Chapter 215 Dimaafkan? (1/2)

Ketika kau tidak tahu kemana sopir di

sampingmu akan membawamu, percayalah, sebuah perjalanan akan dua kali lipat

menegangkan. Daripada saat kau sudah tahu tujuan perjalananmu. Dan itu di

rasakan Aran saat ini. Dengan rasa cemas yang naik dua kali lipat daripada saat

dia baru menaiki mobil tadi. Ditambah kebisuan yang di ciptakan orang di

belakang kemudi. Membuat siapapun yang ada di kursi penumpang jantungnya

berdegup dua kali lebih kencang.

Aku mau dibawa kemana ini? Hah!

Inikan bukan jalan menuju rumah tuan Saga.

Aran melihat jalanan gelap di luar

jendela, pepohonan ataupun rumah bergerak dengan cepat. Menandakan kecepatan pengemudi membawa mobilnya.  Walaupun gelap, Aran bisa mengenali jalanan

menuju rumah utama milik tuan Saga. Dan saat ini mobil melaju ke arah yang berlawanan. Dia

menciut di tempat duduknya. Melonggarkan sabuk pengaman. Bergerak kesana kemari

dengan cemas.

Apa dia mau meninggalkanku di dalam

kegelapan? Tapi, akukan bahkan belum mengutarakan isi hatiku. Suasana hatinya

benar-benar berubah karena kedatangan dokter Harun tadi. Aaaaa, tolong Tuhan,

kenapa dokter itu harus muncul di saat terpenting hidupku si.

Sudah bicaranya tidak jelas begitu lagi.

Walaupun cemas tapi masih sempat menyalahkan

dokter Harun. Kalau laki-laki itu tidak muncul tadi masalahnya dengan Han pasti

sudah beres. Hasilnya apapun akan dia terima dengan lapang dada. Kalau dia di

maafkan atau harus menutup pintu hatinya rapat. Itu tidak masalah, seiring

berjalannya waktu semua gejolak rasa yang ada di hatinya pasti akan sirna.

Begitukan seharusnyakan, kalau dia belajar dari karakter novel yang dengan apik

dia ciptakan. Aran memang mahir dalam teori cinta, tapi minim pengalaman

menjalaninya.

Rem mobil berdecit pelan, mobil berhenti.

Han tidak mematikan mesin mobil, dia menghidupkan lampu sorot. Cahaya terang jatuh sampai beberapa radius di depan sana. Lalu dia keluar dari

mobil. Masih tanpa bicara sepatah katapun.  Sementara Aran belum berani melepas sabuk pengamannya, dia sedang membaca

situasi dan lokasi keberadaannya.

Danau? Hah! Dia tidak mau

membuangkukan!

Aran mundur saat kaca mobilnya

diketuk keras. “ Turun!” begitu perintah laki-laki di luar sana, lalu dia

berjalan ke depan mobil bersandar sambil menatap gelapnya air danau yang tersorot lampu mobil. Berkelip-kelip. Aran melihat punggung lebar itu. Ragu untuk membuka pintu.

Aku takut! Kenapa dia membawaku ke

sini si, inikan sepi sekali. Kalau sampai terjadi apa-apa padaku teriakpun

pasti tidak akan ada gunanya.

Han terlihat menjatuhkan tubuhnya.

Membuat Aran terlonjak ditempat duduknya. Dia berbaring di atas di atas mobil,

lalu mengetuk kaca mobil keras. Membuat Aran mau tidak mau keluar. Angin malam

berhembus, menembus baju yang dia kenakan. Dia mengepalkan tangan mengusir hawa

dingin yang langsung menyergap.

Dingin!

“ Kau pernah melihatku ke sini

juga?” Setelah Aran ikut duduk di sampingnya. Gadis itu mendekap kedua

lengannya dengan tangan. Menangkal dinginnya udara yang tidak bisa dia abaikan. Dia memang benci udara dingin. Ntah karena kulitnya yang tipis atau apa, tapi Aran sering kali kedingingan walaupun orang-orang di sekitarnya merasa biasa saja. Contohnya malam ini, Han terlihat sangat menikmati udara malam. Lalu, mata Aran berkeliling melihat lokasinya sekarang berada. Merasa mengenali sesuatu yang tidak asing. Menangkap ingatan di masa lalu.

Eh, benar. inikan Danau pinggiran

kota, aku pernah mengikutinya dua kali ke tempat ini.

“ Maaf.” Tidak mau menyangkal

apa-apa lagi. Apapun yang sekertaris Han tanyakan akan di jawabnya dengan

jujur. Dia ingin semua masalahnya selesai hari ini.

“ Berapa kali?” Han bertanya lagi.

Bagaimana ini?

“ Berapa kali?” ulangnya geram

karena Aran hanya diam.

“ Dua kali tuan.” Menjawab terbata,

sambil mengeser tempatnya duduk.

“ Hebat sekali kau ya.” Terdengar

Han mendesah. Tapi tidak bicara apa-apa lagi.