Chapter 418 - 418. Agresifmu Putri Emilia (1/2)
Karena Putri Emilia tidak menerima perlakuan dari Zain yang memperlakukannya seperti orang lain. Dengan sengaja Emilia mendorong dirinya sendiri ke dalam pelukan Zain dan mencuri ciuman Zain dengan segenap hati.
Zain membelalakkan matanya mendapat serangan mendadak dari Putri Emilia, ia tidak menyangka bahwa Emilia adalah wanita yang cukup agresif hingga punya pemikiran untuk mengawali menciumnya.
Karena sudah terlanjur, Zain mengambil alih posisi mereka. Ia menarik pinggang Emilia hingga kini Zain yang mendominasi dalam ciuman mereka. Dengan liarnya Zain menyesap dan melumat bibir manis Emilia, terasa seperti permen rasa pepertmint, begitu manis dan segar. Tidak hanya itu, ia juga melanjutkan dengan menjelajah lebih dalam dan mengulum lidah Emilia dan menari indah di sana.
Napas Emilia mulai tersengal, ciuman mereka rupanya cukup lama dan mengurap habis oksigen yang Emilia hirup. Perlahan Zain melepas tautan ciuman mereka hingga tercetak benang saliva di antara keduanya.
Wajah Putri Emilia langsung memerah, ia mengaliihkan pandangannya malu. Ingin sekali berkata namun bibir ini tak sampai. 'Arrgh.. apa yang sudah ku lakukan?! Bagaimana bisa aku mengambil inisiatif mencium Zain terlebih dahulu hanya karena dia menganggapku seperti orang lain. Aku sungguh malu, sekarang apa yang harus aku lakukan coba..' batin Putri Emilia berteriak se kencang – kencangnya.
”Ada apa Putri Emilia, mengapa kau mengalihkan pandanganmu? Apa kau sedang merasa malu dengan ciuman yang baru saja kita lakukan?”, tanya Zain tanpa rasa malu pada seorang Emilia yang identitasnya saat ini adalah seorang Putri.
Emilia mengusap kasar bibirnya dan membalas balik tatapan serta pertanyaan yang Zain lontarkan. ”Siapa yang malu! Jika aku malu, tidak mungkin aku memiliki inisiatif untuk menciummu Zain. Dengan begini kau tidak perlu lagi berpura – pura tidak mengenalku, bukan?!”.
”Tentu, wanita yang selalu ku kenal adalah Emilia yang selalu berbuat nakal dan onar demi mencari perhatian dari Zain Malik..” Ujar Zain dengan senyum manisnya.
Emilia melepas pelukan Zain yang masih melekat di pingganya. Ia datang sebenarnya ingin memberi tahu bahwa ini sudah waktunya ia kembali ke Kerajaan Hardland. Tapi sepertinya sangat sulit bagi Emilia untuk mengatakannya, bahkan hanya membuka mulutnya saja Emilia tidak bisa.
”Mengapa diam! Apakah mendapat ciuman dariku membuatmu menjadi bodoh, Putri Emilia Keirl Hamilton?”, tanya Zain dengan kedipan nakalnya.
Bayangkan, Zain yang selalu bersikap kaku berani bertingkah nakal di depan Putri Emilia. Ia bahkan tidak segan untuk mencuri balik ciuman Putri dari Kerajaan Hardland.
”Dasar tidak tahu malu! Ingat. Aku adalah orang yang telah mencuri ciuman mu barusan!”. Kekeuh Emilia.
Zain memperhatikan wajah cantik Putri Emilia dengan seksama. Ia memegang dagu Emilia yang runcing dengan melihat ke bagian bibir merah ranum wanitanya. ”Katakan, sejak kapan Putri Emilia Keirl Hamilton menjadi wanita yang agresif terhadap pria? Apakah kamu sudah tidak sabar untuk melakukannya, Putri?!”. Goda Zain. Ia ingin melihat seberapa jauh Emilia berani bertindak dengan ke agresifannya.
Emilia tersenyum licik, ia menarik dasi panjang Zain dan mendekatkan wajah Zain padanya. ”Hei Tuan Zain.. bukankah kamu lebih tau seberapa tidak sabarannya Putri Emilia ini menahan kesabarannya?!”. Balas Emilia sarkas. Ia memandang Zain dengan kedua bola matanya yang cantik, warna mata yang coklat berpadu dengan lirikan tajamnya, membuat Emilia berhassil menarik hati Zain meski hanya sekejap.
.”Baik, kita hentikan hal ini Emilia. Aku mengaku kalah.” Kata Zain sambil mengangkat tangannya, ”Sekarang katakan, apa yang membawamu kemari, apakahada urusan penting?!”. Tanya Zain pura – pura tidak tahu, atau dia memang tidak ingin tahu kalau Emilia akan pergi.