Chapter 445 - 445. Pemeriksaan Kondisi Sementara (1/2)
Dokter Martin dengan membawa alat medis segera menuju kamar yang di tempati Silvia di antar oleh Bibi Yun. Begitu sampai kamar, Dokter Martin sudah melihat kondisi Silvia dalam keadaan setengah sadar dengan keringat yang mengucur deras dari balik pelipisnya.
”Nak, bersabarlah.. Bibi Yun sedang memanggil Dokter untuk memeriksa kondisimu”. Ibu Yuliana duduk di atas ranjang menemani putrinya yang sedang menahan sakit.
Dari arah pintu kamar, Dokter Martin masuk ”Permisi Nyonya besar, izinkan saya memeriksa kondisi Nyonya muda.” Sapa Dokter Martin pada Ibu Yuliana yang masih duduk di samping Silvia.
Ibu Yuliana menoleh ke arah samping, disana sudah ada Dokter Martin yang membawa tas berisi alat medis. Meski Ibu Yuliana masih meragukan Dokter Martin dari pertama kali melihatnya, namun saat ini pikiran negatif tersebut lenyap seketika di gantikan dengan ke khawatiran nya pada kondisi Silvia.
”Silahkan periksa kondisi Silvia, akhir – akhir ini dia sering sekali mengeluhkan hal yang sama.” Ibu Yuliana beranjak dari tempat duduknya, mempersilahkan Dokter Martin untuk memeriksa.
Dokter Martin dengan cekatan menaruh tas medisnya di meja dan mengambil alat untuk mengecek tekanan darah. Sembari menunggu Dokter Martin yang sedang mengecek kondisi Silvia, Ibu Yuliana mendapat panggilan masuk dari ponselnya.
Bzzt.. Bzzt..
Suara dering telepon dari ponsel Ibu Yuliana yang berada di saku. Ibu Yuliana keluar dari kamar, dan sebelum itu menghampiri Bibi Yun dan membisikkan sesuatu. ”Bibi Yun, terus awasi Dokter Martin selama dia berada di sini. Jangan sampai kehilangan jejak meski sejenak!”. Perintah Ibu Yuliana dengan setengah berbisik dan di balas dengan anggukan oleh Bibi Yun.
”Saya akan menjaga Nyonya muda dengan sebaik mungkin, Nyonya besar tidak perlu khawatir..”
”Kalau begitu aku serahkan hal ini padamu, Bi..” Ibu Yuliana memegang kedua tangan Bibi Yun, menyerahkan semua urusan Dokter Martin padanya di lanjut dengan keluar dari kamar putrinya menuju ruang kerja untuk menerima panggilan masuk yang belum sempat terangkat.
Di ruang kerja, Ibu Yuliana mengambil ponselnya. Terlihat jelas tertera nama Ludius di layar ponsel, membuat Ibu Yuliana mengeryitkan keningnya. 'Ada apa nak Ludius menelfon kembali?'. Batin Ibu Yuliana.
[”Selamat Pagi Bu..”] sapa Ludius di ujung telefon.
[”Pagi Nak Ludius, ada apa sepagi ini sudah menghubungi Ibu? Bukannya nak Ludius baru saja menelfon Silvia. Apa ada berita penting dari Kerajaan?”] pertanyaan Ibu Yuliana memang sederhana, tapi jelas sekali di dalamnya mengandung banyak sekali pertanyaan yang tersimpan.
[”Sejauh ini belum ada Bu. Saya sedang mencari tahu tentang masa lalu Ibu Suri (Permaisuri Raja Terdahulu). Hanya saja, karena konferensi pers yang terjadi kemarin mengundang banyak perhatian publik, dan membuat Zain mengambil keputusan salah dengan melibatkan Putri Emilia sehingga dia terpaksa di masukkan ke dalam penjara bawah tanah”] Suara Ludius terdengar berat saat menyampaikan hal ini, mungkin ia juga sadar bahwa keadaan seperti ini akan membawa dampak buruk bagi semuanya, terutama Silvia.
[”Apa! Lalu bagaimana kondisi Zain saat ini? apakah dia baik – baik saja?”] tanya Ibu Yuliana dengan cemas.
[”Keadaannya saat ini baik – baik saja, dan saya sedang mencari cara untuk membebaskannya dari penjara sembari menemukan kebenaran dari kasus Ibu Suri 40 tahun silam. Karena kasus ini sudah cukup lama, kemungkinan akan sulit untuk mengungkapnya. Tapi saya berjanji pada Ibu akan mengungkap hal ini demi keamanan Silvia di masa mendatang”].