Chapter 464 - 464. Penjara Bawah Tanah (1/2)
”Aku tahu apa yang harus aku lakukan Putri Emilia. Kamu tenanglah, aku dan Kakakmu pasti akan mengeluarkan Zain dari penjara. Bukan kamu saja yang khawatir. Aku masih punya tanggung jawab dirinya pada Negara karena dia bagian dari SSIA. Pangeran Richard, kita tidak boleh membuang – buang waktu!”.
Ludius meneruskan kembali langkahnya di ikuti Pangeran Richard. Sedangkan Putri Emilia hanya biisa berharap pada Ludius dan Kakaknya.
Karena ini masalahnya dan Zain, Putri Emilia mencoba menemui Ibundanya, yaitu Permaisuri Raja saat ini untuk meminta bantuan. Putri Emilia memang tidak sedekat itu dengan Ibundanya, tapi demi memohon kebebasan Zain, Putri Emilia mengesampingkan egonya.
”Aku harus menemui Ibunda agar beliau mau membujuk Ayahanda Raja agar mau membebaskan Zain sebelum orang yang berniat tidak baik pada Zain menyiksanya tanpa ampun”.
-
Penjara bawah tanah Kerajaan Hardland.
Melalui jalan rahasia, Pangeran Richard mengantar Ludius memasuki penjara bawah tanah. Sebelum memasuki pintu menuju bawah tanah, ada 4 pengawal yang berdiri menjaga pintu menuju bawah tanah mencegat mereka.
”Tunggu! Maafkan kami Pangeran Richard. kami di perintahkan untuk tidak memperbolehkan siapapun memasuki penjara bawah tanah tanpa izin dari Yang Mulia Raja”. Ujar dari salah satu penjaga pintu bawah tanah seraya mengatupkan tangan dan menundukkan setengah badannya.
”Apa kalian juga ingin mencegat Putra Mahkota untuk masuk! Tidakkah kalian takut melanggar titah Yang Mulia Raja! Ini juga demi penyelidikan lebih lanjuut!”. Gertak Pangeran Richard.
Ia tidak ingin memberikan celah pada mereka untuk curiga padanya. Ia menatap tajam dan tegas ke empat penjaga tersebut.
Tidak hanya itu, Ludius juga memberikan gertakan melalui tatapan tajam dan dinginnya. ”Cepat bukakan pintunya! Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni kalian!”.
Ke empat penjaga saling berbisik dan mendiskusikan permintaan Pangeran Richard untuk membiarkannya masuk. Mereka seperti orang yang ketakutan, tapi maklum saja, di dalam kehidupan politik Kerajaan, apabila menyalahi titah dan perintah maka taruhannya adalah NYAWA! Maka dari itu mereka tidak bisa main – main untuk memberikan keputusan.
”Brengsek! Apa kalian ingin menguji kesabaranku. Cepat bukakan pintunya!”. Gertak Ludius kembali.
”Ba.. baik Tu.. tuan, akan segera kam.. mi bukkakan pintunya,” Kata salah satu penjaga dengan gagap. Penjaga tersebut langsung membukakan pintu masuk menuju ruang bawah tanah.
Terlihat sekali ke empat penjaga tersebut sangat ketakutan, keringat yang bercucuran, cara bicara yang gagap sudah jelas menandakan bahwa militer dari Kerajaan Hardland di bagian dalam cukup lemah.
'Hnng.. aku pasti akan membuat perhitungan dengan Kerajaan ini jika berani bermain – main denganku!'. Batin Ludius, ia tersenyum sinis.
”Tuan Lu, jangan anggap kata – kata mereka.”
”Tidak! Jangan pikirkan itu. Lebih baik kita masuk terlebih dahulu,” ujar Ludius dingin, dan di balas anggukkan Pangeran Richard.
Keduanya memasuki sebuah lorong untuk menuruni tangga yang gelap dan hanya di terangi beberapa obor. Dengan di temani seorang pemandu, Ludius dan Pangeran Richard terus mennyusuri lorong tersebut yang kedalamannya cukup untuk menghilangkan jejak bau sebuah mayat jika salah satu tahanan ada yang mati.
Butuh waktu 15 menit untuk menyusuri lorong tersebut, hingga akhirnya sampai di sebuah ruangan yang luas dengan banyak sekali sel besi. Dalam sel besi tersebut di huni oleh banyak sekali narapidana dari berbagai kalangan pria maupun wanita.
Dan lebih mengerikan adalah Ludius menyaksikan sebuah siksaan keji yang di lakukan penjaga sel pada tahanannya. Siksaan tersebuh berupa di pasung, cambuk, di cap menggunakan besi panas, dan masih banyak lainnya.
”Pangeran Richard, tidakkah ini terlalu berlebihan dalam menyiksa orang?” kata Ludius setengah berbisik sambil terus melangkah mennyusuri ruangan.
”Tuan Lu. Apakah anda sedang mengolok – olokku? Semua ini memang hukum yang di terapkan dalam Kerajaan kami. Aku sendiri cukup miris dengan keadaan ini. Tapi aku tidak memiliki kedudukan untuk melakukan revolusi itu”. Balas Pangeran Richard tidak kalah lirihnya.
”Aaarggghhh, ampun Tuan. Ampuni aku” seru salah satu tahanan saat dirinya sedang menerima siksaan di cap menggunakan besi panas.
Banyak orang yang sedang di siksa memperhatikan kedatangan Ludius dan Pangeran Richard. beberapa dari mereka berseru untuk mrminta kebebasan pada kedua pria tersebut.