Chapter 56 - Jangan Pernah Lakukan itu Lagi (2/2)

”Kalian semua keterlaluan!” sela Alisya kesal.

Semuanya segera makan dan menghabiskan hampir seluruhnya karena tak disangka Adith mengundang seluruh siswa kelas MIA 2 serta orang-orang terdekat Alisya.

Alisya merasa bersyukur bahwa apa yang ditakutkanya tidaklah terjadi dan malah mendapatkan momen berharga yang takkan pernah bisa dia lupakan sebelumnya.

Adith tersenyum puas menyaksikan ekpresi wajah bersyukur Alisya yang tampak berkaca-kaca.

”Jangan ditahan, kalau mau menangis. menangislah dipelukanku!” goda Adith setengah berbisik.

Alisya berbalik dan melirik tajam ke arah Adith.

”Aku bisa menebak bahwa acara ini memang dipersiapkan oleh ibumu tapi semua yang terjadi tadi pastilah ulahmu!” Alisya menghadap dihadapan Adith serius.

”Bukankah tidak seru jika kejutan diketahui dengan mudah?” senyum Adith menggoda Alisya.

”Jangan pernah lakukan itu lagi” tatapan Alisya tajam dengan wajah yang serius dan meyakinkan.

Adith melihat tatapan ini bukanlah sebuah perintah melainkan sebuah permintaan yang benar-benar harus dilakukan apapun yang terjadi.

”Maafkan aku!!!” Elus Adith kekepala Alisya menenangkannya.

Adith paham jika itu orang lain mungkin hanya akan berlalu begitu saja dan meninggalkan sedikit kenangan special tapi Alisya berbeda. Apa yang dilakukannya tadi mungkin saja terjadi dan Alisya akan berada di posisi dimana ia akan dengan mudah kehilangan orang-orang terdekatnya. Setelah mengetahui Alisya lebih dalam, Adith seperti bisa mengetahui dan memahami Alisya lebih baik lagi.

”Alisya,,,” Ibu Adith datang menghampiri ditemani ayah Adith.

”Iya tante,,,” Nada suara Alisya lembut dan menghangatkan.

”Maukah kamu memanggilku dengan sebutan Mama?” pinta ibu Adith memandangi Alisya penuh kasih.

Alisya bingung menatap Adith yang membuang muka dan neneknya yang membalas dengan anggukkan pelan.

”Tapi tante...” Alisya tidak paham maksud ibu Adith.

”Alisya, saya sejak dulu menginginkan seorang anak perempuan dan saya merasakan kedekatan emosional yang sangat tinggi terhadapmu. Bisakah saya menjadi pengganti Ibumu, meski saya tau saya tidak cukup baik untuk menjadi seorang ibu untukmu!” suara ibu Adith terdengar serak.

”Tidak tante aku berterimaksih banyak karena tante mau menganggapku sebagai anakmu!” Alisya mengambil tangan ibu Adith cepat untuk menenangkannya.

”Jadi aku bisa menjadi ibu mu?” tanya ibu Adith dengan tatapan hangat.

”Iya, tentu saja tante... maksudku mama” Ibu Adith langsung memeluk Alisya begitu mendengar panggilan itu.

”Terimakasih,,, akhirnya aku bisa memelukmu kembali Quenby ku sayang” bisik ibu Adith ditelinga Alisya. Alisya kaget mendengar panggilan ibu Adith kepadanya.

”Mama kok...” Alisya menatap dengan wajah bingung begitu ibu Adith melepas pelukannya.

”Itu panggilan sayang dari ibumu kan?” ucap ibu Adith menjepit dagu Alisya.

Alisya kemudian paham maksud dari panggilan dari ibu Adith. sudah lama sejak terakhir kali nama itu disebutkan olehnya sehingga ketika dia mendengar nama itu dia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

Melihat sikap Alisya dan ibunya. Adith tersenyum manis sambil membuang pandangannya ke langit yang tampak semakin larut.

”Bapak juga senang kalau Alisya menjadi menantu bapak!” Goda ayahnya ke telinga Adith.

Adith hanya tersenyum melepas pandangannya ke Alisya yang kini tengah bercengkrama heboh dengan teman-temanya. sedangkan nenek Alisya dan ibunya kembali kedalam rumah memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk bersantai.