Chapter 15 Kedatangan Raksa (1/2)

“ Raksa, ada apa? Sepagi ini sudah

datang? Kamu gak kuliah? Apa terjadi sesuatu?” Daniah memberondong adiknya

dengan pertanyaan. Apalagi adiknya muncul bahkan tanpa pemberitahuan. Dia tidak menelfon atau kirim chat.

“ Aku gak papa kak.”

Raksa menarik tangan Daniah, dia

yang baru mau masuk ke dalam ruko menurut saat adiknya membawanya duduk di kursi taman.

Di depan ruko berjajar ini memang ada taman kecil dan tempat duduk. Pohon

rindang dua batang membuat tempat ini nyaman dipakai duduk istirahat.

“ Kak Niah baik-baik saja?” Tanyanya dengan kuatir.

“ Hei, kenapa? Tentu saja aku

baik-baik saja.” Daniah tersenyum ceria, berusaha menunjukan kalau dia tidak

apa-apa.

“ Dia tidak memukul mu atau

memperlakukan mu dengan buruk kan?” Raksa menyentuh pipi Daniah, memeriksa leher

kakak perempuannya, kalau-kalau ada tanda tindakan kekerasan atau apa. Tidak

ada yang terlihat aneh pikirnya.

“ Aku baik-baik saja, tuan Saga memperlakukan ku dengan baik.”

“ Bohong!” membantah cepat perkataan Daniah.

“ Sungguh jangan kuatirkan aku, aku

akan menjaga diri dengan baik di sana. Aku akan bertahan hidup dengan baik di

neraka sekali pun, jadi jangan kuatir ya. Sudah sarapan belum?” Daniah menepuk

kepala adiknya lembut.

“ Kak Niah belum makan?”

“ Aku hanya sarapan roti isi tadi, mau makan?”

“ Hemm, boleh, aku juga lapar.”

“ Raksa, apa kamu sedang melakukan aksi protes di rumah ya?” Sepertinya tebakan Daniah benar karena Raksa menundukan wajahnya tanda bersalah. Mungkin ini yang bisa dilakukan adiknya

sebagai wujud kasih sayangnya. “ Apa kamu bertengkar dengan ibu mu?”

Raksa menunduk semakin dalam.

“ Jangan seperti itu, ayah ku yang sudah menjual ku, ini tidak ada hubungannya dengan ibu mu.” Walau pun sejujurnya Daniah membenci ibu tirinya, tapi di hadapan Raksa dia tidak pernah menunjukan

kebencian itu.

“ Tapi ibu terlihat sangat bahagia setelah kepergian Kak Niah.”

Aaaa, walaupun aku sudah tahu, kenapa saat mendengar kebenarannya terasa menyakitkan begini. Sudahlah, toh ini sudah terjadi aku sudah menjadi istri atau tepatnya pelayan tuan Raksa. Sebesar

apapun kebencian yang aku tunjukan tidak akan merubah apapun.

Saat pembicaraan mereka masih

mengantung dikebisuan seseorang terlihat mendekat.