Chapter 145 - Kusam dan Jelek (2/2)

”Tapi seandainya kemarin saya tidak pulang, hari ini mungkin saya bisa berada disana saat Alisya sadarkan diri.” Ibu Adith kembali berbicara setelah meneguk segelas air putih sampai ludes untuk menenangkan diri.

”Kamu kan bisa melihatnya hari ini, sekarang mandilah terlebih dahulu agar Alisya senang melihatmu dalam keadaan segar. Bukan 5 L seperti sekarang ini!!!” tawa Ayah Adith melihat wajah kusam istrinya yang biasanya terlihat selalu cantik dan bersih. Keadaan ibu Adith sangat dipahami suaminya karena kekhawatiran seorang ibu kepada anaknya kadang membuatnya tidak mengurus diri dan hanya mementingkan anaknya saja.

****

Alisya tengah terduduk setengah bersandar memandang kearah jendela saat Ibu Adith masuk kedalam ruangannya. Alisya yang semula berada diruang yang penuh dengan peralatan yang membantunya melewati masa kritisnya kini telah berada diruang yang lebih nyaman dan luas dengan hanya selang infus yang masih melekat ditangannya.

”Kamu sendirian? tidak ada yang menjagamu?” ibu Adith menyerbu masuk saat melihat tak ada satupun orang yang berada diruangan tersebut sembari meletakkan bunga dan buah yang ia bawa.

”Tante, Om,!!!” Alisya langsung memperbaiki posisinya ketika melihat Ayah dan Ibu Adith masuk menghampirinya. Ia bermaksud untuk menyalami keduanya namun dihentikan oleh Ayah Adith dengan suaranya yang berat dan wibawa.

”Kau sudah terlihat lebih segar sekarang!!! Tidak usah memaksakan diri, duduklah dengan nyaman.” Sapa Ayah Adith dengan penuh senyuman khas seorang ayah.

”Iya om terimakasih, tadi ada Ayah bersama nenek disini tapi mereka semua Alisya suruh keluar karena wajah mereka kusam dan jelek! Butuh usaha sih untuk membuat mereka segera pergi membersihkan diri,,,” Alisya tertawa cekikikan melihat ekspresi Ayah dan neneknya sewaktu Alisya baru saja sadar dan langsung mengomentari wajah Ayah dan neneknya.

”Kita bisa sehati yah? Om juga tadi langsung mengomentari wajah Ibu Adith karena terlihat kusam dan jelek!” senyum Ayah Adith dengan mengerling nakal kearah Alisya yang disambut tawa cekikikan Alisya yang tak menyangka kalau Ayah Adith yang berkesan tegas penuh wibawa ternyata bisa juga bercanda dengan baik.

”hahahahaha, bagus Om!!! Om memang mantuuull” Alisya menaikkan jempolnya dengan senyuman lebar yang mengukir di wajahnya yang pasih.

”Plakkk... anak ini, sudah sebulan baru sadar kau hanya bisa mengatakan itu??? apa kau tidak tau kalau kami sangat mengkhawatirkan dirimu??” Ibu Adith memukul Alisya pelan karena kesal melihat wajah sumringah Alisya yang tampak seolah tak terluka parah dan tak pernah mengalami kejadian mengerikan sebelumnya.

”Tante,, orang lagi sakit masa dipukul sih.. harusnya kan dimanja-manjain begituhh” seru Alisya protes mengelus bahunya yang tak merasakan sakit namun sengaja berakting manja untuk menarik perhatian ibu Adith.

”Ohh... jadi kamu bisa merasakan sakit yah??? sini tante tambahin lagi biar kamu tau gimana rasanya sakit!!! ini rasain yang ini, ini juga, ini lagi...” ibu Adith menghujani Alisya dengan banyak cubitan-cubitan lembut yang membuat Alisya tertawa karena geli.

Melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat bahagia dan tertawa membuat ayah Adith pun ikut tertawa karenanya. Rasa syukur didalam hatinya tak pernah habis karena Alisya telah membawa sebuah sinar di kehidupan mereka dan keselamatan Alisya adalah sebuah keajaiban yang tak pernah disangkanya.