Chapter 66 Kejutan Pagi (1/2)
Ada dua wajah kehidupan yang bisa
dilihat di kamar ini. Wajah bahagia, milik laki-laki yang sudah memperdayai wanita
yang dicintainya untuk memohon tidur dengannya. Senyum cerah dan kemenangan,
mengalahkan semua isi bumi. Dan satu wajah penuh rona malu dari wanita yang
bagaimana bisa tidak tahu malunya menyerahkan diri pada laki-laki yang
dibencinya. Laki-laki yang sudah memperlakukannya seperti pembantu. Yang jelas-jelas tidak mencintainya.
Saga benar-benar seperti pengantin
baru yang habis melakukan malam pertama dengan penuh cinta. Ya, mungkin dia
merasakan gairah penuh cinta itu. Tapi tentu saja tidak dengan Daniah. Dilihat dari
sudut manapun wajahnya terlihat sangat letih bercampur malu.
“ Apa ini?” Saga menarik syal bunga
yang melingkar di leher Daniah. Dia terlihat sangat tampan dengan setelan jas
dan dasi warna navy. “ Memang negara ini punya musim dingin?” katanya sambil
mengeryit melihat benda di tangannya.
“ Tidak suamiku.” Menutup wajahnya
dengan tangan. Malu, isi kepalanya tentang pristiwa semalam masih sangat lekat
diingatan.“ Saya hanya ingin memakainya.” Sambil menutupi lehernya. Aib yang
ingin dia sembunyikan dari semua mata orang di rumah ini.
“ Apa ini benar-benar ada di
lemarimu?” Mengangkat syal tinggi di tangannya, melihat dari berbagai arah.
Seperti berkata, bagaimana benda aneh ini bisa ada di lemarimu.
“ Ia, saya menemukannya di dalam
laci.” Bersungguh-sungguh. Tidak mungkin dia memakai pakaiannya sendiri di
hadapan Saga.
“ Cih, selera Han kampungan sekali.
Buang itu!” katanya tegas. “ Mataku sakit melihatnya.”
Siapa juga yang mau memakai benda
aneh itu di musim seperti sekarang. Hiks, kalau bukan karena tanda merah
di leherku ini. Kalau matamu sering sakit, pergi ke dokter sana!
“ Saya mohon suamiku biarkan saya
memakainya hari ini saja.” Sudah mau merebut dari tangan Saga, tapi tentu dia
kalah cepat. Saga mengibaskan tangannya lalu menyimpannya di balik punggungnya.
“ Kenapa? Apa yang mau kamu
sembunyikan.” Saga sudah menempelkan bibirnya di telinga Daniah. Gadis itu
menjerit, tiba-tiba Saga mengigitnya. “ Ini stempel kepemilikan.” Jemari Saga
menyentuh leher Daniah. “ Kenapa wajahmu merah? Sesenang itu ya.”
“ Ti, tidak!” spontan menjawab keras.
Siapa yang senang, toh kamu melakukannya juga
bukan karena menyukaiku, tapi hanya karena menghukumku yang sudah lancang
menyusun rencana untuk mempertemukanmu dengan Helena.
“ Tidak!” Saga melotot. Tidak suka
mendengar jawaban Daniah.
“ Tidak begitu, maksudnya ia saya
senang. Saya senang sekali bisa tidur dengan anda semalam.”
Puas! Puas! Kalau aku bicara
begitu, lihat kamu tersenyum sesenang itu membuatku menderitakan. Puaskan kamu
sekarang.
Saga melemparkan syal yang dia
pegang, lalu menarik tangan Daniah keluar dari kamar. Berjalan beriringan. Pak
Mun sudah berdiri di bawah tangga, menyambut mereka. Dia tersenyum saat melihat
Saga turun dengan mengandeng tangan Daniah.
“ Selamat pagi tuan muda dan nona
muda.” Angukan kepalanya saat kedua orang sudah ada di hadapannya.
“ Pagi pak Mun.” Hanya Daniah yang
menjawab ramah, Saga hanya sedikit mengangukan kepalanya.
Ibu mertua dan dua adik ipar yang
sudah duduk di meja makan ikut berdiri. Wajah mereka penuh tanda tanya, apalagi
kalau bukan melihat tangan Saga yang mengengam tangan Daniah. Bahkan sampai
mereka berada di dekat meja makan.
Apa yang terjadi hari ini, apa akan