Chapter 256 - Berharap pada. Adith (1/2)

Tanpa menunggu kedatangan teman-temannya, Adith segera masuk kedalam toilet dan langsung merasakan energi hebat yang sangat menekan dan aura membunuh yang sangat kuat. Adith perlahan masuk dan mendapai Alisya dibalik wetafel dengan tubuh yang sudah basah. Alisya sudah membasahi tubuhnya untuk mengembalikan kesadarannya namun energi nano yang terlepas dari tubuhnya masih belum bisa menghilang dan itu sangat membuat Alisya mulai melemas.

”Alisya… Alisya,,, kau baik-baik saja?” Adith dengan cepat memegang wajah Alisya yang suhu tubuhnya begitu dingin dan nafas yang memburu.

”huhhh… hhuuuhh.. huhhh” Alisya tak bisa mengendalikan dirinya dengan baik dan langsung mencekik leher Adith dengan keras dan membantingnya ke lantai. Saat ini energi Alisya yang keluar sudah terlalu banyak yang membuatnya semakin tak sadarkan diri dan penuh akan emosi yang sangat membuncah.

Alisya yang sempat melarikan diri saat tersadar karena teriakan keras dari Adith langsung melarikan diri setelah melihat sekelilingnya tampak tertekan karena energinya. Ia berusaha untuk mengendalikannya namun karena rasa marahnya yang sangat besar, ia tak bisa mengendalikan emosinya dengan baik.

”A… Alisya,, Alisya.. sadarlah…” Adith memegang pipi Alisya dengan lembut dan memandangnya dengan penuh rasa khawatir yang sangat mendalam kepada Alisya.

Kaget Alisya langsung menjauhkan tubuhnya dari Adith dan bersiap ingin melarikan diri, namun Adith dengan sigap menarik tangannya dan memeluknya dengan sangat erat. Alisya yang memberontak ingin lepas malah semakin membuat Adith memeluknya dengan erat dan tak melonggarkan tangannya.

Mendengar bunyi detak jantung Adith seketika saja langsung menyadarkan Alisya secara perlahan-lahan yang kemudian kakinya sedikit demi sedikit melemas tak mampu berdiri dengan baik. Adith mencoba menopang tubuh Alisya masih dalam pelukannya.

”Adith, kenapa kau mendatangi ku lagi? Kau tau aku bisa membunuh mu bukan?” suara Alisya terdengar lemah dan serak dengan nafas yang semakin melemah.

”Tidak, tentu karena aku tau kau takkan pernah membunuhku!” Suara Adith terdengar hangat ditelinga Alisya.

”Tapi tadi aku bahkan mencekik lehermu dengan sangat kuat, aku takkan tau hal apa lagi yang bisa aku lakukan nantinya.” tambah Alisya yang kini keduanya sudah terduduk karena kaki Alisya sudah sepenuhnya tak bisa menopang tubuhnya lagi.

”Maka aku yang akan memastikan kalau hal itu takkan pernah terjadi lagi.” ucap Adith mencoba untuk meyakinkan dan menenangkan Alisya.

Alisya yang sudah basah kuyup dengan tubuh yang semakin menggigil hebat membuat Adith sangat khawatir. Adith kemudian menyandarkan Alisya di dinding toilet.

”Tunggu sebentar disini, aku akan kembali secepatnya.” Adith yang ingin pergi mengambil pakaian dan handuk untuk Alisya langsung dicegat oleh Alisya dengan cepat.

”Tidak, kau jangan kemana-mana. Jika kau pergi aku... aku,,” Alisya merasa sulit untuk mengucapkan kata-katanya karena lidahnya yang mulai kelu.

Adith tak lagi berdiri dan langsung memeluk Alisya dari samping menempatkan tubuh Alisya di dadanya yang dirasakan oleh Alisya begitu hangat dan menenangkan.

Alisya memeluk tubuh Adith dengan erat untuk bisa memberikan sedikit rasa hangat pada tubuhnya yang perlahan-lahan mulai menguapkan es yang sudah membanjirinya. Adith seolah penawar paling ampuh untuk Alisya.

”Apa-apa'an sih... masa kita tidak bisa masuk ke toilet itu.” ucap beberapa ibu-ibu yang lewat dengan kesal.

”Meski kita harus mencari toilet yang lebih jauh lagi, anak-anak muda tampan tadi membangkitkan semangat muda ku!” ucap salah satu dari mereka.

”Benar, sayangnya aku terlalu cepat lahir. Makanya aku jadi nggak ketemu ama mereka.” tambah yang lainnya dengan cekikikannya yang khas dari seorang ibu-ibu.