Chapter 173 - 8 3 (1/2)

Tak melihat Alisya dikerumunan teman-temannya, Adith segera mencarinya kemana-mana. Dari kejauhan Adith melihat Alisya yang masuk kedalam rumah Zein. Adith dengan cepat mengikuti Alisya dan segera menuju ketempat dimana Alisya sedang berada.

Setelah masuk, Adith akhirnya melihat Alisya sedang mengambil segelas air minum dan terduduk ke kursi lalu langsung meneguknya dengan cepat. Saat Alisya kembali berdiri untuk mengembalikan gelasnya, Adith sudah berada dibelakangnya ingin mengejutkan dirinya.

Adith datang mengendap endap dibelakang Alisya untuk membuatnya terkejut. Dengan perlahan ia mengambil satu buah pisang dan menodongkannya tepat di bagian tulang lumbalesnya (Ruas tulang belakang diatas pinggang).

Alisya yang kaget dengan refleks langsung menarik tangan Adith dan memasang posisi untuk membantingnya. Adith melayang keudara dengan posisi bagian belakang akan menyentuh lantai namun Adith dengan lincah mendaratkan kakinya kebawah terlebih dahulu.

Adith yang tak mau kalah juga melakukan hal yang sama dengan berputar arah lalu dengan sedikit teknik bantingan paha yang dengan memperkuat kuda-kudanya agar Alisya tidak benar-benar jatuh kelantai namun mendarat sempurna dihadapannya.

”Kenapa kau selalu saja bersikap usil padaku?” Alisya dengan cepat memutar tubuhnya dengan menyerang kepala Adith yang dapat dihindari oleh Adith dengan cepat meski ia bisa merasakan kuatnya tamparan angin yang mengikis dagunya.

”Kau selalu menarik perhatianku untuk selalu menggodamu!” Adith dengan cepat berada dihadapan Alisya saat Alisya sudah berdiri dengan tegak dari tendangan memutarnya.

Alisya yang kaget melihat Adith sudah berada dihadapannya membuat Alisya dengan cepat memegang garpuk yang kemudian ia tusukkan kearah Adith yang dengan susah payah Adith hindari. Alisya kembali melayangkan serangannya. Kecepatan Alisya yang hampir tak bisa ditandingi oleh Adith membuat Adith dengan cepat meraih piring keramik yang berada tak jauh dari sisinya yang ternyata dapat dengan mudah hancur karena tekanan dari perlindungan Adith dan Tusukan kuat dari Alisya.

Alisya tersenyum melihat garpunya yang membengkok seketika dan keramik Adith yang terbelah menjadi beberapa bagian, saling berpandangan sejenak mereka berdua melirik kearah yang berlawanan. Alisya melihat pisau disisi belakang Adith dan Adith melihat nampan besi yang berada disisi belakang Alisya.

”hemmm,, aku tau dalam hal keahlian, aku mungkin takkan bisa mengalahkanmu!” ucap Adith sambil terus menjaga jarak agar bisa dengan cepat mengambil nampan nya. Jika ia mengambil pisau dibelakangnya maka Alisya akan dengan mudah melebihi kecepatannya dan menghentikannya.

”Dan aku takkan bisa menang dari kelicikkanmu!” Alisya seolah bisa mengetahui apa yang akan dilakukan Adith ketika melirik barang yang berada dibelakangnya.

Dengan satu gerakan kecil Alisya dengan cepat menendang nampan yang akan diambil oleh Adith dan berhasil meraih pisau dibelakang Adith setelah sebelumnya sempat dihentikan oleh Adith. Alisya dengan cepat menodongkan pisaunya keleher Adith dan tersenyum puas.

”8 : 3 , meski aku pernah kalah dari mu beberapa kali, sepertinya kau takkan mampu mengalahkanku dalam hal ini” ucap Alisya masih dengan pisau yang ujungnya melekat pelan dileher Adith.

”Planngggg.... Plaaaang....” sebuah pukulan nampan mendarat dikepala Adith dan Alisya dengan keras.

”Jangan bermain-main dengan barang kesayangan ibu-ibu! Jika kalian ingin saling menyerang biar ibu perlihatkan seperti apa itu menyerang yang sebenarnya!” Ibu Zein sudah memegang sapu ijuk yang cukup panjang.