Chapter 102 - Sudah ku duga (2/2)

”Ehem... aku bingung saat melihat Adith menuju kesini ternyata itu karena Alisya? apa yang kalian lakukan sampai tidak pulang sementara malam sudah semakin larut?” Riyan masuk kedalam kelas melihat semua orang dikelas Mia2 lengkap. Riyan se sekali mencuri pandang melihat ke arah Karin. Ia datang bersama Zein.

”Um.. tidak seperti kalian yang memiliki kecerdasan tinggi, kami harus melakukan belajar ekstra pada sore hari sebagai tambahan untuk siap mengikuti ujian minggu depan!” Karin sengaja menjawab mewakili teman-temannya yang tentu saja akan takut bersuara dihadapan para elite itu.

Adith tidak memperdulikan mereka dengan larut bersama Alisya membahas masalah penyelesaian linier yang bisa menggunakan 4 metode salag satunya menggunakan metode substitusi. Alisya dan Adith larut dalam perdebatan sedang yang lain hanya memandang dengan tatapan bingung.

”Pasangan yang cocok! kami sudah se canggung ini tapi dengan santainya mereka berdebat!!!” Adora menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

”Sepertinya menarik, mungkin sedikit berbera dengan kalian. para Elite hanya melakukannya selama 2 hari saja untuk seluruh mata pelajaran yang akan diujikan, namun dibanding kami semua dia lebih cepat. Kami bahkan memerlukan waktu lebih lama sedang dia hanya menyelesaikannya dalam 2 jam.” terang Zein duduk bersandar di meja bagian depan.

”Hal yang seharunya dikerjakan selama seminggu dia lakukan dalam waktu 2 jam? Aku tau dia jenius tapi wowww...” puji Feby tak tau kalimat apa lagi yang bisa dia ucapkan karena kagum.

”Dia manusia kan???” bisik Emi takjub dengan kejeniusan Adith yang luar biasa.

”Para Elite benar-benar sesuatu! meski tak sebanding dengan Adith, waktu dua hari adalah waktu yang cukup cepat! sedang kita harus mengerjakan semuanya dengan 2 waktu dalam seminggu!” tambah Gina lemas.

”Lalu kenapa dia belum pulang?” Yogi berkata sambil melihat kearah Adith.

”Aku juga tak tau, sepertinya itu karena ia tidak melihat Alisya keluar dari kelasnya dan memilih menunggu sampai Alisya keluar!” Riyan mulai mengambil tempat duduk melihat ke arah meja yang penuh dengan tumpukan buku.

”Apa kami boleh membantu?” Zein tertarik untuk memberikan mereka bimbingan melihat keseriusan mereka dalam belajar.

”Benar, selain membimbing kalian kami bisa mengilas balik materi-materi yang sudah ada!” tambah Riyan semangat.

”Bagaimana? apa kalian tidak mau?” Zein bingung dengan reaski terkejut mereka.

”Tentu saja kami mau!!!” jawab mereka serempak membuat Adith dan Alisya menoleh ke arah mereka.