Chapter 174 - Itu Bau Tau!!! (2/2)
”Bagaimana mungkin telur itu bisa busuk? padahalkan telur itu baru aku ambil dari dalam kulkas!” Akiko langsung memeriksa beberapa butir telur lain yang masih berada dikotak telur.
”Itu artinya sebelum dimasukkan dalam kulkas telur ini hanya didalam ruangan meski pada suhu dingin. Akibatnya telur jadi cepat busuk dan hanya bisa bertahan selama 3 minggu saja. Berbeda tempat penyimpanannya, beda juga masa kadaluwarsanya. Telur sebaiknya ditaruh ditempat yang memiliki suhu yang pas, dan telur sangat cocok jika suhuhnya dibawah 7 derajat Celsius. Telur yang disimpan dalam kulkas seharusnya bisa bertahan 4-5 minggu!” Terang Karan sembari membersihkan tangannya.
”Jadi apa yang harus aku lakukan dengan telur-telur ini?” tanya Akiko tak tega jika harus membuang semua telur itu.
”Kita akan memecahkan beberapa untuk melihat bagaimana kondisinya. Kalau masih bagus, kita akan memakainya untuk membuat Omlet. Dengan begitu tak ada yang sia-sia!” Karan langsung mengambil kotak telur yang ada disana lalu mulai memecahkannya satu persatu dengan memisahkan bagian telur yang sudah busuk dan masih bagus.
”Pemandangan yang indah, aku serasa melihat sepasang pengantin baru yang sedang memulai rumah tangga mereka dengan harmonis!” Karin tersenyum senyum menggoda Karan yang sedang memimpin Akiko memasak.
”Apa kau tidak melupakan hal yang lebih penting?” Karan tetap melanjutkan kegiatannya saat sedang memperingatkan Karin.
”Oh iya, aku baru sadar!!! apa yang membuat kalian kemari?” tanya Akiko penasaran menatap Karin dan Karan secara bergantian.
”Kenapa malah kamu yang tersinggung dengan ucapanku? hahahah... Aku kemari untuk memberikan hasil pemeriksaan Alisya lalu. Dan makhluk cerewet itu berusaha memaksaku untuk ikut membawanya kemari, dia bilang ada hal penting yang harus dia lakukan untuk menebus kesalahannya!” Jelas Rinto mulai menyalakan kompor listriknya.
”Aku kemari untuk memberikan salep dan mengkompres punggung Ryu yang lebam semalam, sepertinya sekarang warnanya sudah berubah menjadi biru atau ungu sehingga akan mempercepat penyembuhan lebam jika dia mengkompresnya dengan menggunakan air hangat!” ucap Karin setelah melihat tanda tanya di mata Akiko yang sedang menatapnya meminta jawaban.
”Dan kau kemari untuk memastikan apakah Ryu melakukannya atau tidak?” goda Akiko yang melihat Ryu tak berekspresi dengan wajah datarnya.
”Aku hanya ingin bertanggung jawab kepada Ryu, makanya aku datang kemari untuk memberikan Ryu obat dan mengobatinya!” Elak Karin cepat meski apa yang dikatakan oleh Akiko 100 persen benar.
Ryu hanya terdiam tak menghalangi Karin karena ia tahu kalau Karin tetap akan keras kepala untuk mengobatinya dan merasa bersalah karenanya. Karin dengan cepat memasak Air yang ia buat sedikit hangat dan mengambil kain yang lebih tebal untuk ia gunakan dalam mengkompres punggung milik Ryu.
Alisya yang baru keluar dari kamarnya yang baru bangun akibat keletihan dari pekerjaan semalam sedang melihat 2 pasang sejoli yang sedang melakukan kegiatan mereka masing-masing.
Karan bersama Akiko sedang memasak di dapur dan tak jauh dari mereka Karin sedang mengobati Ryu yang sedang cidera. Mereka tampak sibuk sampai tak memperdulikan Alisya yang sedang menatap mereka dalam diam.
”Sepertinya ini harus diabadikan!” pikir Alisya yang kemudian dengan cepat masuk kedalam kamarnya dan mengambil sebuah kamera digital hologram lalu memotret mereka tanpa disadari oleh mereka semua.
Alisya tersenyum puas melihat mereka disana. Sudah lama sejak terakhir kali Alisya merasa rumahnya jadi lebih hidup berkat kedatangan Akiko dan Ryu serta Tante Loly yang membuat pagi hari bisa sangat heboh dibandingkan dengan motor bogar yang sedang dipanaskan.