Chapter 49 - Menggantikan Karin (1/2)

2 jam sebelumnya...

”Loh kak Karan kok ada disini... bukannya kakak ada shift yah malam ini?” Alisya heran melihat Karan yang harusnya masih berada dirumah sakit karena shift malamnya.

”Aku kesini pas dengar Karin jatuh pingsan karena kelelahan” Karan berusaha menjawab lembut dengan semua kesibukan yang dia hadapi.

”Karin pingsan? kapan? kok aku nggak tau sih! terus sekarang dia dimana?” Alisya menyerang Karan dengan wajah khawatir.

”Dia baik-baik saja Sya, cuman kelelahan!” Karan membelai kepala Alisya untuk menenangkannya.

”Karin Pingsan sewaktu kamu ambil peralatan di kelas” Rinto membantu Karan menjelaskan.

”Dia sekarang ada di UKS....” tambah Yogi yang belum menyelesaikan kalimatnya Alisya sudah beranjak pergi.

”Apa cuma aku yang ngerasa kalau dua perempuan itu seperti sepasang kekasih yang mencintai dengan sangat hebatnya?” Yogi berbisik ke arah Rinto dengan dua nampan besar yang Full di kedua tangannya.

Karan tersenyum mendengar ucapan Yogi dan melihat ke punggung Alisya yang berlari menjauh. Bagi Karan, kasih sayang antara Alisya dan Karin jauh melebihi sebuah persahabatan. Mereka bagaikan saudara kembar yang saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain melebih siapapun. Alisya yang tidak memiliki saudara sudah menganggap Karin seperti adiknya sendiri. Karena itulah Karan memperlakukan keduanya sama meski kadang ia sedikit bingung dengan perasaannya terhadap Alisya yang perlahan-lahan terdapat getaran menggelitik di hatinya.

Senyum Karan membuat banyak pengunjung stand memerah merona karena terpana akan ketampanan Karan. Di tambah lagi Rinto dan Yogi yang tidak tergolong biasa saja dari segi wajah, ketiganya memiliki pesona tersendiri bagi setiap yang melihat.

Alisya yang sampai di UKS yang berada cukup jauh dari stand mereka langsung menerobos masuk. UKS yang digunakan sekolah berbeda dengan UKS yang di sediakan oleh sekolah bagi pengunjung yang datang sehingga ruangan itu sedikit sunyi dan kosong. Disana hanya terlihat Karin yang terbaring pucat ditemani ibu Arni.

”Gimana keadaanya bu?” Alisya setengah berbisik.

”Dia baik-baik saja Sya! cuma kelelahan, dia mengambil banyak sekali kegiatan demi tanggung jawabnya sebagai ketua kelas. sepertinya selain karena kelelahan dia pingsan karena seharian belum makan dengan baik terlebih suhu udara saat ini sangat panas sehingga orang-orang akan gampang dehidrasi” Jelas ibu Arni menceritakan kondisi Karin.

Alisya ingat betul kalau Karin harus bolak balik antara meninjau kegiatan olah raga, seni dan juga stand mereka. Dia juga tidak memperhatikan Karin karena sama-sama sibuk dan Alisya juga makan dengan tidak teratur sama seperti Karin. Akan tetapi Alisya sudah terbiasa dengan kondisi ekstrim yang di rasakannya. Berbeda dengan Karin yang sejak dulu terbiasa dimanja oleh kedua orang tuanya dan Karan.

”Oh kamu disini Sya???” Beni datang membawa peralatan pembersih debu dengan tekhnologi uap.

”ummm” Alisya menjawab seadanya sambil membelai wajah Karin yang pucat pasih. Kelelahan sangat terlihat dari raut wajahnya.

”Gimana kondisi Karin?” Gina masuk terburu-buru.

”Tidak ada yang perlu di khawatirkan, ada apa?” Ibu Arni bingung dengan ekspresi Gina.

”Karin kan harus jadi perwakilan kelas sebagai Ratu Sekolah bu, gimana dong? semuanya sudah pada siap lagi!” Gina bingung harus bagaimana melihat Karin yang terbaring lemas.

”Ya udah, Karin nggak bisa ikut!” Jawab Alisya santai.

”Gila kamu,,, kelas kita bisa kena pinalti lah... pengurangan poin akan didepatkan oleh seluruh siswa bagi kelas yang tidak mengikuti kegiatan yang diadakan” Beni melirik Alisya heran yang dibalas lirikan tajam Alisya membuat Beni seketika menangkupkan kedua tangannya meminta maaf atas ucapannya yang pertama.

”Terus gimana? Karin kan masih sakit!” tegas Alisya lagi.

”Gini aja, Alisya kamu ganti in Karin buat jadi perwakilan sekolah!” Pinta ibu Arni lembut.

”Tapi bu saya... ” Alisya berusaha menolak.

”Ayolah Sya, kamu nggak liat Karin berusaha semampunya demi kita semua.. Karin pasti akan lebih terbatu jika kamu bersedia menggantikannya” Bujuk Gina.

”Dengan begitu dia bisa beristirahat lebih banyak” tambah Beni lebih lembut dari sebelumnya.

Alisya sebenanrya merasa tidak enak terhadap Karin yang harus mengambil bagian semuanya demi mencegah dirinya agar tidak terlibat pada kegiatan sekolah yang akan menuntut dirinya berhadapan dengan banyak orang. Tapi karena itu pula Karin akhirnya jatuh kelelahan. Alisya berpikir mungkin sebaiknya dia juga bisa membantu Karin setidaknya hanya untuk berdiri di panggung saja. Meski harus berhadapan dengan ratusan orang, akan lebih baik jika harus memaksakan kondisi Karin.