Chapter 351 - 351. Tamu dari kalangan Bangsawan bag3. Tidak ada pilihan lain, selain mendengarkan apa kata Romo (1/2)

Sejenak Nadia terdiam, hatinya bimbang memikirkan apa yang harus di katakannya pada Romonya. Nadia terdiam dengan terus menunduk, sesekali ia melirik kearah kakaknya Pangeran Chakra dan Wangchu yang duduk di sampingnya.

Pangeran Chakra sendiri yang menyadari lirikan Nadia sedikit bimbang, apa yang harus di lakukan. ”Begini Romo, maaf menyela.. sepertinya anda terlalu cepat menanyakan ini pada Nadia. Dia baru saja kembali dari China, jadi biarkan dia mengenal Nak Mahendra terlebih dahulu, baru Romo menanyakannya kembali pada Nadia.”

”Baiklah jika begitu, Nadia kau boleh kembali.” Kata sang Romo pada Nadia yang diam membisu.

”Terima kasih Romo..” jawab Nadia lirih, ia langsung meninggalkan ruang tamu dengan tangan terus menangkup di dadanya.

”Nak Mahendra.. ” panggil sang Romo, ia menepuk pundak Mahendra. ”Maafkan Romo yang tidak tahu bagaimana anak muda jaman sekarang saling mengenal. Tapi syukurlah kalau kalian bisa saling dekat satu sama lain.” Lanjut Romo memberi tahu dengan senyum bangganya.

”Jangan terlalu di pikirkan Romo, saya akan sebaik mungkin menarik hati Putri Nadia agar bisa menerima saya nantinya.” Balas Mahendra lirikan tajam ia tunjukkan pada Wangchu.

'Brengsek! Apa dia sedang memperingatkan ku, kalau posisinya saat ini benar-benar kuat karena dukungan Ayah Nadia?.' Batin Wangchu geram begitu melihat lirikan Mahendra yang terlihat begitu licik.

-

1 jam telah berlalu dengan pembicaraan para orang tua, Wangchu yang sedari tadi duduk disana hanya bisa mendengar tanpa bisa mengerti apa yang mereka katakan. Pasalnya mereka kadang berbicara tidak menggunakan bahasa Indonesia. Kalau bahasa Indonesia, Wangchu sedikit-sedikit bisa memahaminya sejak tinggal lama di Indonesia.

Akhirnya  para panatua dan Mahendra berpamitan pada Ibu Yuliana dan menitipkan Nadia pada Ibu Yuliana yang mendengar bahwa Ibu Yuliana juga akan pergi ke China. Kini tinggal Nadia, Wangchu dan Pangeran Chakra yang masih berada di ruang tamu. Sedangkan Ibu Yuliana sendiri sedang berada di dalam membiarkan para anak muda untuk saling berbicara.

”Nadia, Mas ingin berbicara denganmu..” katanya dengan tegas pada Nadia yang sejak tadi diam hingga saat ini mereka duduk bersama.

”Ada hal apa yang membuat Mas Chakra ingin berbicara dengan Nadia?.” Tanya Nadia balik dengan suara lirih.

”Bagaimana pendapatmu mengenai Mahendra? Apakah kamu mengetahui sesuatu tentangnya?.” Tanya Pangeran Chakra dengan mimik serius.

Nadia yang sedari tadi menundukkan wajah, langsung mengangkat wajahnya sambil menatap tajam pada Wangchu yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka. 'Wangchu, apa semua ini ulahmu?.'

”Apa yang Mas Chakra maksud? Nadia tidak paham dengan apa yang Mas Chakra tanyakan..”

”Kau yakiin tidak ingin mengatakan apapun mengenai Mahendra, Nadia? Tidakkah kau ingin mengatakan isi hatimu pada Mas?,” ucap Pangeran Chakra memancing adiknya untuk berkata jujur padanya.

Nadia melirik Wangchu kembali. 'Wangchu, apa saja yang telah kau katakan pada Mas Chakra, hingga membuatnya menanyakan hal ini?. Tidakkah kau berfikir telah menambah bebanku seratus kali lipat?' batin Nadia, ia tidak bisa mengatakannya meski ia ingin.

Wangchu yang mendapat lirikan Nadia dua kali akhirnya memilih angkat bicara. ”Pangeran Chakra, boleh aku mengatakan sesuatu..” sela Wangchu.