Chapter 80 - Mesuneko Sejati (2/2)

”Kayaknya nenek terlalu berlebihan.. ” elaknya dengan wajah merona.

Nenek Alisya hanya tersenyum melihat tingkah malu cucunya yang dengan cepat menghabiskan susu putih hangat yang sedikit mampu membakar lidah jika diteguk dalam satu kali helaan nafas, tapi Alisya tak merasakan itu karena fikiran dan hatinyalah yang lebih panas.

”Alisya, semalam kamu bertemu dengan Adith? adakah yang Adith katakan padamu?” neneknya bertanya dengan ragu.

Alisya batuk dan tak bisa mengendalikan ekspresinya.

”Nenek kenapa sih? Nggak ada apa-apa kok, emang Adith mau bilang apa ke Alisya?” suara Alisya bergetar dan langsung mengipas ngipas wajahnya.

Melihat ekspresi malu Alisya, neneknya yakin kalau Adith sepertinya belum memberitahukan yang sebenarnya kepada Alisya.

Selama perjalanan kesekolah, Alisya hampir saja terlambat karena berjalan tanpa arah dan berputar-putar. Bukan karena ia tidak fokus melainkan hati dan perasaanya memberikannya emosi yang tidak stabil.

Begitu masuk pintu gerbang sekolah, suasana dan tekanan yang dirasakan oleh Alisya begitu kuat dan berat. Alisya tak mengerti apa maksud dari tatapan dan bisikan semua orang yang seolah olah dirasanya menghujam keseluruh tubuhnya begitu pula saat ia menuju ke kelasnya.

”Ehemmm. Morning princess, jadi gimana semalam?” Karin langsung menghalangi jalan masuk Alisya ke kelas

”Istimewah!” tegas Alisya dengan suara yang dibuat semangat untuk membuat Karin kesal.

Karin adalah tipe pembuat onar yang semakin berusaha menganggu jika Alisya nampak malu-malu atau menghindari masalah. Untuk itulah ia seolah sengaja membuat Karin jengkel dan cemburu.

”Mesuneko sejati!” Karin ngedumel kessal.

”Alisya, jadi itu beneran??” pandang Adora dengan wajah penasaran yang berbinar-binar.

”Apanya yang beneran?” tanya Alisya malas dan melemparkan tubuhnya duduk di atas kursi. Ia merasa perjalanan yang di laluinya hari ini menuju ke sekolah bukanlah melewati jalan beraspal yang mulus, melainkan mendaki ke puncak gunung yang berbatu. Entah sejak kapan terakhir kali ia merasa sampai selelah itu.

”Kamu udah jadian sama Adith?” serang Beni sedikit takut.

”Jadian? Pacaran maksudnya?” Emi maju selangkah dengan semangat.

”Jadi kalian udah pacaran, sejak kapan?” tambah febi

Alisya terbatuk menghela nafas, pertanyaan yang mereka lontarkan bahkan mengalahkan kecepatan kilat di langit dan tanpa spasi membuat Alisya menatap tajam ke arah Karin.

”Bukan aku!” Karin membuang wajahnya cuek membuat Alisya mendekap leher Karin dan memelintirnya dengan kuat.

”Ohhok, ohokkk! Bukan aku wanita bar-bar!!” Karin berusaha melepaskan diri dari dekapan Alisya di lehernya dengan memukul-mukul tangannya.

”Bukan Karin, tapi liat ini. Sepertinya saat Adith menciummu ada beberapa orang yang memotret dan menyebar luaskannya di media sosial” terang Rinto setelah yakin bahwa Alisya sudah melihat foto dirinya yang tampak di cium oleh Adith.

Alisya melepaskan kaitan tangannya dileher Karin dan membeku dalam diam. Alisya kaget melihat gambar tersebut yang mana wajahnya tak terlihat sepenuhnya namun dengan mudah dikenali oleh teman-teman sekelasnya.

”Tapi berita itu pada akhirnya sudah di hapus dan di hentikan, dan aku rasa itu adalah ulah Adith!” tambah Yogi.

Setelah merasa bisa bernafas dengan mudah, Karin memperhatikan dengan lekat wajah Alisya. Karin bisa mengetahui ekspresi khawatir diwajah Alisya. Jika wajahnya sudah dengan mudah beredar di dunia maya, maka kemungkinan besar Black Falcon akan menemukan dirinya. Meski Alisya sudah berusaha untuk mengubah dirinya menjadi lebih feminim dengan rambut panjangnya yang selalu ia biarkan terurai indah.