Chapter 137 Ibu (Part 1) (1/2)
Rumah utama memulai kehidupannya
kembali. Udara segar mulai masuk melalui ventilasi dan menganti suasana. Cuaca yang hangat dan sejuk karena angin pagi yang juga berhembus, membuat setiap orang bersemangat memulai hari.
“ Sayang, pasti akan menyenangkan
kalau bulan madu kita seperti bulan madu kebanyaakaan orang. Kita seharian
bermain di luar.” Mendengar rengekan itu berulang Saga mendorong tubuh Daniah
menempel di tembok. Pintu yang sudah terbuka handlenya dia lepaskan. Membuat pintu tidak terbuka lepar ataupun tertutup rapat.
“ Bicara sekali lagi tentang tema
bulan madu rakyat jelata kugigit bibirmu ya!” tangannya sudah meraih dagu
Daniah, seperti benar-benar akan melakukan apa yang ia katakan. Membuat gadis
itu mendapat serangan panik.
“ Ia, ia, aku tidak akan
mengatakannya lagi.” Tertawa, sambil berusaha melepaskan tangan suaminya dari
dagunya. Berhasil, tangan itu terlepas. Muah, muah, muah. Tiga kecupan disusul
tawa renyahnya, berusaha mencairkan situasi yang mulai agak menghangat. “Tema apapun pasti menyenangkan kalau bersamamu.” Katanya
sambil mengedipkan mata. Mengoda lagi.
Saga tergelak. “ Wahhh, sudah
berani main cium-cium ya.” Mengusap bibirnya sendiri sehabis mendapat kecupan
Daniah. Daniah malah tertawa, membuat Saga frustasi dengan keimutan istrinya. Menurut Saga yang sudah dibutakan cinta ya. sekarang semua ekspresi yang muncul di wajah Daniah selalu dia terjemahkan dengan bahasanya sendiri, yang terkadang seenaknya itu.
Mengemaskan sekali istriku ini.
Dengan telunjuknya Saga mendorong
tubuh Daniah, sampai menempel di tembok lagi. Jegrek, suara keras pintu
tertutup.
“ Sayang, kamu mau apa?” panik, karena Saga semakin maju kedepan
menyudutkan dirinya.
“ Mengigit bibirmu.” Masih bicara
santai, dengan seringai nakal muncul. “ Aku mau membalas kecupanmu tadi.”
“ Apa! aku kan.” Mulut Daniah
terkunci sudah tidak bisa bicara apa-apa, saat bibir Saga sudah menempel lekat di bibirnya, dan dia mengikuti kemauan Saga.
Aaaaaaa, kenapa aku iseng
menggangunya pagi-pagi begini si.
Cukup lama sampai akhirnya pintu
kamar terbuka.
Pagi hari yang cerah, suasana
hangat yang mulai berangsur mengantikan suasana dingin rumah megah ini. Rumah utama mulai menjelma menjadi
hunian nyaman bagi semua yang ada di dalamnya. Tanpa terkecuali. Mungkin sudut
bibir ibu mertua masih terlihat kurang nyaman melihat menantunya. Namun ia
berusaha menutupi itu dengan hanya melihat senyum anak lelakinya. Dia berusaha
mengalah ketika melihat kebahagiaan di mata putranya.
“ Kakak ipar selamat pagi!” Jen
memang sudah memperlakukan Daniah dengan baik, tapi semenjak tahu kebenaran
status Daniah dan Raksa, ntah kenapa sikapnya jauh lebih baik lagi. Suka
bermanja-manja dan bertingkah seperti bocah imut yang membutuhkan kasih sayang
kakak perempuan. Saga yang berjalan di samping Daniah sudah mengusir Jen dengan
tangannya. Jangan mendekat begitu perintah tuan muda melalui sorot matanya.
“ Kenapa belum berangkat? Apa kau
tidak terlambat?” Saga menepis tangan Jen yang mau melingkar di lengan kakak
iparnya. Membuat gadis itu mendengus lalu berjalan di samping Saga menuju meja
makan.
“ Hari ini aku akan pergi ke kantor
cabang, jadi agak siangan berangkatnya. Sudah lama kan aku gak sarapan dengan
kak Saga dan kakak ipar.” Melirik kakak iparnya di balik punggung Saga. Daniah hanya mengedipkan mata sambil tertawa tanpa suara.
“ Sudah kubilang kejar Raksa dengan sportif, jangan merengek pada kakak
ipar mu. Lupa yang ku katakan, ku beri waktu kau satu bulan. Kalau tidak
berhasil mengejarnya, lupakan Raksa dan jangan menggangunya. Biarkan dia fokus
belajar bekerja di Antarna.” Ultimatum tegas Saga. “ Kau juga serius belajar di
Antarna, kalau kau hanya main-main kusuruh Han mengirimmu ke luar dari gedung
pusat.”
“ Ia kak, aku akan serius bekerja!” Berteriak keras dengan semangat. Semua
demi kebaikan Jen, gadis itu tahu, hingga ia tidak protes sedikitpun. Bagaimana
kakaknya sudah menyiapkan proses belajarnya sebelum dia di perkenalkan secara resmi ke perusahaan nanti.
“Aku akan membantumu
diam-diam, hehe.” Daniah menyahut di samping Saga. ” Tapi kamu harus usaha sendiri ya, aku tidak akan terlibat terlalu jauh karena ini berhubungan dengan perasaan.”
Dimeja makan ibu Dan Sofia sudah duduk di tempat duduknya. Sofi mendengar apa yang di ucapkan Daniah tadi, lalu dia menyahut dengan kalimat bijak yang baru beberapa detik dia temukan di postingan teman kampusnya.
” Kak Jen, tahu tidak perbuatan mulia apa yang bisa dilakukan anak muda seperti kita.” Bicara dengan penuh kebanggaan setelah sekali lagi melirik hpnya. meyakinkan diri kalau semua kalimat sudah di hafal dengan benar.
Saga menarik kursi Daniah supaya dia duduk, setelahnya dia juga duduk.
” Apa!” Jen menjawab sambil mengeryit kesal. Sofi memang tidak mendukung usahanya mengejar Raksa, karena status Raksa yang sudah punya pacar.
” Perbuatan mulia yang bisa dilakukan oleh orang seperti kita adalah, cukup tidak menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain.” Dia tertawa terbahak menyelesaikan kalimatnya. Daniah menahan senyum demi mendengar kata-kata polos Sofi, sementara Jen yang menatap paling sebal.
” Kurang ajar kamu.” Gumam-gumam pelan tidak mau makiannya di dengar yang lain, sambil mendelik kearah Sofi.
“ Apa! benarkan?” memilih pindah kekursi di samping ibu. Daripada kena pukul pikirnya. Sementara ibu tidak terlalu tertarik. Karena tahu sifat Jen. Dia memang mudah sekali jatuh cinta pada orang yang baik di sekitarnya. Tapi ya itu hatinya masih labil dan mudah sekali goyah. Dia mudah jatuh cinta tapi juga
mudah beralih hatinya
Dan akhirnya mereka menikmati sarapan pagi
dengan tenang setelah Sofi berhenti bicara mengutip beberapa kalimat bijak yang baru ia baca tadi. Sambil menghabiskan sarapan, Saga bicara.
“ Bu beberapa hari lagi aku dan
Daniah akan pergi?” Saga memandang ibunya setelah meletakan gelas jusnya yang
sudah kosong.
Ibu terlihat terkejut, pergi, pergi
kemana? Apa mereka mau pindah rumah begitu yang ada di pikiran ibunya. Lalu ibu refleks menatap Daniah tidak suka. Jen dan Sofi sama terkejutnya menghentikan
makan mereka.
“ Kak Saga mau ke mana?” Bersamaan