Chapter 232 - Ini Adalah Perintah (1/2)

Melihat teman-temannya yang sudah menuju masuk kedalam gedung, Alisya dengan segera mengikuti langkah kaki mereka dari belakang namun tiba-tia terhenti karena Adith sudah menahannya dengan menggenggam erat pergelangan tangan Alisya. Tatapan Adith begitu dalam namun penuh emosi, yang dari denyut jantungnya bisa Alisya dengar akan kegusaran dan emosi Adith yang sedang memuncak.

”Kenapa aku tak menyadarinya sebelumnya, detak jantung Adith dipenuhi akan amarah. Entah apa yang sudah membuatnya seperti itu, tidak mungkin hanya karena aku melompat dari atap gedung lantai 5 itu.” Batin Alisya saat melihat ekspresi wajah Adith yang memperlihatkan rahangnya yang mengeras seolah sedang menahan emosi yang sangat tinggi.

Seingat Alisya, Adith cukup tenang saat menghadapi seluruh perlakuan dari Ubay dan teman-temannya. Namun jika itu memang benar, dia seharusnya sudah menghajar mereka habis-habisan bukannya menahan Alisya disana. Alisya masih tak menemukan jawaban dari detakan jantung Adith yang masih terus bergetar penuh amarah dan rahang yang mengeras.

”Ada apa? Apa yang membuatmu marah?” tanya Alisya langsung pada intinya karena wajah Adith masih belum dapat kembali ke mood awal meski Alisya sudah berdiri dihadapannya untuk waktu yang cukup lama.

”Apa kau tak punya sesuatu yang ingin dikatakan padaku?” genggaman tangan Adith semakin mengeras dan kuat dipergelangan tangan Alisya yang membuat Alisya merasakan sakit tanpa alasan yang jelas.

”Katakan jika ada sesuatu yang sedang menganggumu bukan menghakimiku dengan tak jelas seperti ini. Aku tak tau apa yang sedang membuatmu marah saat ini dan genggamanmu terlalu erat ditangaku Dith.” Ucap Alisya mencoba melepas tangan Adith namun ia tak mampu dan tak ingin menggunakan kekuatan berlebih yang dapat mencederai tangan Adith.

Dengan tatapan tajam, Adith langsung menarik Alisya kehadapannya sehingga posisi mereka sangat dekat bahkan sampai Alisya bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Adith yang menerpa lehernya.

”Adith, kamu kenapa sih? Kenapa sikapmu jadi seperti ini? Aku takkan mengerti jika kau tak menjelaskannya padaku!” ucap Alisya sekali lagi berusaha untuk melepaskan diri dari genggaman Adith.

”Apa aku perlu mengingatkan akan apa yang sudah dia dan kau lakukan diatas atap?” tantang Adith dengan tatapannya yang penuh amarah.

Alisya yang masih menerawang dan menyerap semua yang baru saja dikatakan oleh Adith seketika kaget saat Adith langsung menggendongnya dan membawanya kehadapan keran air. Dia mendudukkan Alisya dengan lembut kemudian menyalakan keran dan mengambil tangan kanan Alisya lalu mencucinya dengan lembut hingga menyeluruh.

”Apa ini artinya kau sedang cemburu?” Alisya langsung bertanya dengan menatap wajah Adith lekat-lekat setelah ia paham apa maksud dari kemarahan Adith dengan ia yang mencuci tangannya dengan air. Adith marah karena saat berada di ata gedung lantai 5 sebelumnya, Ubay sempat memegang tangan Alisya yang kemudian dibalas oleh Alisya dengan menggoda dan menantang Ubay.

Mendengar ucapan Alisya, Adith mematikan keran air itu membersihkan telapak tangan Alisya dengan baju kaosnya lalu dengan lembut menatap wajah Alisya. Ia secara perlahan mendekati wajah Alisya yang membuat Alisya harus mencondongkan tubuhnya kebelakang untuk menghindari Adith yang semakin mendekatkan wajahnya kepada Alisya. Jantung Alisya berdebar sangat kencang dan tak menentu karena perlakuan Adith seperti itu.

”Oke-oke,,, a... aku minta maaf.. aaaahhhh” Alisya hampir terjatuh karena sudah tak bisa lagi mempertahankan posisi tubuhnya yang langsung mendapat tangkapan dari Adith. Adith menopang tubuh Alisya dengan tangan kanannya sedang matanya masih terus menatap lurus dan tajam kewajah Alisya lekat-lekat.

”Dengar, kau hanya boleh melihatku, tersenyum padaku, menyentuhku, menggodaku, menagis padaku dan tertawa padaku. Kau adalah milikku dan takkan ku biarkan seorangpun untuk memilikimu.” Adith langsung memajukan wajahnya dengan sedikit memiringkan wajahnya ingin mencium Alisya yang membuat Alisya menutup mata dan tubuhnya bergetar hebat berusaha menjauhi Adith.

”Jangan pernah mengujiku lagi!!!” Tegas Adith mengembalikan posisi Alisya kemudian melepaskan pegangannya pada pinggang Alisya dan meningalkan Alisya disana. Adith masih belum bisa menghilangkan amarahnya yang meletup-letup dihadapan Alisya.