Chapter 46 - Ini belum Seberapa (2/2)
Penonton yang bingung tetap mengikuti arahan dari Karin untuk mencegah semua kemungkinan yang terkadi terlebih jika alat yang mereka gunakan tergolong dapat membahayakan si pemakai dan juga orang-orang yang berada disekitarnya.
Setelah merasa jarak mereka sudah cukup aman, mereka tidak diberi kesempatan untuk berkedip karena tiba-tiba saja Karan telah melempar Pisau melewati Karin menuju Alisya.
Semua yang melihat berteriak karena takut kalau itu akan mencelakai Karin. Namun setelah mereka perhatikan ekspresi Karin terlihat biasa saja dan tampak bangga sambil menujuk ke arah Alisya. Mata mereka membelalak dan bertepuk tangan riuh begitu melihat pisau itu telah mendarat sempurna di tangan Alisya tanpa melukai Karin juga Alisya.
”Bagaimana bisa???” seorang penonton berteriak penasaran.
”Kamu juga melihatnya kan? pisau itu harusnya sudah menacap di leher Karin” Terang yang lainnya.
”Apa mereka hanya bermain trik?” tambah yang lain.
”Aku rasa Cowok itu hanya mengumpan lemparannya dengan menggertak dan begitu kita berteriak semuanya menutup mata takut untuk melihat kejadian selanjutnya” jelas penonton lain.
”Tidak kalian salah! Coba lihat Pisau yang di pegang Alisya, Pisau itu adalah pisauku yang aku gunakan khusus untuk memotong sayur-sayuran dan bumbu agar kualitas potongannya sangat baik dan rapi itu dapat terlihat dari gagang yang berbeda dengan gagang pisau untuk daging. Jadi pisau yang dipegang Alisya adalah benar pisau yang dilemparkan oleh cowok sebelumnya. Selain itu jika kalian tidak menutup mata, maka kalian akan melihat bagaimana pisau yang sedikit lebar itu, begitu tipis melewati samping leher Karin dan menepis rambutnya. Dan Alisya hanya berputar sedikit memgikuti arah datangnya pisau untuk menghindari tabrakan yang berarti ketika dia menangkap pisaunya!” Rinto menjelaskan dengan kekaguman yang tinggi terhadap ketiga yang juga menonton dan tak berkedip sedetikpun untuk melewati sebuah pertunjukan spektakuler seperti itu.
”Hal ini jangan ditiru di rumah yah???” Yogi muncul menambahkan sambil tersenyum. ”Mereka bisa melakukannya selain karena tentu saja mereka telah banyak berlatih sebelumnya, tapi karena rasa kepercayaan yang tinggi satu sama lainnya.” tambahnya lagi.
Adora, Emi dan Feby tak bisa berkomentar apa-apa. mata mereka terpaku kepada 3 orang yang begitu mempesona dengan gerakan mereka yang begitu indah dan lembut setiap kali mereka saling bertukar pandang untuk aksi beikutrnya.
Pisau yang sudah berada ditangan Alisya kemudian langsung saja menjadi begitu cepat dan tak terkendali dalam membelah-belah bawang merah dan bawang putih serta lombok yang ada dinampannya. Setelah itu nyala apo yang cukup besar membuat bunyi minyak yang sudah berada di kuali yang cukup besar memanas seketika lalu terdengarlah suara khas minyak yang terisi oleh bawang yang sudah di potong-potong dengan halus tadi.
Dengan satu ketukan, Alisya bergerak berganti dengan posisi Alisya sambil melempar pisau dan spatula yang berputar-putar di udara. Begitu jatuh kedua alat tersebut telah berada di tangan Karan dengan halusnya yang kemudian dengan gerakan seksi Karan mengoyang-goyangkan spatulanya dan kuali panas yang menyembur-nyemburkan api memperlihatkan kokohnya tangannya yang berurat.
Penonton dibuat terpaku dan terpesona oleh keseksian dan ketampanan Karan. Kali ini mereka tak memberi kesempatan mata mereka untuk berkedip.
Alisya mengubah musik menjadi lebih selow tapi memmiliki ketukan irama yang keras dan R&B, Karin yang hanya terdiam kini mulai menari dengan gerakan yang pelan namun halus dan sangat lihai. Gerakannya sangat lembut yang sangat kontras dengan pakaiannya berwarna Pink ke unguan membalut tubuhnya yang putih merona.
Ia yang semula dilihat oleh banyak orang memakai celana kaos yang tida begitu ketat dan tidak begitu menampakkan lekuk tubuhnya semakin terpaku karena dengan luwesnya Karin memutar tubuhnya yang ramping dan bajunya berubah menjadi gaun panjang menutupi celana kaos tadi. Gaun itu sangat indah dengan warna yang senada dengan bajunya dimana bagian bawahnya terdapat ukiran kupu-kupu yang menari-nari di atas kelopak bunga ungu yang sangat indah.
”Karin cantik sekali, aku tak menyangka dia bisa menari se lincah dengan gerakan sehalus dan selentur itu” Mata Adora berkaca-kaca karena gerakan indah yang mungkin hanya dapat dilihat jika mereka membayar dengan jumlah besar.
”Bajunya, Bajunya sungguh indah. warnanya, kainnya, motifnya terlihat sempurna di tubuh Karin” tambah Emi.
”Aku merasa sedang berada di festival jepang!” Jelas Yogi yang ikut terpana.
”Lihat Rambutnya yang bergelombang mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh Karin, begitu ia memutar rambutnya langsung terurai cantik karena ikat rambutnya yang terputus oleh kikisan pisau yang dilempar oleh Kak Karan” Tambah Feby menangkup kedua tangannya memandang ketiganya.
Begitu ketukan irama musik telah mulai cepat dan riuh, Alisya sedikit menari santai melempar telur dengan kecepatan tinggi melewati Karin yang menari dengan lincah menghindari telur tersebut. Sedang Karan tanpa melihat dan terus memasak dan sambil mengambil beberapa bahan lain atapun memotong-motong dengan tepat menangkap semua telur yang dilemparkan oleh Alisya.
Semua penonton riuh yang dengan kompak bertepuk tangan mengikuti ketukan irama musik hingga di penghujung musik Alisya melempar nampan-nampan sekali pakai di atas meja yang dengan rapinya mereka berbaris untuk siap diberikan hidangan Yang tentu saja nampan itu melewati Karin yang menari menghundari lemparan Alisya.
Dengan satu gerakan pasti, karan mengangkat kualinya dan memutarnya di tengah meja yang mana Nasi goreng buatannya tidak terhambur keluar malah hanya menunggu sampai si tuan dengan lembut menyediakan dan menempatkan mereka di atas nampan yang sudah tersedia. Tanpa di duga porsi yang disajikan Karan cukup memenuhi 10 nampan yang ada di atas meja.