Chapter 38 - 38. Pada Akhirnya Aku Hanyalah Bagian dari Permainan dalam hidupmu! (1/2)
Melihat Silvia yang cuek dan marah, Ludius langsung menelfon suster yang berada di rumah untuk datang ke Mall DX segera.
”Sayang.. udah ya, jangan ngambek lagi.. Aku sudah meminta Suster untuk datang kemari. *mendekatkan wajahnya kearah Silvia* Jadi.. senyum sayang..” Ucapnya dengan nada merayu.
Ludius memandang Silvia dengan Sungguh-sungguh membuat hati Silvia menjadi berdebar.
A tidak benar-benar jatuh cinta padanya kan? Ya Tuhan.. ada apa sebenarnya dengan hatiku??
Silvia terus menyangkal perasaannya yang Jelas-jelas telah menaruh hati pada Ludius. Dadanya terus berdebar tidak menentu.
Di Saat mereka saling diam, Tiba-tiba suster datang membangunkan mereka dari lamunan. ”Tuan.. ada apa Tuan memanggil saya?!”. tanyanya tanpa rasa bersalah.
Mendengar ada suara orang disamping mereka membuat mereka terbangun dari lamunan.
'Suster Sialan.. apa dia tidak tahu sopan santun..!! berani sekali dia berbicara saat aku sedang memandang Silvia. Hampir saja aku tahu apa yang ada dalam pikirannya'. Ludius mendengus kesal.
”Suster Yao Rui terima kasih kamu sudah datang kemari. Mari bantu saya ke kamar mandi”. Demi melepas Suster yang tidak bersalah dari amukan Ludius, Silvia memberi alasan ke kamar mandi.
Saat Silvia di kamar mandi, Ludius sengaja memilih beberapa pakaian dan gaun untuk diberikan kepada Silvia sebagai kejutan. Ludius juga berjalan ke arah toko perhiasan, Dia melihat kalung Diamond dengan model simple tapi elegan.
Cincin yang sangat indah.. Cincin ini pasti cocok untuk Silvia.
”Ambilkan cincin Diamond itu..!!” Perkataan Ludius masih sedingin es. Pegawai tokoh mas mengambilkan dan memberikannya pada Ludius dengan perasaan takut.
Di saat yang bersamaan, terdengar suara wanita memanggil dari kejauhan. ”Ludius…!!!” Ucapnya dengan lantang dengan wajah merah menyala-nyala.
”Xiang Zhu.. kebetulan sekali kamu kemari. Apa kamu kekurangan dana karena telah putus kontak dariku?”. Ludius berkata tanpa basa basi, Terlihat Xiang Zhu dibuat kesal oleh Ludius
”Ludius.. Apa Kualitas seleramu benar-benar telah turun karena memilih untuk merawat wanita cacat sepertinya?. Kamu menelantarkan banyak gadis kelas atas hanya untuk itu?!” Perkataan Xiang Zhu kali ini benar-benar telah membuat Ludius naik darah. Dia menunjukkan sisi gelapnya dengan memandang Xiang Zhu penuh dengan tekanan.
”Kalian para wanita murahan, Tahu apa tentang kualitas…! Jangan pernah berkata omong kosong di depanku..! Aku masih menunjukkan kebaikanku dengan melepasmu Xiang Zhu. Jangan sampai kau membuat kesabaranku habis dan membuatmu menyesali seumur hidupmu..” Ludius berkata penuh penekanan, dia masih menahan amarahnya mengingat dia sedang pergi dengan Silvia.
”Oh.. Lalu aku harus menyebutmu apa Tuan Lu..? Seorang Pria demi memenangkan taruhan untuk mendapatkan Seorang gadis, Dia mengatasnamakan Cinta bahkan rela berpura-pura tunangan dengannya. Apa kamu tidak sama kejam nya dengan Pria brengsek lain Tuan Lu..!”. Ludius membelalak kan matanya mendengar ucapan Xiang Zhu barusan.
”Telingamu cukup lebar juga Xiang Zhu, Mampu mendengar hal yang seperti itu. Kalau memang aku membuat taruhan dengan para pria untuk mendapatkan seorang gadis, Lalu kau mau apa?!”. Ucapan Ludius yang terang-terangan di depan Xiang Zhu, tanpa dia sadari Silvia mendengar semuanya.
Tanpa Ludius sadari Silvia ternyata telah kembali, dari jarak yang tidak terlalu jauh dia mendengar semua percakapan mereka. Silvia terdiam tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya mendengar apa yang telah Ludius katakan.
”Ludius.. Kau yakin calon istrimu yang cacat itu tidak mendengar apa yang telah kau katakan?”
”Nona Silvia.. Kemarilah..!” Panggil Xiang Zhu dan melambaikan tangan, Ludius yang mendengar Xiang Zhu menyebut nama Silvia, Dia langsung membalikkan badan. Dia melihat Silvia memandangnya dengan ekspresi dingin.
”Sayang.. sejak kapan kamu disitu? Apakah kamu mendengar semua percakapan kami?” Tanya Ludius khawatir, Dia menghampiri Silvia yang terus terdiam.
”Sudah cukup Tuan Lu, Aku telah mendengar semuanya. Dan kamu tidak perlu menjelaskannya lagi, karena semuanya sudah jelas..” Ucap Silvia lirih. Dia Memalingkan wajahnya dari pandangan Ludius.
Ludius, aku tidak menyangka.. Sikapmu, Perkataanmu, itu hanya untuk sebuah taruhan. Sudah cukup aku dipermainkan seperti ini. Tuhan.. aku mohon, untuk kali ini saja. Biarkan aku menggerakkan tanganku, aku benar-benar ingin pergi dari sini.