Chapter 116 - A Chan. (2/2)

”A channn...” Akiko menghambur kearah Alisya begitu melihat Alisya masuk sedang ia sudah cukup lama menangis.

Alisya bukannya menenangkan Akiko dengan memeluknya, namun malah langsung memelintir lehernya dan menjepitnya dilengan kirinya.

”Siapa yang menyuruhmu menangis ha??? bukankah aku menyuruhmu untuk tidak perlu menghawatirkan aku?” Alisya memarahinya menggunakan bahasa jepang dengan suara yang dingin.

”Maaf, maaf,, tapi aku sangat khawatir!” Akiko bersuara serak dalam kuncian lengan Alisya.

”Kenapa kau harus menyiksa setiap orang yang menyayangimu sih!” pukul nenek Alisya gemas dengan sikap yang dilakukan Alisya.

Pukulan nenek Alisya yang dijatuhkan secara beruntun di atas tubuh Alisya membuat Alisya melepaskan kunciannya dari leher Akiko. Akiko yang sebelumnya menangis tersedu-sedu akhirnya tertawa melihat keakraban Alisya dan neneknya. Bahkan kakeknya yang baru datang pun ikut tertawa melihat tingkah nenek dan cucu yang seperti kucing dan tikus itu.

”Alisya...” suara kakeknya terdengar berat menghentikan langkah Alisya yang berlari menghindari neneknya yang sudah terjatuh di atas sofa karena kelelahan.

Alisya memandang wajah serius kakeknya sedangkan Akiko dengan cekatan mengambilkan nenek Alisya air minum untuk melepaskan lelahnya yang sudah terbatu-batuk pelan karena mengejar kelincahan Alisya.

”Ikutlah keruangan denganku, ada yang harus aku bicarakan denganmu!” ajak kakek Alisya menuju ke ruangan kerjanya.

Alisya memandang lekat ke arah neneknya dan mengikuti langlah kakeknya setelah mendapatkan anggukan persetujuan dari neneknya.

”Kau tahu apa resiko yang sudab kau lakukan malam ini kan?” Kakeknya membuka suara saat mereka sudah berada didalam ruang kerjanya. Alisya hanya mengangguk pelan memahami arah pembicaraan yang dimaksudkan oleh kakeknya.

”Dengan kehadiranmu di jepang serta kemunculanmu hari ini sudah mendapat perhatian yang sangat mencolok di semua organisasi dan tentu saja selain karena wajahmu yang sangat mirip ibumu, kehadiranmu juga telah lama membuat mereka menaikkan waspada sejak pertama kali ibumu mengirim fotomu dulu!” jelas Kakeknya lagi setelah melihat ekspresi Alisya yang sudah siap untuk mendengarkan semuanya.

”Tapi aku baru naik kelas 3 SMA kek? mana mungkin aku bisa memimpin seperti Ibu? kakek bermaksud untuk segera mengumumkan kehadiranku kan?” Alisya sudah mengetahui mengenai hal ini saat ia mencari tahu banyak hal tentang ibunya. Setelah melihat reaski paman Yoshio, Alisya paham betul mengenai apa yang akan terjadi kedepannya.

”Aku tau, tapi apa yang kamu lakukan hari adalah sebuah ledakan besar yang dapat membuat seluruh organisasi dalam kepanikan! Yoshio sudah mengatur beberapa hal namun sepertinya itu akan sulit baginya jika kau tak membantunya dengan menghadapinya secara langsung!” ucap kakeknya lagi dengan penuh kelembutan dan pertimbangan.

”Baiklah, aku akan mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku lakukan! tapi aku tak ingin terlibat terlalu dalam dengan organisasi ini, biarlah paman Yoshio yang menangani semua ini. paman Yoshio lebih berpengalaman dibanding diriku!” Alisya yakin betul bahwa dia belum dan tidak mampu berurusan dengn organisasi seperti apa yang sudah dilakukan ibunya.