Chapter 182 - Mati Aku (1/2)
”Terimakasih banyak pak Narendra, berkat bantuan anda semua orang tua murid akhirnya bisa diarahkan dengan baik meski sebenarnya tetap saja akan ada beberapa dari mereka yang masih tak bisa memahaminya!” pak Richard menyalami ayah Adith yang berdiri tak jauh dari tempat dimana kepala sekolah berada.
”Sudan seharusnya seperti itu pak, dan saya senang jika bisa membantu pihak sekolah dalam mengatasi ini semua!” terang ayah Adith menyalami pak Richard dengan hangat.
”Mereka sudah selesai rapat, para orang tua akan segera menjemput anak-anak mereka untuk pulang bersama. Kita sebaiknya kembali ke kelas sekarang. Kita akan melanjutkan diskusi kita kembali setelah pulang nanti” tegas Adith dengan cepat ingin membereskan barang-barangnya namun kemudian terhenti.
”Ada apa ini? kenapa kami masih belum di izinkan pulang? apakah ada sesuatu yang tidak beres? atau anak kami melakukan kesalahan?” tanya ayah Karin saat dirinya ditahan oleh penjaga lainnya secara rahasia dan tanpa diketahui oleh orang tua lainnya.
Bukan hanya ayah Karin yang berada disana, nenek Alisya, Ayah dan ibu dari sebagian besar kelas Mia 2 serta kelas Mia 1 dan juga kelas IIs 1 dan 2 ikut dikumpulkan disana.
Melihat ayah dan ibu (+nenek) mereka yang ditahan oleh kepala sekolah membuat Adith dan yang lainnya kebingungan. Mereka tak menduga bahwa orang tua mereka belum diizinkan pulang dan beranjak dari sana.
”Apa yang sedang direncanakan oleh kepala sekolah?” gumam Alisya melihat situasi yang tak terduga tersebut.
”Apakah kita sudah ketahuan?” ucap Ryu yang baru saja ingin kembali kekelasnya.
”Adith, tidak ada waktu lagi! akan lebih berbahaya jika kita berdiam diri disini terus. sebentar lagi penjaga akan segera ke atap ini untuk melakukan pemeriksaan jadi sebaiknya kita harus meninggalkan tempat ini sebelum terlambat.” Zein memperingatkan Adith yang masih terdiam untuk terus melanjutkan pengamatannya.
”Tunggu dulu, sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi, Riyan terus amati para penjaga yang terlihat aneh dan segera laporkan! Aku rasa kepala sekolah sudah mengetahui apa yang sedang kita lakukan!” Wajah Adith tampak serius tak menduga kalau kepala sekolah posisi mereka.
”Sebentar!” ucap pak Richard langsung mengambil sesuatu dari bawah kursi tak jauh dari posisi mereka berada.
Melihat gerakan dari kepala sekolah Adith dengan cepat mengarahkan Zein.
”Zein, ada apa dibawah kursi nomor 15, bisakah kau mengarahkan robot tikus kesana?” Zein tak menjawab pertanyaan Adith dan hanya memperlihatkan radar posisi robot tikusnya yang sudah berada di tempat kepala sekolah menunduk.
Remote control robot itu dipegang oleh Rinto yang dengan cepat Rinto jalankan untuk menghindar namun dengan mudah tertangkap.oleh kepala sekolah.
”Ehemmm.. cek, cek, saya tau kalian semua ada disana! bisakah kalian mendengarku? Teknologi ini tidak buruk!” ucap kepala sekolah dengan menaruh wajahnya memenuhi kamera robot tikus milik Adith.
Meski Alisya dan teman-temannya sudah mendengar dugaan Adith sebelumnya, mereka tetap saja sangat terkejut saat melihat kepala sekolah mengetahui keberadaan mereka.
Bahkan para orang tua merekapun terkejut bukan main saat melihat kepala sekolah memperlihatkan sebuah robot yang memiliki lensa kamera dimatanya.