Chapter 301 - Taichi (1/2)
Mereka tak bisa membawa Alisya ke ruang UKS karena tak ingin dokter yang berada disana mengetahui apa yang terjadi pada Alisya terlebih karena tangannya yang terluka terlihat sembuh dengan begitu cepat.
Dari wajahnya, Alisya terlihat gusar dan semakin berkeringat dingin yang membuat Adith terus menggenggam tangan Alisya karena khawatir.
”Lepaskan... lepaskan saya! Toolong!” teriak seorang anak kecil meminta pertolongan.
”Diam!!! kalau kau tak diam juga, aku akan mematahkan lehermu sekarang juga!” bentak seorang pria dengan sangat kasar. Ia memegang pipi Alisya dengan sangat kuat dan membuangnya dengan kasar sehingga anak itu merasakan kebas pada bagian pipinya.
”Paman siapa? apa yang paman ingin lakukan?” anak kecil itu bertanya dengan cepat dan suara yang bergetar.
”Sialan, aku pikir kau adalah seorang laki-laki tidak taunya hanya seorang anak perempuan.” gumamnya dengan kesal langsung menendang perut anak kecil itu dengan kuat.
”ohokkk ohookk!” anak kecil itu langsung terbatuk-batuk karena tendangan tersebut.
”Kau sudah menggagalkan rencana ku. Jadi kau harus menanggung akibatnya.” ucapnya santai sambil berlalu pergi.
”Orang jahat. ohokkk sepertimu akan di tangkap ohokk oleh Ayahku secepatnya.” ucap anak kecil tersebut dengan sangat berani meski tubuhnya sudah sangat kesakitan.
Merasa sangat benci dengan apa yang di katakan oleh anak kecil tersebut, sebuah pukulan langsung mengenai keras di bagian telinganya yang membuat telinga Alisya menjadi sangat sakit.
Alisya terlihat mulai sadarkan diri dengan memegang kedua telinganya yang kemudian terlihat darah segar mengalir jatuh yang membuat Adith bergerak cepat memeluk Alisya yang meronta kesakitan.
Adith dengan cepat membersihkan kedua telinga Alisya dengan kain yang sudah ia gunakan untuk membersihkan luka di tangannya.
”Apa yang terjadi?” tanya Adith kepada Karin yang sedang berusaha menyuntikkan Alisya cairan penenangnya untuk yang kedua kalinya.
”Gudang itu membangkitkan trauma masa kecilnya. Alisya mungkin bermimpi mengenai penculikan dirinya yang secara tak sadar membawa tekanan yang sangat tinggi pada dirinya.” terang Karin terus berusaha menyuntikkan cairan penenangnya.
”Aaahhhhh” teriak Alisya seolah masih merasakan sakit yang teramat dalam. Tepat setelah Karin berhasil, Alisya langsung melompat keluar dari jendela dimana ia sedang berada di lantai 2 markas milik Adith dan yang lainnya.
Alisya melarikan diri bukan karena trauma mentalnya, tetapi ia merasakan kalau energi nanonya akan kembali meledak sehingga dia langsung pergi dari sana untuk tidak membuat Karin dan Adith merasakan ledakan tersebut.
”Alisya, kau mau kemana?” Alisya yang tak menjawab teriakan Karin membuat keduanya dengan cepat berlari kebawah untuk mengikutinya.
Merasa tidak aman jika harus meledakkan energi disekitar sekolah, Alisya langsung mencoba untuk melewati gerbang sekolah yang kebetulan terbuka saat ia mengarah kesana.
”Alisya!” seseorang segera memanggil Alisya begitu melihatnya akan melewati gerbang sekolah.
”Bapak, kenapa bapak berada disini?” tanya Alisya masih mencoba mengendalikan diri namun ia sudah tidak kuat lagi.
Melihat energi Alisya yang kacau, Ayah Alisya dengan cepat melakukan totok pengendalian dengan menyalurkan energi tersebut kembali ke alam dengan mengeluarkan energi Chi pada Alisya untuk menormalkannya, namun itu masih belum cukup.
”Ikut aku!” pinta ayahnya cepat mencari tempat yang baik untuk mereka berdua.
”Bapak, aku sudah..” Alisya tidak bisa menahannya lagi meski sudah mendapatkan pengendalian, energi nano dalam tubuhnya terlalu besar sehingga tubuhnya mulai terasa panas.
”Bernafaslah yang dalam. Keluarkan energi Chi mu dengan memusatkan pikiranmu lalu lakukan gerakan Taichi untuk menyalurkannya bersama dengan Angin.” Ayah Alisya menuntun gerakan Alisya dengan menggunakan gerakan Taichi.