Chapter 89 - Negosiasi??? (2/2)
”Tentu saja jangan khawatir, apakah kalian baik-baik saja?” Karan memperhatikan mereka dengan pandangan khawatir.
”Kami baik-baik saja, Beni dan Gani mengalami beberapa hantaman tadi! dan Adith...” Emi berusaha menjelaskan, Karan menepuk pundak mereka lembut.
”Adith dan yang lainnya baik-baik saja! Aku sudah melihatn kondisinya. aku minta kalian tetap berada disamping Adith sekarang agar dia sadar ada yang bisa menjelaskan situasinya kepada dia.” Pinta Karan cepat.
”Aku dan Yogi akan segera kesana!” tegas Rinto meyakinkan Karan.
”Kami akan melihat Beni dan Gani” ucap Adora melangkah pergi setelah mendapat anggukan dari Karan.
”Baiklah, aku akan beri waktu 15 menit! Jika dalam waktu itu kalian tidak berhasil maka kami akan masuk melumpuhkannya!” Pak Jonatan mengingatkan Karan setelah lama berpikir.
”Anda pasti tau betul bahwa itu tidak perlu. Jika itu terjadi, maka anda akan kehilangan seluruh pasukan Anda. Selain itu, keberadaanya bukanlah sesuatu yang bisa diungkapkan dan posisi anda akan berada dalam bahaya” Terang Karan tersenyum penuh keyakinan bahwa pak Jonatan tidak akan berani mengambil tindakan bodoh tersebut.
Karan Akhirnya masuk kedalam dan menemukan Karin yang masih menjaga jarak dari Alisya dan terus membujuknya sedang Alisya terdiam mematung tak bergeming dengan senjata pistol yang menempel di mulut seorang pria yang terlihat berusia sekitar 30 an melekat rapat di dinding.
”Kak Karan, aku perlu mendekati Alisya untuk menyuntiknya. Tanda merah di jam tangannya sudah menunjukkan angka 95%. Ini akan sangat berbahaya baginya!” Karin langsung bercucuran air mata saat melihat kakaknya datang.
”Jangan gegabah, jika kau menyuntiknya dalam keadaan seperti itu maka akan jauh lebih berbahaya! Otaknya akan mengalami kematian permanen karena shock! tenanglah, aku akan coba membujuknya!” Karan menenangkan Karin yang hampir saja mengambil langkah yang sangat ceroboh.
Karin mungkin bisa menyelamtkan Alisya namun tanpa disadarinya dapat membuat sahabatnya berada dalam bahaya karena tindakannya tersebut.
”Alisya... kau bisa mendengarku? tolong jauhkan senjatamu dari mulutnya. Semua teman-temanmu baik-baik saja, kau sudah melindungi mereka dengan baik!” Bujuk Karan dengan sangat hati-hati. Karan bisa melihat kalau pria itu sudah terengah engah menahan sakit dikedua tangannya.
”Alisya,,,,” Karin bersuara serak karena Alisya masih tetap dengan posisinya.
”Sssttt... tak apa, biar aku saja!” Karan menghentikan Karin dengan cepat. Baru kali ini ia melihat Karin tidak bisa membujuk Alisya dengan mudah.
”Apa ini ada hubungannya dengan Adith??” Batin Karan memikirkan kemungkinan terbesar yang membebani Alisya.
”Alisya Adith.....” Alisya tergerak saat Karan menyebutkan nama Adith.
”Aku tak bisa melindunginya kak, aku tak bisa melindungi siapapun! Aku tak bisa melindungi Ibu dan sekarang aku tak bisa melindungi Adith! Aku bahkan membiarkan teman-temanku disakiti dengan mudah dan aku hanya berdiam diri melihat semua itu! Suara Alisya berat dan dingin.