Chapter 117 - 117. Petikan Gitar yang mengusik hati bag 2 (1/2)
Pria tanpa nama menghentikan Petikan gitar dan lirik yang sedang di nyanyikannya. ”Jaga dia baik-baik ”. Kata pria itu lirih. Dia membiarkan Ludius pergi membawa Silvia dan hanya melihat kepergian Silvia dari dalam rumah.
Tanpa Ludius sadari, Silvia meneteskan air mata saat keadaannya masih dalam keadaan pingsan.
”Tak pernah ku ragu dan selalu ku ingat..
Berlinang matamu dan sentuhan hangat..
Ku.. Saat itu takut mencari makna..
Tumbuhkan rasa yang sesakkan dada..
Kau datang dan pergi oh.. Begitu saja..
Semua kuterima apa adanya..
Mata terpejam dan hati menggumam..
Diruang rindu kita bertemu.. ”.
Dalam perjalanan tidak sengaja Ludius memperhatikan Silvia. Dia baru menyadari wajah Silvia basah oleh air mata.
”Apa arti pria itu dalam hidupmu Sayang?. Mengapa kamu sampai meneteskan air mata bahkan dalam keadaanmu yang sedang tidak sadar? ”.
Perhatian Ludius sempat teralihkan hingga hampir saja dia menabrak pembatas jalan. Dengan cepat Ludius membanting stir dan mengerem mobil secara mendadak.
Ludius yang melihat Silvia masih belum terbangun memeluknya. Perasaan Ludius terasa seperti tersayat melihat Silvia menangis dalam diamnya.
”Mengapa begitu sakit melihatmu seperti ini?. Ini bahkan lebih menyakitkan dari sebuah luka yang selama ini aku rasakan. Baru kali ini aku melihatmu menangis bahkan dalam kondisi tidak sadar. Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian sebelum ini?”. Ludius membelai wajah Silvia, dia menyeka air mata Silvia dengan ujung jemarinya. ”Sayang, aku baru menyadari satu hal, ternyata aku masih belum bisa membuatmu bahagia. Aku baru mengerti bagaimana kamu menahan perasaan terluka setiap kali melihat wanita masalalu datang padaku. Maafkan aku.. Kamu pasti cukup menderita saat hidup bersamaku. Maafkan aku.. ”. Perasaan terluka Ludius berubah menjadi sebuah rasa bersalah.
Tanpa terasa satu bulir air mata Ludius jatuh membasahi wajah Silvia dan membangunkannya dari pinsannya. Perlahan Silvia membuka kelopak matanya, dan melihat wajah Ludius tepat didepan matanya. Silvia menyadari air mata Ludius lah yang membangunkannya dari pingsan.
”Ludius, mengapa kamu meneteskan air mata?. Apa tanpa sadar aku telah melakukan sesuatu yang melukaimu? ”. Tanya Silvia lirih. Rupanya Silvia belum menyadari dirinya telah di bawa seseorang yang membuatnya meneteskan air mata.
”Aku hanya mengkhawatirkanmu, kamu tiba-tiba pingsan di Restaurant. Sayang apa selama ini aku telah membuatmu menderita? ”. Tanya Ludius tiba-tiba,
”Mengapa kamu berbicara seperti itu? Apa ada sesuatu yang mengusikmu tanpa aku tahu?. Ludius, Aku tidak tahu apa yang menyebabkanmu berkata seperti itu. Aku adalah istrimu itulah kenyataannya, yang berarti aku siap menanggung apapun bersamamu. Jika aku melakukan hal yang salah tanpa aku sadari, kamu bisa mengatakannya padaku”. Mata Silvia memandang Ludius lembut, dia membalas pelukan Ludius.
Lama mereka terdiam dalam pelukan yang mendalam. Tidak ada kata romantis atau suatu yang mewah, tapi setiap kali mereka bersama selalu ada keromantisan yang sulit untuk di jabarkan.
”Sudah lama aku merindukan pelukanmu dalam ketenangan . Biarlah seperti ini untuk sementara waktu ”.
Drrrt.. Drrrt..
Tiba-tiba ponsel Ludius berdering, Silvia melepas pelukannya dan memberi isyarat untuk mengangkat telefonnya. Terlihat kontak Longshang yang menelfon.