Chapter 108 - Analisis Bodoh (2/2)

”Selain itu, jika nilainya sempurna itu artinya dia menyamai tingkat Adith. Tentu saja mustahil, Adith adalah orang yang paling jenius disekolah ini. Bahkan Zeinpun tak mampu menyamai rekor Adith dengan hanya mendapatkan nilai kurang 3 poin dr Adith. Itu artinya Alisya pasti melakukan kecurangan” tambah yang lainnya dengan nada sombong.

Aurelia dengan akuh melangkah maju kemudian melihat lambang kelas di baju para siswa itu.

”Mia 5 dan Mia 6! pantas saja.. kalian berada jauh dari kelas Mia 2 sehingga tak tau apapun. Bahkan kebodohan kalian yang mendekati taraf Idiot!” Aurelian memandang mereka dengan pandangan merendahkan.

”Apa maksudmu??? Kau...” mata mereka membesar dengan penuh kesal namun seketika terhenti oleh tatapan tajam Aurelia.

”Tentu saja aku mengatakan kalian bodoh juga idiot. Sekolah kita memiliki tingkat keamanan dan kerahasiaan sangat tinggi yang bahkan mendapatkan pengakuan dari Cybercrime indonesia. Metode ujian serta pemaketan soal menggunakan komputer yang hanya berada pada ruang kepala sekolah dan hanya dibuka oleh kepala sekolah saja yang bahkan tak memberikan seekor lalat masuk sudah sangat tidak mungkin untuk Alisya melakukan kecurangan. Apalagi untuk mencuri soal tersebut karena ruang kepala sekolah yang terbuat dari bahan-bahan luar biasa yang digunakan sebagai pembuatan brangkas terketat dunia” Ucap Aurelia menyilangkan kedua tangannya dengan senyuman sinis.

”Bisa jadi Alisya mungkin memiliki kedekatan dengan kepala sekolah sehingga dia...” siswa itu dengan cepat menutup mulutnya yang sudah semakin melenceng jauh.

”Itulah kenapa aku bilang kalau kalian idiot! jika kau berkata bahwa Alisya curang, apakah kau bisa memberikan bukti untuk membuat argumenmu itu lebih kuat? tidak kah kau berpikir bahwa jika Alisya memang telah berbuat curang tentu saja dia akan segera ditemukan dan nilainya takkan dipajang di monitor sekolah ini.” senyum Aurelia sinis.

Mereka akhirnya terdiam seribu bahasa mendengar apa yang dikatakan oleh Aurelia.

”Benar, dia pasti akan segera dilaporkan atau dipanggil ketimbang nilainya di umumkan seperti ini!” jelas yang lain mulai ragu terhadap apa yang sudah mereka pikirkan mengenai Alisya. Mereka akhirnya pergi dengan kesal tak bisa menang dalam perdebatan itu.

”Apa aku tak salah dengar? kenapa kau membela Alisya? Aku fikir kau sangat membencinya karena sudah merebut Adith dari dirimu.” ucap Wina heran yang sedari tadi menyimak perdebatan Aurelian dengan 3 orang siswa dari kelas lain.

”Aku juga tak tau kenapa aku melakukan hal ini!” Aurelia mentup wajahnya bingung. Ia bahkan melakukan hal tersebut secara tak sadar meski begitu ia tak menyesali apa yang sudah dia lakukan. untuk sesaat Aurelia merasa bangga pada dirinya sendiri.

”Ternyata hatimu lembut juga!” ucapnya mengelus kepala Aurelia yang membuat Aurelia risih.