Chapter 47 - Kamu Cantik Hari Ini (2/2)
”Aku kan sahabatmu, aku bisa melihat perubahan ekspresimu dengan mudah” Karin mengajak Alisya duduk.
”Aku,, Kar...” Karan datang tepat sebelum Alisya mulai membuka mulutnya.
”Kenapa? kau mau mengungkap ke aku? wajah kamu serius gitu!” Karan menyela sembari menyodorkan makanan kesukaan Alisya.
”Nasi goreng sari laut???” Mata Alisya teralihkan oleh makanan yang di bawa oleh Karan.
”Yup, Nasi goreng berisi cumi dan udang serta super pedas kesukaanmu!” ucapnya sambil menaruhnya dihadapan Alisya.
”Kalau aku kak??” Karin bertanya dengan antusias.
”Tuh bagi dua ama Alisya!” tunjuknya ke piring Alisya yang hanya cukup untuk seorang saja.
Alisya yang semula senang kembali muram karena porsi kecil karan yang tidak cukup untuk mereka berdua.
”Dasar pria jahat!!! ku doakan kau jomblo semumur hidup” Kutuk Alisya dan Karin bersamaan.
”Gampang! aku akan mengguna gunai Alisya untuk menjadi istriku!” Karan cuek tak peduli sambil berlalu pergi.
”Kau,,,, jika dia kemari lagi bawa dengan sebungkus kopi” Alisya mencekik Karin melampiaskan rasa kesalnya.
”Diam kau! cepat makan atau aku yang akan menghabiskan semuanya! Karin melepaskan cekikan Alisya dan mengambil sendok.
”Ahhhhh,,,,” Alisya membuka mulut protes dan dengan cepat Karin menutup mulut Alisya dengan satu suapan penuh.
Mereka tertawa sambil saling menyuapi satu sama lainnya.
”Tidak perlu khawatir, aku masih punya beberapa daging untuk membuat kalian kenyang!” Rinto datang dengan sepiring penuh daging.
”Tidak lengkap kalau tidak minum dengan ini...” Yogi mengangkat 2 botol besar minuman bersoda.
Teman-temannya juga ikut bersama mereka dengan membawa beberapa hidangan yang dalam seketika meja mereka penuh dengan berbagai jenis makanan.
Ibu Arni sangat terharu dan bahagia dengan suasana hangat mereka pada malam itu. mereka semua makan dan bercanda ria melepas seluruh penat dan lelah setelah bekerja seharian penuh.
Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam sehingga lingkungan sekolah perlahan-lahan mulai gelap dan sunyi. semua orang sudah berberes beres dan beberapa temannya sudah mulai beranjak pulang satu persatu.
”Alisya, kami balik deluan yah...” Izin yang lainnya di balas lambaian oleh Alisya.
”Hati-hati di jalan” teriak Karin.
Karan yang belum beranjak pulang mendekati Alisya yang sedang membersihkan meja.
”Kau sudah tidak terpengaruh dengan suara bising lagi. Tak ku sangka perubahanmu bisa sebaik ini” Suara lembut Karan mengagetkan Alisya.
”Tidak kau salah, ini semua berkat Alat yang diberikan Adith kepadaku!” Alisya menunjukkan telinganya dengan gerakan halus dan senyuman manis yang sangat dalam akan makna.
Tanpa bertanya lagi Karan tau bahwa Alisya yang jarang memperlihatkan senyumnya itu menandakan bahwa Adith adalah orang yang sudah mengambil posisi penting dihati Alisya. Meski Alisya terlalu bodoh dan angkuh untuk mengakui perasaan milikinya.
”Aku rasa dia orang yang sangat hebat karena bisa menciptakan alat secanggih itu untukmu. Alat secanggih itu tentu saja memiliki biaya yang tidak sedikit tapi sepertinya itu sepadan dengan kegunaanya” Tetang Karan memandnag lekat wajah Alisya. Ia tidak ingin melewatkan sedetikpun ekspresi Alisya kali itu.
”Sering seringlah seperti itu!” tambah Karan.
Alisya ”....” terdiam dengan wajah bingung.
” Kau sangat manis dengan wajah yang tersenyum!” Ucap Karan disamping telinga Alisya dengan hembusan nafas yang hangat.