Chapter 208 - Toilet Perempuan (2/2)

Adith tersenyum dengan nakal lalu memajukan tubuhnya untuk berbisik ke telinga Alisya.

”Jika kau memegang dadaku seperti itu, kau bisa membuatku tidak akan mampu mengendalikan diriku lebih lama!” suara Adith yang lembut namun terdengar sedang meledek membuat Alisya sadar dan langsung mendorong dada Adith dari hadapannya.

Adith terdorong kebelakang mengikis lantai menggunakan sepatunya. Beruntunglah dia mampu menjaga keseimbangannya sehingga tak terjatuh. Kekuatan Alisya tampak belum bisa ia kendalikan. Adith cukup terkejut akan kekuatan Alisya saat mendorongnya namun dengan cepat mengatur ekspresinya agar Alisya tak merasa tak nyaman.

”Ah,, maaf... aku tak bermaksud untuk...” Alisya dengan cepat menghampiri Adith untuk meminta maaf.

”Sepertinya kau harus diberi hukuman hari ini.” Adith langsung mengambil tangan Alisya dan menempatkannya ke dinding toilet lalu mengunci kebebasannya untuk bergerak.

Adith dengan cepat memajukan wajahnya mendekati leher Alisya. Alisya tdk tau apa yang harus ia lakukan karena jika dia berontak maka kemungkinan besar ia bisa menyakiti Adith lagi, namun jika ia membiarkan Adith, Alisya tak tahu apa yang akan dilakukannya.

”Adith, sadarlah... apa yang akan kau lakukan?” Alisya berusaha untuk mengingatkan Adith agar tidak bertindak terlalu jauh.

Adith tidak mendengar dan hanya terus mendekatkan diri kepada Alisya dengan seketika yang membuat Alisya bisa merasakan hembusan nafas Adith dilehernya. Tak tahan lagi Alisya langsung memfokuskan dirinya dan dengan sedikit dorongan dia langsung membalikkan Adith.

Posisi mereka berubah dimana Adith kini terpojok di dinding. Menatap wajah Adith yang tampan dan mempesona karena senyumannya, Alisya tak bisa menahan diri lagi dan langsung berlari menuju ke pintu toilet.

Adith lari tepat dibelakang Alisya dan menekan tombol close sehingga Alisya masih belum bisa meloloskan diri. Tidak mau kalah, Alisya berusaha mencoba sekali lagi dan kembali berhasil menekan tombol opennya. Tapi Adiht juga tak memberikan kesempatan untuk Alisya keluar sehingga pintu yang belum sempat terbuka malah tertutup kembali.

”Ku mohon biarkan aku pergi Dith...” Alisya memohon kepada Adith untuk meloloskan dirinya dari sana.

”Tidak, kau masih punya utang untuk menjelaskan padaku apa maksud dari sikapmu itu, jika tidak aku takkan pernah membiarkan kamu keluar dari sini.” tegasnya kepada Alisya yang terus berontak menghindarinya.

”Kenapa kau keras kepala sekali sih?” bentak Alisya dengan kesal kepada Adith. Melihat ada sedikit peluang, Alisya dengan kekuatan penuh langsung menekan kembali tombol open pada pintu toilet yang malah menjadi rusak karena dirinya.

”hhaaahhh?? kenapa? masa iya rusakkk? ucap Alisya dengan kejadian tak terduga itu. Awalnya Adith cukup terkejut akan hal itu, namun kemudian tersenyum penuh kemenangan. Ia menaruh tangannya menghalangi pintu dan bersandar menghadap kearah Alisya.

”Apa yang akan kau lakukan sekarang? sepertinya nasib sedang memihak kepada kita saat ini” Adith tertawa melihat wajah putus asa Alisya yang menatap kosong pada pintu yang sudah terlihat koslet dan memercikkan kembang api.