35 Siapa yang Harus Pergi (1/2)
Bokong Maniak sudah sangat terkenal sehingga ejekan yang melecehkan pun bertubi-tubi terlemparkan padanya. Anak muda yang bermaksud untuk menyewa mereka pun datang menghampirinya, dan salah satu dari mereka yang berpostur kasar dan kurus memandangi Han Sen dengan penasaran dan berkata,” Jadi kamu adalah Bokong Maniak yang legendaris itu?”
”Ya,” jawab Han Sen dengan lugas. Dia tidak menganggapnya adalah hal yang buruk, karena hanya dia satu-satunya orang yang pernah menikam bokong Qin Xuan di dalam Tempat Penampungan Baju Baja. Ini sebenarnya adalah sejenis pencapaian.
Anak muda itu jelas cukup penasaran dengan Han Sen. Dia tiba-tiba berkata, ”Apakah kamu juga ke sini karena pekerjaan itu?”
Han Sen mengangguk: ”Jika kamu tidak menyukai ide itu, saya dapat pergi sekarang.”
”Tidak, jika kamu tidak memiliki pertanyaan, kita dapat menandatangani kontrak sekarang juga,” anak muda itu menimpali dengan cepat.
Kerumunan itu pun menderam ketika mendengar keputusan anak muda itu. Bahkan teman dari anak muda itu tampak terkejut. Mereka menarik anak muda itu di pinggir dan berkata, ”Yuan, dia adalah Bokong Maniak. Apa yang akan kamu lakukan dengannya?”
”Benar, Yuan. Jika kita berada dalam bahaya, dia mungkin akan kabur lebih cepat daripada kita. Buang-buang uang saja.”
”Saya sudah menyewanya, dan kalian dapat memilih yang lain,” anak muda yang bernama Yuan bersikeras dan menandatangani kontrak dengan Han Sen.
Teman-temannya yang lain tidak berkomentar lagi setelah itu dan memilih beberapa kandidat lain yang terlihat berpengalaman. Han Hao menunjukkan senjata jiwa binatang mutan kepada mereka dan terpilih. Dua orang lainnya yang datang Bersama Han Hao menunjukkan beberapa keahliannya dan juga mendapatkan pekerjaan itu.
”Bokong Maniak, kau hanya bernasib baik berkat kebaikan hati dan rasa penasaran dari tuan muda,” Liu Feng, salah satu dari mereka berkata ketika berjalan melewati Han Sen.
”Nasib saya memang selalu bagus,” kata Han Sen dengan bangga.
Para klien telah memilih sepuluh pria yang berpengalaman untuk melindungi mereka dalam perburuan makhluk primitif. Dengan tim sebesar ini, mereka bahkan dapat berburu segerombolan makhluk primitif.
Mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan merasa senang dan mencoba untuk selalu menyanjung klien-klien mereka. Mereka mengetahui dengan jelas latar belakang dari anak-anak muda yang menggajinya.
Klien-klien muda ini sebenarnya memiliki keahlian bertarung yang sangat bagus, dan mereka pastinya adalah lulusan dari sekolah yang mewah. Walaupun mereka baru saja masuk ke Tempat Suci Para Dewa, kebugaran dan keahlian mereka jauh lebih baik daripada Han Sen ketika dia baru saja masuk ke tempat itu. Mereka hanya kekurangan pengalaman berburu.
Ketika para klien sedang berburu makhluk primitif, Han Sen hanya melatih ilmu panahannya di sisi lain. Pada awalnya dia memilih untuk berlatih panahan karena ilmu ini lebih sedikit peminatnya dibandingkan dengan keahlian menggunakan senjata lainnya. Dia tidak mungkin dapat mempelajari teknik bertarung dengan pedang dan pisau tingkat tinggi dalam sistem pendidikan publik, sedangkan satu-satunya hal yang diperlukan dalam panahan adalah ketepatan.
Han Sen masih berusaha untuk mengetahui kinerja dan karakteristik Hari Kiamat, maka dia memilih beberapa pohon di sekelilingnya sebagai sasaran untuk berlatih.
”Bokong Maniak, kamu hanya menghabiskan tempat. Mengapa kamu memanah sia-sia dan tidak mempedulikan klien kita?” Liu Feng merasa bingung dengan kelakuan Han Sen dan memperhatikan panahannya dengan sombong. ”Kamu bahkan tidak dapat memanah sesuatu yang berjarak kurang dari 60 kaki.”