama ini ia kadang menjambak rambutku atau menyiramku dengan air yang berasal dari kloset toilet sekolah.” Egi terlihat ragu-ragu saat bercerita tentang hal tersebut kepada Alisya.
Egi yang selama ini sudah sekelas dengan Alisya meski tak begitu akrab dan jarang berkomunikasi satu sama lainnya paham betul bagaimana tingkat kepedulian Alisya kepada orang-orang yang berada disekitarnya. Meski pertama kali Alisya terkesan cuek dan juga menakutkan, tapi tetap saja Alisya akan ikut campur untuk menyelesaikan masalah teman-temannya jika itu memungkinkan baginya.
”Lalu kenapa kau tidak melaporkan perbuatan mereka kepada ibu Vivian atau guru-guru lainnya agar mereka berhenti untuk melakukan hal ini lagi padamu.” Terang Karin mencoba memberikan solusi kepada Egi terhadap apa yang dia alami.
”Tidak semudah itu, jika aku melaporkan hal ini kepada guru-guru ataupun ibu Vivian, maka aku takut Citra akan melakukan sesuatu kepada ayahku. Maka dari itu mencegah Alisya untuk berbuat sesuatu kepadanya.” Seru Egi menatap penuh harap kepada Alisya.
”Tapi kamu tidak bisa seperti ini terus!!!” bentak Karin yang mulai kesal dengan sikap positif yang salah dari Egi.
”Aku tau, tetapi aku lebih memikirkan nasib kedua orang tuaku. Dan bagiku ini tidak seberapa.” Karin yang medengar ucapan Egi hanya bisa menghela nafas pasrah.
”Kenapa dimana-mana selalu saja aka nada orang-orang yang berprilaku kolot seperti ini hanya untuk mendapatkan kesenangan tanpa memikirkan orang lain!” Karin merasa sangat kesal sedang Alsiya hanya terdiam.