Chapter 678 - Pertarungan Antara Makhluk Super (1/2)
Mungkin karena segerombolan ular, Han Sen tidak melihat makhluk lainnya. Hutan Persik tampak hanya ditinggali oleh segerombolan ular.
Di dalam Hutan Persik, Han Sen tidak tahu seberapa jauh dia telah berjalan kini. Yang dia bisa lihat hanyalah ular dan pepohonan. Seiring dia berjalan, raungan beruang semakin dekat dan mendekat.
Dari kejauhan, Han Sen bisa melihat sebagian Hutan Persik porak poranda. Batang pohon yang patah berserakan, ranting-rantingnya berserakan di tanah, dan tanahnya sudah hancur berantakan. Dia naik ke bukit, dan akhirnya melihat si beruang hitam. Dia menjaga pintu masuk gua, dan tubuhnya ternoda oleh darah. Dia meraung ke angkasa. Di hadapannya terdapat gajah bertulang.
Belalai dan gading gajah tulang itu terus memukuli beruang yang berlumuran darah, dan jelas bahwa beruang itu tidak memiliki peluang melawan gajah yang marah itu. Ada banyak luka di tubuhnya, dan darah keluar dari mulutnya. Tetap saja, dia terus menjaga pintu masuk gua dan menjaga gajah itu agar tidak lewat.
”Apakah ada harta karun di dalam gua? Apakah dua makhluk super itu bertarung demi harta karun?” Han Sen mengubah posisinya untuk melihat lebih baik apa yang ada di dalam gua.
Dia melihat ada beruang hitam yang lebih kecil, menjulurkan kepalanya dari mulut gua. Kini Han Sen mengerti alasannya, meskipun kekuatannya lebih lemah, beruang hitam bersikeras menjaga gua - dia melindungi anaknya!
Tubuh gajah bertulah menjadi merah, sementara tubuh beruang hitam menjadi hitam kelam. Dua-duanya kuat dalam hal tenaga, dan pemandangan saat mereka bertarung jika dilihat dari bukit sangatlah mencengangkan. Bebatuan hancur, pepohonan pun tumbang. Serpihan kayu dan dedaunan bercampur dengan tanah, dan tanah berguncang ketika dua raksasa itu beradu.
Beruang hitam itu sangat besar, dan lebih menakutkan dari beruang es. Beruang es memiliki kekuatan es, tetapi beruang hitam memiliki tenaga yang sangat kuat. Bahkan meskipun Han Sen memiliki Jarum Rex Berapi bersamanya, dia meragukan kemampuan untuk menembus kulit makhluk itu.
Sungguh disayangkan bahwa beruang itu harus menghadapi lawan yang jauh lebih kuat dari gajah bertulang. Mereka berdua adalah makhluk super yang menakjubkan, tetapi jika salah satunya lebih lemah dalam suatu hal, kelemahannya akan sangat jelas terlihat dan dimanfaatkan oleh lawannya.
Beruang hitam besar menahan gading yang mengarah padanya. Namun, tenaganya terlalu besar. Beruang itu terdorong ke belakang menempel sisi tebing oleh gajah bertulang, dan tebing itu mulai retak karena tekanannya. Gading itu menembus pertahanan si beruang dan menusuknya. Darah melapisi gading yang menusuk itu.
Pang!
Beruang hitam menendang leher gajah bertulang, membuatnya sedikit terjatuh ke belakang. Tetapi serangan beruang dengan cukup jelas tidak begitu efektif. Luka yang dia dapat tidak bisa diabaikan.
Segerombolan ular telah menghilang, dengan jelas tidak ingin dekat-dekat dengan pertarungan itu. Ular merah muda pun ikut pergi. Han Sen tidak tahu mengapa ular merah muda mengusirnya kemari.
”Dia mengirimku kesini tidak hanya agar aku bisa menikmati pertunjukan, kan?” Han Sen mengernyitkan alis saat memikirkan alasannya.
Tetapi saat dia melihat beruang hitam besar dan anaknya yang berada di dalam gua, matanya pun berbinar. Sudah jelas bahwa beruang hitam tidak bisa menandingi gajah bertulang. Jika dia terus bertarung seperti ini, tinggal menunggu waktu sebelum dia mati. Bagaimana jika ini ternyata adalah kesempatan untuk membunuh dengan mudah lagi?
Jika beruang hitam bisa melahirkan anak, maka sari gen kehidupannya akan sama dengan Singa Emas. Mungkin itu bisa diserap oleh manusia?
Memikirkan hal ini, Han Sen pun bersemangat. Mungkin dewi keberuntungan tersenyum padanya, memberikannya kesempatan untuk menjadi seseorang yang memecahkan rahasia sari gen kehidupan.
Han Sen kemudian memikirkan kapan waktu yang tepat baginya untuk menyerang. Itulah saat ketika dia tiba-tiba mendengar suara di belakangnya. Dengan kaget, dia berbalik dan melihat ular merah muda merayap pada ranting di dekatnya. Dengan berulang kali, dia menjulurkan lidahnya dan mendesis.
Han Sen pun membatu. Dia tidak tahu kapan ular itu mendekat. Dia tidak merasakan kedatangannya sama sekali. Hal itu seharusnya mustahil bagi Han Sen, yang memiliki indra yang sangat hebat.